Kejagung Tangkap Buron Pembobol Bank BUMD Rp 548 M di Bali

oleh -136.489 views

IDUL FITRI

Badung I Realitas – Kejaksaan Agung (Kejagung) menangkap buron pembobol Bank BJB Syariah, Andy Winarto. Direktur Utama PT Hastuka Sarana Karya ini ditangkap di Kabupaten Badung, Bali.

“Tim intelijen Kejaksaan Agung RI berhasil mengamankan DPO (daftar pencarian orang) asal Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dengan identitas Andy Winarto,” kata Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung Sunarta melalui pesan singkat, Jumat (22/1/2021).

REALITAS TV

“Diamankan di Deliu Villa Ayanna, Jalan Pura Batu Mejan Jalan Padanglinjong, Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361, Kamis, 21 Januari 2021 pukul : 21.25 WITA,” sambungnya.

Sunarta menerangkan, Bank BJB Syariah kala itu mencairkan kredit fiktif untuk dua perusahaan yakni PT Hastuka Sarana Karya dan CV Manunggal Abadi sebesar Rp 548 miliar.

Dana yang dikucurkan pada dua perusahaan itu diketahui untuk biaya pembangunan di Garut, Jawa Barat yang kala itu Andy bertindak sebagai debitur PT Hastuka Sarana Karya.

“Andy dalam perkara kredit fiktif. Bank BJB Syariah mencairkan kredit fiktif untuk dua perusahaan PT Hastuka Sarana Karya (HSK) dan CV Dwi Manunggal Abadi.

Dana sebesar Rp 548 miliar itu dicairkan Bank BJB Syariah kepada dua perusahaan itu untuk pembiayaan pembangunan Garut Super Blok di Garut, Jawa Barat, periode 2014-2015.

Debitur dalam kasus ini adalah PT Hastuka Sarana Karya (HSK). Alamatnya tercatat pengembang HSK berada di kawasan Regol, Kota Bandung,” tuturnya.

Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) menganulir vonis lepas atas Andy Winarto dan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara.

Andy terbukti membobol bank pelat merah itu menggunakan bendera PT Hastuka Sarana Karya (PT HSK) dan duduk sebagai direktur utama (dirut) di perusahaan itu.

Diketahui, kasus bermula saat Andy mengajukan kredit ke BJB Syariah pada 2014-2016. Andy melakukan serangkaian tindakan sehingga kredit mengucur. Padahal banyak syarat kredit yang tidak terpenuhi. BJB Syariah pun kebobolan setengah triliun lebih. Andy harus berurusan dengan hukum dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan.

Pada 12 Juli 2019, Pengadilan Negeri (PN) Bandung memutuskan Andy terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut.

BACA JUGA :   Keuntungan McD Korea dari Fenomena BTS Meal

Bandung menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 10 tahun dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsider 6 bulan.

Selain itu, Andi juga dihukum untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 548.259.832.594. Jika Andy tidak membayar uang pengganti tersebut paling lama 1 bulan sesudah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Dalam hal Andy tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka dipidana dengan pidana penjara selama 7 tahun.

Namun, di tingkat banding, keadaan berubah. Pengadilan Tinggi (PT) Bandung menganulir putusan itu. Pada 16 Oktober 2019, majelis banding yang diketuai Berlin Damanik melepaskan Andy. Alasannya, perbuatan Andy adalah perbuatan perdata dan bukan pidana.

Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi. Gayung bersambut. Permohonan kasasi dikabulkan.

“Mengabulkan permohonan kasasi Penuntut Umum, membatalkan putusan Judex factie dan mengadili sendiri. Menyatakan Terdakwa Andi Winarto, SE terbukti bersalah melakukan tindak pidana Korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor,” kata juru bicara MA, Andi Samsan Nganro kepada detikcom, Rabu (5/8/2020).

BACA JUGA :   Konsolidasi Persiapan Rapat Kerja DPC PWRI Kabupaten Bogor 2021

Duduk sebagai ketua majelis hakim agung Prof Dr Surya Jaya. Adapun anggota majelis ialah LL Hutagalung dan Agus Yunianto. Vonis diketok pada Rabu (5/8) siang.

“Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 15 tahun denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan,” ujar Andi yang juga Ketua Muda MA bidang Pengawasan itu.

Selain itu Terdakwa dibebani juga untuk membayar Uang Pengganti sebesar Rp 548.259.832.594, subsider 15 tahun penjara.

“Terdakwa dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dari rangkaian perbuatannya yang mengajukan pinjaman ke Bank dengan memberi agunan bodong (ternyata agunannya sudah dijadikan agunan ke bank lain, yakni Bank Muamalat).

Atas perbuatan Terdakwa tersebut merugikan keuangan negara sebesar kurang-lebih Rp 1 (satu) triliun,”ujar Andi. (*)

Sumber : (Dtc)

UPDATE CORONA