Pemred Media Realitas Latih Wartawan Pontas Jakarta

oleh -211.759 views
Pemred Media Realitas Latih Wartawan Pontas Jakarta
Pemimpin Redaksi Media Realitas Adnan NS Selasa (15/3/2022) petang hingga tengah malam melatih para wartawan dan redaktur Pontas.ID Jakarta.

Jakarta | Realitas – Pemimpin Redaksi (Pemred) Media Realitas Selasa (15/3/2022) petang hingga tengah malam melatih para wartawan dan redaktur Pontas.ID Jakarta.

Adnan NS Pemred Media Realitas pada acara pelatihan wartawan dan redaktur Pontas ID, menjelas kesetaraan wartawan dengan jajaran intelektualitas.

Alasannyan wartawan memiliki suatu keahlian meracik dan menyajikan dalam berita, artikel dan feature untuk kepentingan publik.

Semua itu bisa dicapai melalui proses belajar dan belajar.Untuk itu para wartawan harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus. Tentu ilmu itu diperoleh bermula pada proses pemahaman dasar dasar jurnalistik.

Ia memaparkan betapa pentingnya pada kekhususan penanaman dan pemantapan sendi sikap mental dan spiritualnya bagi setiap kalangan wartawan. Tanpa ada unsur mentalitas dan spiritualitas, tidak menjamin lahirnya sosok “jurnalis moralis” yang kita dambakan bersama.

Memberikan pemaparan berlangsung lima jam setengah itu, juga memberikan jurus penulisan cepat, unsur Lima W satu H, pengertian pers dan tupoksinya, asal usul kata pers, rumus enam M, pers era digitalisasi, pers tempo doeloe, pers dalam prsepektif citizen jurnalism, tantangan pers era kini, perbedaan media pers degan Media Sosial,

BACA JUGA :  Jemi RH Nyatakan Siap Mengabdi Untuk Gampong Jawa, Tawarkan Kepemimpinan Transparan dan Anti Pungli

Dia menjelaskan, tentang standaritas Wartawan dalam konteks keilmuan, kompetensi dan intelektualitas.

Pekerja pers bukan buruh yang mengandalkan otot, tapi pekerja pers adalah insan yang memiliki nalar, kemampuan/kompetensi berkaitan dengan sinergitas tugas keseharian berdasarkan kemampuan intelektualitas dalam penyajian pemberitaan semata.

Kemampuan intelektualitas yang dimiliki pers bukan berdasarkan kepemilikan gelar akademik semata, melainkan kemampuan hakiki yang dimiliki setiap personal pers itu sendiri.

Lanjutnya, andai ada wartawan tidak mampu mengangkat jadi dirinya dengan mengedepankan kuwalitas dalam bertugas lebih baik mundur teratur saja, daripada ternodainya citra pers secara general. Karena itu kata mantan Ketua PWI Aceh ini, hasrat dan kemampuan meningkatkan profesionalisme patut dipertahankan.

BACA JUGA :  Jemi RH Nyatakan Siap Mengabdi Untuk Gampong Jawa, Tawarkan Kepemimpinan Transparan dan Anti Pungli

Menyinggung tentang Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang penting untuk menjaga eksistensi diri si watawan.Selain sebagai bekal diri, UKW juga untuk membedakan diri wartawan yang menjalankan tugas profesional dengan non profesional. Wartawan profesional dalam menjalani tugas diikat dengan rumusan norma dan kaedah jurnalistik.

Kata Adnan NS, Hebat tidaknya wartawan itu bukan karena jago dalam berbicara, tapi jempolnya dia karena berkemampuan melahirkan karya jurnalistik yang jitu.

Selain itu, mantan pengurus PWI pusat ini juga membekali wartawan Pontas dengan KEJ sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari mulai dari cara berpakaian, sikap kejujuran hingga penampilan di depan publik. Identitas diri adalah gambaran sosok wartawan profesional, pungkas Adnan NS. (*)