Kuasa Hukum Iryanto Temukan Fakta Baru, Pemeran Transaksi Tidak Dijadikan Tersangka

oleh -69.489 views

IDUL FITRI

Bogor I Realitas – Kuasa Hukum Iryanto Temukan Fakta Baru, Pemeran Transaksi Tidak Dijadikan Tersangka.

Babak baru persidangan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Iryanto, mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor tersaji di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jumat (9/10/2020 ) kemarin.

BACA JUGA :   Hari Pertama Operasi Zebra, Ditlantas Polda Aceh Keluarkan 546 Lembar Tilang

Sidang kali ini menghadirkan saksi Agus Budi. Ia pernah bertugas di Seksi Reklame pada DPKPP. Saat bersaksi, Agus mengaku tidak tahu menahu atas kronologi OTT di DPKPP dan menyeret nama Iryanto.

BACA JUGA :   Bertolak ke Sumatera Utara, Presiden Akan Tinjau Pengembangan Lumbung Pangan Baru dan Serahkan Sertifikat Hak Atas Tanah

UPDATE CORONA

OTT pada 3 Maret 2020 tersebut dipimpin oleh Kasat Reskrim Polres Bogor saat itu, AKP Benny Cahyadi. Dalam OTT tersebut, Iryanto dituduh menerima uang sebesar Rp50 juta dari Sony Priyadi dalam rangka penyelesaian pengurusan Rekomendasi Ketinggian Bangunan (RKB) dan Pengesahan Dokumen Rencana Teknis (PDRT) pembangunan RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

Sementara dalam persidangan dengan saksi Agus Budi, kuasa hukum Iryanto menanyakan apakah saksi mengtahui kronologi OTT DPKPP.

Saksi Agus Budi menyatakan tidak tahu menahu terkait kejadian OTT tanggal 3 Maret karena saat itu saksi sudah mutasi dinas dari DPKPP ke Satpol PP di medio November 2019.

Apakah saudara saksi tahu secara detail OTT yang terjadi tanggal 3 Maret 2020 di DPKPP?” tanya ketua tim kuasa hukum Iryanto dari LBH Bara JP, Dinalara Butarbutar.

Saksi Agus Budi menyatakan tidak tahu. “Saya tidak tahu kejadian OTT itu. Saat kejadian saya sudah pindah dinas dari DPKPP ke Satpol PP,” akunya.

Kemudian saksi Agus Budi juga menerangkan bahwa sejak awal memang dialah yang bertemu Fikry Salim (pengusaha) yang mengutarakan niatnya untuk mengurus RKB dan PDRT dan hanya memiliki dana sebesar Rp200 juta.

Fikry lantas minta dibantu pengurusan izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua dan setelah itu berkonsultasi dengan salah satu staff bidang KWP DPKPP, Faisal Assegaf.

“Saya bertemu Kiki (Fikri, red) yang mengutarakan bahwa akan mengurus RKB dan PDRT di DPKPP dan minta dibantu dengan dana yang hanya Rp200 juta yang sebelumnya dia minta bantuan kepada seseorang yang saya tidak tahu namanya dan diminta uang sebesar Rp2 miliar.

Sebagai teman, ya saya coba bantu dengan konsultasi dengan salah satu staff KWP DPKPP, Faisal yang menyatakan bisa asal di backup dan menyuruh saya bicarakan hal ini dengan Iryanto,” ungkap Saksi yang juga Kasie Penindakan pada Satpol PP Kabupaten Bogor ini.

Agus Budi dalam keterangannya juga mengaku bahwa uang Rp200 juta itu diserahkan dua kali, yaitu di 22 Agustus 2020 yang diambil dari orang suruhan Fikry Salim bersama Faisal di salah satu restoran di bilangan Cibinong sebesar Rp100 juta yang langsung dibagi dua dengan Faisal.

“Kemudian tanggal 22 Agustus 2020, saya bersama Faisal janjian dengan orang suruhan Kiki di salah satu restoran cepat saji di bilangan Cibinong sejumlah Rp100 juta yang langsung dibawa ke rumah saksi dan dibagi dua masing-masing Rp50 juta dengan Faisal,” ungkap saksi Agus Budi.

Uang sebelumnya pernah diserahkan kepada saksi oleh Fikry Salim kepada Agus Budi di kantor DPKPP sebesar Rp95 juta pada 15 Juli 2019 yang menurut keterangan saksi langsung diberikan kepada Iryanto diruangan kerjanya saat itu.

“Kiki datang ke kantor DPKPP membawa uang Rp95 juta menggunakan sebuah goodie bag yang saya ambil di mobilnya, dan saya langsung bawa uang itu ke ruangan pak Iryanto dan saya serahkan kepada pak Iryanto lalu saya dikasih sebesar Rp5 juta dan saya bagi dua dengan Faisal,” terang Saksi Agus Budi.

Terdakwa Iryanto dengan tegas menyatakan tidak pernah menerima uang terkait pengurusan RKB dan PDRT dari Agus Budi di tanggal 15 Juli 2019.

“Gus, tolong jujur di persidangan ini, kapan kamu serahin uang ke saya untuk urus itu? Saya tidak pernah nerima uang itu. Buka saja semua di persidangan ini, saya sudah 8 bulan menunggu keadilan di kasus ini,” ungkap Iryanto dengan nada sedih melalui zoom.

Di akhir persidangan Agus Budi menjawab, “Maaf pa, saya juga korban dan tidak tahu bisa seperti ini,” ucapnya.

Ditemui setelah persidangan, Kuasa Hukum Iryanto, Dinalara menyatakan sah-sah saja saksi menyatakan apapun di persidangan, tapi sebagai kuasa hukum dirinya akan membuktikan keterangan saksi Agus Budi dan akan dicompare dengan keterangan saksi yang lain.

“Sah saja saksi mengungkapkan apapun di pengadilan, tapi kan hukum tidak bisa dengan dasar katanya saja, harus dibuktikan. Sedangkan setelah dipelajari berkas perkaranya, banyak keterangan saksi yang bertentangan dengan kesaksian dari saksi-saksi yang lain.

Nanti kita akan sama-sama buktikan di persidangan berikutnya. Toh dalam kasus ini ada keanehan yang nyata terungkap bahwa saksi adalah salah satu pemeran yang sedari awal bertransaksi terkait izin ini, tapi kok tidak dijadikan tersangka juga?” pungkasnya.Ketua Tim Pengacara Dinalara Butar – Butar. (Tim Realitas)