Aceh Singkil I Realitas – Teriakan histeris dan haru yang mendalam tidak terbendung dari anak-anak, dan Isteri Ganti Marbun Asmidar Br. manulang hingga tidak sadarkan diri jatuh pingsan dalam pelukan Suaminya.
Ganti Marbun (49) sangat bersyukur masih bisa bertemu dengan dua anak dan istrinya.
Setelah terombang-ambing dihantam badai dan gelombang selama 8 hari di laut, kapten speed boat bersama seorang penumpangnya Indra (30) kembali dengan selamat.
Ganti Marbun sudah kembali ke Aceh Singkil dan tiba di kediamannya, Kamis (30/8/2018) tepat pukul 13.50 WIB.
Sementara rekannya Indra karyaean Friska Rsorst sudah langsung berangkat ke Medan Sumut, Rabu (29/8/2018) pagi dari stasiun Padang Sumatera Barat.
Kepulangan Ganti juga disambut penuh haru keluarga dan kerabat.
Sementara istri Ganti, Asmidar sempat jatuh pingsan saat memeluk suaminya usai turun dari Mobil Avanza putih yang membawa Ganti dari kawasan pesisir Pantai Air Bangis Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat Sumatrabarat.
Miswar supir yang membawa Ganti Marbun dari Air Bangis menjemputnya Rabu (29/8/2018) sekira pukul 09.00 WIB.
Namun mereka baru bisa berangkat dari Sumbar, sekira pukul 22.00 WIB setelah melapor ke Pol Airud dan persiapan keberangkatan.
Perjalan jalur darat melewati Simpang Gambir Penyabungan, Sidempuan dan Sibolga menuju Aceh Singkil.
Kepada Realitas Ganti Marbun mengatakan, spit bout ia nakhgodai dengan satu orang temannya Indra Karyawan Friska Resorst dengan berangkat membawa Logistik ke Ujung Lolok Pulau Banyak Barat untuk kepeluan tamu di sana.
Pada saat dalam perjalan tiba-tiba badai dan gelombang setingi 3 meter menghantam Spit bout dan hujan disertai kabut dan kompas yang dipegangnya tercampak, sementara kami melihat didepan kejauhan ada Spit bout kayu dengan arah tujuan yang sama saat itu.
Disaat itu pula Isi tangki minyak habis.
Kemudian saya berusaha menggisi tangki disaat mengisi tangki itu kami hanyut dan tidak tahu Posisi lagi karena diterjang agin Barat daya hingga kami hanyut antara Pulau Nias dam Pulau Musalah dan disitu kami melihat ada kapal Fery dari kejauhan saya kirap-kirap mereka tidak mau datang, katanya.
Pososi mati mesin kami masih ditengah Kuala Baru sejajar dengan Pulau Pinang, logistik yang dibawa tetpaksa kami buang terkeculi Pidang dan tiga buah semangka dan air es batu dalam botol pengawet daging yang kami tinggalkan sebutnya.
Kemudian Selama empat malam temanku Indra menujuk dan bekata udah dekat kali kita kepulau kesana kita Bang, saya bilang mana pulaunya udah tersamun kamu, lalu saya pengang tannya, mama pulaunya oh ya tidak ada ya, pokonya kamu kita disini tenang saja jangan banyak pikiran, nanti kalau ada bayangan kapal kita bedayung pelan-pelan.
Dan makanan pisang satu satu saja minum air jangan sampai kenyang kalau setengah bulan kita dilaut masih bisa bertahan hidup, ucapnya.
sebelum dibawa ke Air Bangis, speed yang di nakhodainya dibantu kapal kecil beaeakan lima orang di Pulau Memong yang berada satu hamparan dengan Pulau Pini Kabupaten Nias Selatan Sumut.
Para nelayan warga Air Bangis yang kebetulan maupung langsung balik ke Air Bangis, menempuh 4 jam perjalanan dengan boat mengantarkan mereka ke darat.
“Saya sangat berterima kasih dengan nelayan di Air Bangis, mereka sangat peduli terhadap kami, seharusnya mereka belum pulang melaut, karena ingin mengantar kami ke darat.
Kami langsung di kasi makan dan diberi minum setelah sampai di darat Air Bangis,” terang Ganti yang masih dikerumuni anak dan istri serta sanak saudaranya.(Rostani)


