IKLAN YARA

Selama Pandemi, Polri Tindak 33 Kasus Penjualan Obat Covid-19 Lebihi HET

oleh -119.489 views
Selama Pandemi
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menindak 33 kasus terkait dengan penjualan obat terapi Covid-19 dan alat kesehatan diatas harga eceran tertinggi (HET) selama masa pandemi Covid-19.

Diketahui, 33 kasus tersebut tidak hanya ditangani Bareskrim Polri tapi juga diselidiki Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) dan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus).

“Dari 33 kasus tersebut, kami sudah menetapkan 37 tersangka. Yang mana mereka menjual diatas HET, kemudian menahan atau menimbun atau menyimpan dengan tujuan tertentu, dan mengedarkan tanpa izin edar serta membuat dan mengubah tabung APAR menjadi tabung oksigen,” ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Brigjen Pol Helmy Santika, Rabu (28/7/2021).

Brigjen Pol Helmy melanjutkan, dari 33 kasus tersebut pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya obat terapi Covid-19 seperti Ivermectin dan Azithromycin.

“Terhadap hasil ungkap tersebut, total barang bukti yang kita amankan, ada 365.876 tablet obat terapi Covid-19 dari berbagai jenis, 62 viam obat terapi Covid-19, dan 48 tabung oksigen,” imbuh Brigjen Pol Helmy.

Brigjen Pol Helmy menyebut, pihaknya akan menerapkan restorasi justice terkait kasus tersebut dan melakukan diskresi terhadap barang bukti agar dapat didistribusikan kembali ke masyarakat.

“Kita akan melakukan restorasi justice, kemudian kepada yang bersangkutan (tersangka) kita minta untuk membuat surat pernyataan bahwa mereka siap menjual obat-obatan tersebut dengan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET),” terang Brigjen Pol Helmy.

BACA JUGA :   Main Hujan-hujanan, Bocah Tiga Tahun Hanyut di Selokan

“Termasuk dengan pelaku yang mengubah tabung APAR menjadi tabung oksigen. Kita akan cari dia menjual kemana saja, karena tabung APAR ini isinya Co2 (karbon dioksida) yang mana jika time cleaningnya tidak benar bisa berbahaya,” sambung Brigjen Pol Helmy.

Kendati ditindak dengan restorasi justice, Brigjen Pol Helmy menjelaskan kasus tetap berjalan dan para tersangka akan mendapatkan hukuman sesuai tindakannya.

Menurut Brigjen Pol Helmy, para pelaku penjualan obat diatas HET dijerat dengan Pasal 196 UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Kesehatan, Pasal 62 Juncto Pasal 10 UU Nomor 8 tahun 2009 dengan ancaman penjara 5-10 tahun. Kemudian, UU Perlindungan Konsumen dengan hukuman penjara 5 tahun.

Sementara, untuk pelaku modifikasi tabung APAR menjadi tabung oksigen dipersangkakan dalam Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan dan Pasal 197 Undang-Undang 2009 Nomor 36 tentang Kesehatan, serta Pasal 62 Juncto Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman penjara 15 tahun. (H.A.Muthallib)

BACA JUGA :   H. Juanda Naim, Beri Penghargaan Untuk 4 Anak Didik MAN 1 Lampung Timur