Qanun LKS (Lembaga Keuangan Syariah) Ketidak Setujuan Masyarakat, Khususnya Mahasiswa Menunda Bahkan Mencoba Untuk Membatalkan Qanun Tersebut

oleh -95.489 views
Foto: Putri Rahmi

IDUL FITRI

Oleh: Putri Rahmi

Mahasiswi IAIN Langsa Prodi Perbankan Syariah Semester V

 

Wacana penundaan Qanun LKS dan ketidak setujuan masyarakat, khususnya mahasiswa menunda atau bahkan mencoba-coba untuk membatalkan qanun tersebut. Provinsi Aceh adalah salah satu daerah di Indonesia yang paling religius. Wilayah di ujung utara Sumatera ini merupakan satu-satunya bagian dari kepulauan yang menjatuhkan hukuman kepada penduduknya berdasarkan hukum Islam.

Segala hukum harus disesuaikan dengan hukum syariat islam. Syari’at Islam dalam aspek mu’amalah belum menyentuh secara menyeluruh lembaga keuangan, sehingga belum mampu mengangkat kehidupan ekonomi masyarakat Aceh ke arah yang lebih baik, adil, sejahtera dan bermanfaat. Ditetapkan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS), menjadi terobosan penting dalam membangun ekonomi Islam di Aceh.

Hal ini beriringan dengan keistimewaan Aceh dalam menjalankan pelaksanaan syariat Islam. salah satunya dalam rangka mewujudkan ekonomi masyarakat Aceh yang adil dan sejahtera dalam naungan syariat Islam, memerlukan jasa lembaga keuangan sistem Syariah. Pilihan masyarakat terhadap lembaga keuangan konvensional dalam kegiatan ekonomi dan transaksi keuangan dirasakan cukup tinggi, karena masih memiliki pikiran pragmatis dan paradigma kapitalistik.

Namun masyarakat aceh umumnya lebih mengedepankan syariat dimana keistimewaan aceh itu yang pertama sekali dalam bidang agama islam, jadi tidak tertutup kemungkinan masyarakat itu lebih mengedepankan syariat. Rata-rata masyarakat aceh fanatic akan hal-hal keagamaan, semua itu lebih mencerminkan sesuai syariat (islam). Pemerintah Aceh punya harapan besar untuk membangun ekonomi Aceh lewat aturan ini, mewujudkan perekonomian islami.

BACA JUGA :   Kota Pekanbaru Terbaik Dalam Pelayanan KB MKJP dan Pengelola Terbaik ke -2 Dalam Program Bangga Kencana se-Provinsi Riau

Target utamanya adalah membantu meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat, sampai terciptanya kesejahteraan bagi seluruh warga Aceh, sesuai semangat pelaksanaan syariat Islam di Serambi Makkah. Pemerintah Aceh meminta semua pihak terutama warga dan pihak perbankan mendukung penuh setiap upaya dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

“Kita berharap ini tidak hanya prosedural aja, tapi juga substansial. Dengan penerapan qanun ini, siapa tahu Aceh jadi contoh bagaimana prinsip syariat dijalankan. Dalam hal ini saya sangat tidak sejutu jika terjadinya penundaan pada Qanun LKS yang mana kita sendiri bahkan masyarakat kecil masih berkecimpung menggunakan jasa bank konvensional .jika tidak terubah dari bank konvensional ke bank syariah yang artinya akan terus membawa masyarakat kedalam Riba (Haram).

Masyarakat harus mendukung penuh serta membantu Qanun ini agar terlaksana dengan baik dengan cara mempelajari dan ikut mengembangkan pengetahuan terkait Qanun ini, dan Qanun ini diharapkan dapat menjadi harapan untuk mendorong perkembangan perbankan Syariah di Indonesia. Qanun tersebut mencoba untuk bertanggung jawab secara syariah agar tidak adanya praktek riba. Dan mengubah prasangka buruk terhadap bank.

BACA JUGA :   Kadiv Humas Jelaskan Virtual Police Bekerja Untuk Ciptakan Medsos Bersih Dan Sehat

Disadari atau tidak, praktik riba banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yang terkait dengan bunga bank. Bunga bank adalah keuntungan yang diambil oleh bank dan biasanya di tetapkan dalam bentuk persentase seperti 5% atau 10% dalam jangka waktu bulanan atau tahunan terhitung dari jumlah pinjaman yang diambil nasabah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 130: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130).

Sabda rasulullah SAW : “Rasulullah SAW melaknat pemakan riba yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Hakim, Rasulullah saw bersabda, “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah.” Rasulullah juga bersabda “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.

BACA JUGA :   Gerebek Rumah Pengedar Narkoba, Polisi Sita 39 Paket Sabu-sabu

Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadits ini sahih). Subhanallah, ternyata dosa riba lebih berat dari dosa zina 36 kali lipat. Semoga dengan adanya Qanun LKS bisa memberikan pencerahan bagi nasabah bank yang ingin mendapatkan solusi keuangan sesuai dengan syariah Islam.

Sebagai kaum muslim sebaiknya kita hindari praktik Riba yang tidak sesuai syariat dan menggunakan Bank Syariah yang sesuai syariat. Karena syariah yang menggunakan sistem bagi hasil lebih memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak dan yang pasti halal.

Kami sangat mengimbau agar rakyat Aceh untuk bersabar dan mendukung Pemerintah Aceh dalam menyelesaikan semua kendala teknis yang dihadapi selama masa transisi, mengajak semua pengusaha Aceh dan investor untuk mendukung penuh penerapan qanun LKS, serta mendukung dan mengharapkan agar Aceh menjadi model pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bagi daerah lain di Indonesi. (*)

UPDATE CORONA