Pekanbaru I Realitas – Sebuah Tren cuaca politik yang baik di mana pemimpin masa depan adalah pemimpin yang memulai kariernya dari bawah, sehingga tahu persis kondisi dan keinginan rakyatnya.
Masyarakat cenderung mulai menginginkan calan pemimpin adalah orang yang benar-benar memahami daerah dan kebutuhan masyarakatnya.
Meraih kemenangan di medan peperangan untuk menduduki jabatan kepala daerah dan Legislatif tidak sekedar cukup modal dukungan kursi dan Partai Politik (Parpol) lebih dari itu jika pun ada jajoan yang lolos banyak disebabkan oleh faktor kedekatan elite parpol atau di droping dari langit kekuasaan tingkat pusat maka peluang keok alias kalah pun lebih tinggi.
Demokrasi semakin matang saat ini elite parpol sudah ketinggalan zaman jika tetap bertahan dengan pola zaman dulu jual kucing dalam karung, jangankan dalam karung, di sorong sorong dan dipajang di etalase saja belum tentu laku.
Fenomena kemenangan pasangan calon dari kalangan tekhnokrat, kotak kosong tumbangnya petahana di sejumlah daerah dalam pilkada menunjukan masyarakat kini sudah semakin kritis dalam memilih pemimpinnya.
Pemilihan berbasis dinasti atau kekerabatan, tehknik Premanisme, Intimidasi, bahkan money politik sekalipun sudah mulai tidak menpan lagi untuk menembak hati rakyat dan mereka akan memilih pemimpin yang berkualitas yang dipercaya, bisa membawa perubahan, pembangunan, dan pelayanan yang baik.
Apabila di suatu daerah tidak ada pemimpin yg di nilai ideal maka masyarakat berani dan dengan tegas memilih Kotak kosong, lihat saja yg terjadi di kota Makasar sulawesi selatan yg mana pasangan Munafri arifudin dengan Arahmatika dewi tak tanggung tanggung di dukung oleh 10 partai politik tumbang dan tak berkutik oleh kotak kosong.
Berarti pilkada tahun 2018 ini telah memperlihatkan era baru yakni kemajuan pendidikan politik di mana masyarakat mulai sadar bahwa pemilihan kepala daerah, memilih pemimpin sebagai strongkeng (lampu penerang)maka akan dipilih orang orang yang punya kemampuan yang di pandang sanggup memberikan servis sosial publik, transparansi dan adanya ketegasan.
Alhamdulillah dapat kita saksikan dan simpulkan secara umum pilkada serentak 2018 masyarakat merasa puas dengan hasil pilkada, ukurannya sederhana saja tidak terlihat gejolak atau konflik antar pendukung, Pilgub Riau adalah contoh yang paling sukses, antar pendukung langsung saling berangkulan mengikuti langkah tiga pasang jagoannya dengan hati yang lapang, ikhlas tidak ada keberatan dan nihil gugatan.
Suasana di atas juga akan berlaku untuk pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 nanti, ??? guna memilih DPRD Kabupaten Kota dan Provinsi, DPR RI maupun DPD.
Sebab terbukti calon pemimpin yang di kirim dari pusat oleh parpol dan elitenya ternyata punya tingkat keterpilihannya lebih kecil di bandingkan dengan kandidat yang di besarkan dengan karya di daerahnya, contoh kasus pilkada Sumatera utara, Jarot harus menelan pil pahit kekalahan, karena di paksa paksa dan di sorong-sorong oleh elite parpol di Jakarta.
Perkembangan Media sosial juga ikut menyumbang merubah warna politik saat ini karena Media sosial secara masif memberikan informasi kepada masyarakat sehingga masyarakat punya cukup informasi tentang kinerja, prestasi, dan gebrakan nyata dari seorang kandidat.
Akankah hal ini juga terjadi di pemilihan Legislatif tahun 2019 nanti, ? Walohualam bishawab, Amin, kita lihat saja nanti.
(Andridol)

