Ngaku Menantu Petinggi Polri Suami Istri Tipu Gunakan KTP Palsu

oleh -90.489 views

IDUL FITRI

Jakarta I Realitas – Pasangan suami istri mengaku sebagai menantu eks Kapolri untuk melakukan penipuan.

Bahkan, mereka juga menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu untuk menawarkan proyek fiktif.

Total kerugian akibat penipuan yang dilakukan sepanjang Januari hingga Agustus 2019 mencapai Rp 39,5 miliar.

Polda Metro Jaya menangkap pasangan suami istri berinisial DK dan KA yang melakukan penipuan bermodus proyek fiktif.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, tersangka DK menggunakan KT) palsu saat menawarkan proyek fiktif kepada para korbannya.

“Setelah kita lakukan pendalaman, DK ini mengubah KTP-nya. Awalnya DK namanya, kemudian buat KTP palsu dengan nama DW,” kata Yusri saat merilis kasus ini di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (27/01/2021).

BACA JUGA :   Novel: Berharap Kapolri Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap dirinya Diungkap Lebih Jauh

DK juga menggunakan KTP palsunya untuk membuat perjanjian kerjasama dengan korban.

Selain itu, DK mencatut nama mantan Kapolri Jenderal (purn) Timur Pradopo. Kepada para korbannya, DK mengaku sebagai menantu Timur Pradopo.

“Dia mengaku menantu mantan salah satu petinggi Polri, sehingga dengan rayuannya korban kemudian ikut melakukan investasi,” ujar Yusri.

Dalam kurun waktu Januari hingga Agustus2019, pasangan suami istri DK dan KA telah enam kali melakukan penipuan dengan proyek fiktif yang berbeda-beda.

“Ini kejadian sejak Januari 2019. Ada enam proyek fiktif yang ditawarkan kepada korban-korbannya,” kata Yusri.

Proyek fiktif pertama adalah pembelian lahan di Karawang, Jawa Barat senilai lebih dari Rp 24 miliar pada Januari 2019.

BACA JUGA :   Warga Jalan Raya Cilebut Temukan Jasad Siswi SMA Terbungkus Plastik

Selanjutnya pada April hingga Mei 2019, kedua tersangka menawarkan korban dengan proyek fiktif penyedia bahan bakar industri berskala besar atau MFO. Nilai dari proyek fiktif tersebut mencapai Rp 4,3 miliar.

Masih di bulan yang sama, DK dan KA menawarkan proyek batubara. Korbannya diminta menyetorkan uang sebesar Rp 5,8 miliar.

“Kemudian ada juga proyek fiktif pengelolaan gedung parkir dan mall ternama di beberapa wilayah. Korban dimint menjadi sponsor dan dimintakan uang Rp 117 juta,” ungkap Yusri.

Proyek fiktif kelima yaitu penyedia bahan bakar industri berskala besar atau MFO di terminal di kawasan Cilegon senilai Rp 3 miliar pada Juli 2019.

BACA JUGA :   Kerusuhan di Penjara Ekuador, Korban Napi yang Tewas 79 Orang

“Terakhir adalah proyek fiktif pembelian tanah di Depok. Tersangka ini berjanji di tanah tersebut akan dibangun masjid,” tutur Yusri.

Selain pasangan suami istri DK dan KA, polisi juga menetapkan lima orang lainnya sebagai tersangka.

Mereka adalah FCT, BH, FS, DWI, dan CN. Namun, kelimanya tidak dilakukan penahanan.

Sementara itu, DK dan KA dijerat Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan atau Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan atau Pasal 263 ayat 2 KUHP juncto Pasal 3, 4, 5 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. (*)

Sumber :(Trb)

UPDATE CORONA