Pekanbaru | REALITAS – Suasana haru dan kebanggaan mewarnai prosesi pelepasan siswa-siswi kelas XII SMA Negeri 12 Pekanbaru yang tahun ini yang berlangsung khidmat dan lancar diadakan dilingkungan sekolah pada Kamis 15 Mei 2025.
Acara pelepasan tersebut mengusung semangat kebersamaan ini diselenggarakan dengan prinsip sederhana namun penuh makna dari kita, oleh kita, dan untuk kita.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang mungkin dilakukan di gedung-gedung megah atau hotel berbintang, kali ini pelepasan dilangsungkan di sekolah.
Kepala SMA Negeri 12 Pekanbaru Suprapto M.Pd melalui Waka Kesiswaan Paisal mengatakan bukan karena keterbatasan semata, namun karena adanya regulasi yang membatasi penyelenggaraan acara di luar sekolah termasuk di hotel, maupun tempat lainnya.
“Justru di sinilah nilai kebersamaan itu terasa kental, di tempat yang telah menjadi saksi tumbuh kembang para siswa selama bertahun-tahun,” jelas Paisal.
“Alhamdulillah, pelepasan hari ini berjalan lancar dan aman. Ini adalah bukti bahwa kegiatan yang dilandasi gotong royong bisa terselenggara dengan baik,” imbuhnya.
Tidak hanya guru dan siswa, menurut Paisal para orang tua juga hadir dan memberikan dukungan penuh terhadap jalannya kegiatan. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama antara institusi dan keluarga.
Sedangkan pada persiapan acara dilakukan secara kolektif, setiap siswa-siswi terlibat aktif dalam menyukseskan pelepasan ini. Mereka imbuh Paisal, bukan sekadar peserta tetapi juga menjadi bagian dari proses kreatif dan teknis acara.
“Sangat terasa sekali, dukungan dari orang tua pun menjadi fondasi utama, mulai dari aspek moral hingga materil. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni pelepasan. Ini adalah perayaan atas perjalanan panjang, kerja keras, dan harapan yang akan dibawa para siswa ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.
Acara pelepasan ini menjadi bukti bahwa dengan kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian bersama, sebuah perhelatan sederhana pun bisa meninggalkan kesan mendalam, lebih dari sekadar megahnya gedung atau gemerlapnya dekorasi.
“Di sinilah pendidikan menemukan wajah sejatinya penuh makna, menyatukan, dan memberdayakan,” tutup Paisal.
Di balik sederhana dan terbatasnya fasilitas, pelepasan siswa kelas XII SMA Negeri 12 Pekanbaru tahun ini justru menyuguhkan pesan kuat tentang makna kebersamaan, semangat gotong royong, dan pentingnya refleksi terhadap arah kebijakan pendidikan.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Forum Komite Sekolah Negeri (SMA, SMK dan SLB) Riau, Ir.H.Delisis Hasanto yang juga mengatakan para siswa, guru, serta orang tua hadir menyatu dalam suasana kekeluargaan yang jarang terlihat dalam seremoni serupa yang lebih formal.
“Kami bersyukur karena acara ini tetap bisa terlaksana sesuai imbauan Gubernur, yang menganjurkan agar pelepasan dilakukan secara sederhana dan tidak membebani orang tua murid,” ujar Delisis.
Namun di balik apresiasi itu, menurut Delisis terselip catatan kritis. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tempat acara yang kurang representatif dan terasa kurang nyaman bagi peserta maupun tamu undangan.
“Bukan soal kemewahan, melainkan soal kelayakan tempat untuk menghormati momen penting dalam perjalanan hidup para siswa. Kita patut evaluasi bersama, jangan sampai regulasi yang dibuat justru membelenggu kreativitas anak-anak. Saya khawatir ruang gerak dan ekspresi mereka jadi terbatas. Padahal, perpisahan ini adalah salah satu wadah untuk mereka menyalurkan ide, kerja sama tim, dan semangat kepemimpinan,” jelas Delisis.
Ia juga mengingatkan agar pihak sekolah tidak menutup ruang partisipasi siswa dalam merancang acara, sepanjang tetap dalam pengawasan dan arahan yang bijak.
Kekhawatiran akan munculnya acara perpisahan di luar kendali sekolah, tanpa pengawasan orang tua, menjadi peringatan serius.
Meski demikian, apresiasi tetap disampaikan kepada para siswa SMA Negeri 12 Pekanbaru. Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian arah kebijakan, mereka dinilai mampu beradaptasi dan menunjukkan ketangguhan.
“Anak-anak ini luar biasa. Mereka tetap kuat, paham situasi, dan tetap bisa menjadikan momen ini bermakna,” ungkap Delisis.
“Acara pelepasan ini menjadi refleksi mendalam bagi dunia pendidikan, bahwa esensi dari sebuah perpisahan bukanlah soal kemegahan, tapi soal penghargaan terhadap proses dan pencapaian. Ke depan, dibutuhkan sinergi antara sekolah, pemerintah, dan orang tua untuk menciptakan ruang yang sehat bagi tumbuhnya kreativitas dan karakter siswa,” tutupnya. (Mirza Yamoli)


