BEM Hukum Unimal Sarankan Pemkot Lhokseumawe Gunakan Mess Pelaju Sebagai Ruang Rawat PINERE

oleh -227.489 views

IDUL FITRI

ACEH UTARA I Realitas – BEM Hukum Unimal sarankan Pemkot Lhokseumawe gunakan mess pelaju sebagai ruang rawat PINERE.

Permasalah antara Pemkot Lhokseumawe dan Dayah Mataqu kian memanas, belum lama ini walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya mengatakan kepada media bahwa Pemkot Lhokseumawe tetap akan menggunakan eks SMP Arun sebagai ruang rawat PINERE.

REALITAS TV

Suaidi Yahya mengaku sudah mendengar kabar adanya penolakan terhadap rencana Pemkot Lhokseumawe melakukan alih fungsi gedung eks-SMP Arun untuk Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19.

“Kepada Mataqu kita memberi dua solusi yang lain, yaitu ada tempat yang tidak berjauhan dengan lokasi tersebut. Yaitu Ruang Maintenance, dan Mess Plaju (dalam Kompleks Perumahan PAG).

Itu sudah siap sekat-sekatnya,” kata Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, saat konferensi pers di Kantor Wali Kota, Senin, 28 September 2020, sore.

BACA JUGA :   Asisten II Pemkab Batu Bara Wakili Bupati Tinjau 3 Pasar

Azhar Ibrahim selaku salah satu pimpinan Dayah Mataqu mengatakan “kami sepenuhnya mendukung program Pemkot Lhokseumawe dalam pengadaan ruang rawat PINERE, Jumat (02/10/2020).

Kami bukannya tidak mau pindah namun kami berharap Pemkot Lhokseumawe lebih rasional dalam mengambil kebijakan dan harus mempertimbangkan beberapa hal terlebih dahulu”.

Lebih lanjut Azhar menambahkan bahwa yang dipindahkan ini adalah anak-anak, jadi perlu diperhatikan dampak dan beban psikologis bagi anak, dan ini jangka panjang dampaknya.

Azhar Ibrahim juga berharap Pemkot Lhokseumawe dapat memberikan tempat yang lebih layak untuk ditempati para santri dalam kegiatan belajar mengajar, karena mess pelaju dan ruang maintenance tidak cukup dan kurang layak untuk menampung santri sebanyak 256 orang dan sekitar 40 orang tenaga pengajar.

BACA JUGA :   Terapkan Prokes Bupati Batu Bara & Seluruh Jajaran OPD Sholat Idul Fitri

Pjs ketua BEM Hukum Unimal Maulana Azman Zuhri menyampaikan kepada media bahwa kebijakan yang diambil oleh Pemkot Lhokseumawe tidak rasional dan terkesan terburu-buru.

Kami meminta Pemkot Lhokseumawe mempertimbangkan kembali kebijakan yang telah dikeluarkan, karena memberikan mess pelaju dan ruang maintenance kepada Dayah Mataqu itu bukan merupakan solusi karena tempat tersebut tidak dapat menampung para santri dan tenaga pengajar.

Kami berharap Pemkot Lhokseumawe dapat memberikan tempat yang lebih layak kepada pihak Dayah Mataqu agar dapat ditempati oleh seluruh santri dan tenaga pengajar dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Kami sangat berharap pihak Pemkot perlu berpikir ulang soal relokasi, karena yang akan dipindahkan adalah pesantren, punya konsekwensi yang sangat kompleks.

Kebutuhan pesantren bukan hanya tempat menginap, tapi juga ruang belajar, dapur umum, mushalla tenpat anak-anak shalat berjamaah, dan harus terpisah antara laki-laki dan perempuan.

BACA JUGA :   Sholat Idul Fitri 1442 Hijiriah, Pj. Bupati Muara Enim, Imbau Untuk Sholat Dirumah Saja

Sementara ruangan yang tersedia di gedung maintenance dan mess plaju samasekali tidak mengakomodir kebutuhan sebuah pesantren, dan tidak layak menjadi alternatif.

Belum lagi gedung maintenance, di mana kondisi ruangannya sangat pengap dan kedap udara, minim ventalasi, karena memang didesain untuk tempat penyimpanan barang, bukan tempat tinggal orang.

Pjs ketua BEM Hukum Unimal juga menyarankan agar pemko Lhokseumawe menggunakan mess plaju sebagai ruang pinere, karena lebih layak dan sangat sesuai untuk ruang isolasi krn kamar sdh siap pakai dan bs ditempati oleh 1 pasien, juga terdapat ruang resepsionis, sehingga tidak banyak lagi yang perlu direhab. (H A Muthallib)

UPDATE CORONA