Sejarah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azizsyah Desa Bandrong Kota Peureulak

oleh -193.489 views
Foto: Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Marhaban Jaddal Husaini.

IDUL FITRI

Ada banyak kerajaan Islam di Indonesia. Tentu ini adalah salah satu faktor yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.

Dari sekian banyak kerajaan, Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh Timur.

REALITAS TV

Sebagaimana kerajaan Perlak yaitu yang disebut sebagai kesultanan Islam pertama di Nusantara dan Asia Tenggara berdasarkan seminar para ahli pada akhir September 1980 di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur.

Istilah Peureulak atau Perlak sendiri berasal dari nama dari pohon kayu yang digunakan untuk dibuat perahu oleh para nelayan. Orang-orang Aceh menyebutnya sebagai Bak Peureulak.

Menurut Ishak Makarani Al Fasy kerajaan Perlak berdiri pada 1 Muharram 225 H (840 M) dengan raja pertamanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Semula raja tersebut bernama Saiyid Abdul Aziz.

Pada hari berdirinya kesultanan itu, Bandar Perlak diganti namanya menjadi Bandar Khalifah sebagai kenangan dan penghargaan kepada rombongan Nakhoda Khalifah yang telah berperan mengembangkan Islam di Perlak.

Raja Abdul Aziz Syah diketahui memimpin sejak tahun 225 hingga 249 H atau pada 840 M hingga 964 M.

Kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdrrahim Syah.

Selanjutnya, kursi raja Perlak diisi oleh Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abbas Syah di tahun 285-300 H.

Kemudian, di tahun 302 H kepemimpinan dipegang oleh Sultan Alaidin Saiyid Maulana Ali Mughayar Syah.

Ada berbagai peninggalan Kerajaan Perlak, mulai dari mata uang, stempel, hingga makam raja. Mata uang kerajaan ini terdiri dari tiga jenis, yakni emas (dirha), perak (kupang, dan tembaga atau kuningan.

Mata uang itu menjadi yang tertua di Tanah Air. Uniknya, pada salah satu sisinya terdapat tulisan ‘A’la’ dan sisi lainnya tertulis ‘Sulthan’ yang tertuju pada Perdana Menteri masa Sultan Makhdum Alaidin Ahmad Syah Jouhan Berdaulat.

Kemudian, peninggalan stempel kerajaan ini menggunakan bahasa Arab yang membentuk kalimat ‘Al Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512’ yang merupakan bagian dari Kerajaan Perlak.

Peninggalan raja terakhir adalah makam raja Benoa (Benoa adalah negara bagian dari Kerajaan Perlak) yang terletak di tepi sungai Trenggulon.

Pada makam tersebut nisan dituliskan dengan bahasa Arab dan dibuat sekitar abad ke-4 H.

Kerjaan Perlak runtuh karena mengalami kemunduran. Diketahui, anggota keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan pemerintahan sehingga membuat ketidakstabilan.

Para pedagang yang melihat hal itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat lain, yakni Pasai. Akhirnya kerajaan runtuh dan berganti menjadi Kerajaan Samudera Pasai.

Penulis tertarik menulis kembali sejarah kesultanan kerajaan Perlak ini karena pada dasarnya masyarakat Aceh dan pembaca lainnya sudah tidak tertarik lagi mengenang sejarah kerajaan Islam.

Maka dari itu penulis tergerak hati untuk menguraikan kembali sejarah singkat dari kerajaan Perlak tersebut dengan mengunjungi makam dari Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Azizsyah. (*)

Oleh: Marhaban Jaddal Husaini

Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah

UPDATE CORONA