Jubir Covid -19 Saifullah Abdulgani : Pemerintah Aceh Siapkan Tanah Untuk Pemakaman Jenazah Covid-19

oleh -10.201 views

IDUL FITRI

Banda Aceh I Realitas – Juru bicara (jubir) Covid-19, Saifullah Abdulgani atau yang akrab SAG, menyampaikan, Pemerintah Aceh saat ini terus melakukan berbagai upaya untuk pencegahan dan penanganan virus Corona atau Covid-19 di Aceh.

Tidak menafikan, Pemerintah Aceh juga sudah menyiapkan tanah untuk kuburan massal jenazah warga yang positif Covid-19.

Satu hal mungkin tidak menyenangkan, tapi saya ingin menyampaikannya, bahwa Pemerintah Aceh sedang menyiapkan tanah untuk lokasi pemakaman jenazah korban virus Corona,” kata SAG dalam live konferensi pers, Sabtu (28/3/2020).

Menurut SAG, hal tersebut perlu dipersiapkan karena berdasarkan pengalaman, 160 negara dan pengalaman di Indonesia, angka kematian terus meningkat.

“Berdasarkan pengalaman tersebut kita persiapkan segala sesuatunya, kita persiapkan ruangannya, peralatannya, SDM-nya.

Tentu saja kita tidak bisa menafikan kalau takdir menentukan harus ada yang barangkali dipanggil oleh Allah walaupun sudah diobati, kita juga harus menyiapkan tempat (pemakaman),” kata SAG.

Menurut SAG, Sekda Aceh, dr Taqwallah sudah melihat lokasinya.

“Semoga bisa dalam waktu dekat kita bisa memiliki tempat untuk memakamkan jenazah korban Covid,” jelasnya.

Namun begitu, SAG atas nama Jubir Covid-19, berharap pasien yang positif di Aceh tidak akan bertambah lagi.

“Kita berharap cuma empat yang positif dan semoga Allah melindungi kita semua, tidak ada lagi yang positif dan yang sudah positif kita harap akan segera sembuh,” harapnya.

Desakan agar Pemerintah Aceh memberlakukan lockdown semakin menguat.

Desakan itu menguat menyusul semakin bertambahnya jumlah kasus terkait Covid-19 (Corona) di Aceh.

Data terakhir Jumat (27/3/2020) pukul 19.00 WIB, sebanyak 383 orang berstatus orang dalam pemantauan (ODP). Dari jumlah itu sebanyak 54 orang selesai sehingga tersisa 329 lagi yang masih dipantau.

Sementara pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 39 kasus, masih dirawat 5 orang, pulang dan sehat sebanyak 34 orang.

Sedangkan pasien positif Covid-19 yang telah terkonfirmasi sebanyak empat orang, tiga di antaranya dirawat dan satu orang meninggal dunia. Satu pasien lain yang juga telah meninggal dunia masih menunggu hasil lab.

Penambahan kasus Covid-19 ini terjadi disaat Aceh tengah menjalankan karantina mandiri atau isolasi pribadi di rumah yang kini memasuki minggu kedua.

Salah satu penyebabnya adalah masih bebasnya orang keluar masuk Aceh. Apalagi mereka yang telah terkonfirmasi positif Covid memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah, khususnya di wilayah terjangkit Covid.

Karena itulah, desakan agar Pemerintah Aceh melakukan lockdown semakin menguat.

Jika lockdown diberlakukan, maka Aceh bakal terkunci. Semua pintu akses keluar masuk, darat, laut, dan udara akan ditutup.

Lantas bagaimana tanggapan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah atas desakan tersebut?

Kepada wartawan Nova menjelaskan bahwa dia pada dasarnya sangat setuju Aceh di lockdown.

“Prinsipnya semua setuju (Aceh lockdown), termasuk saya,” kata Nova Iriansyah.

Namun sebelum melakukan lockdown, ada beberapa hal yang harus diperhitungkan. salah satunya adalah kemampuan Pemerintah Aceh memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kita harus hitung dulu kemampuan kita memenuhi kebutuhan publik, misalnya sebulan. Sekarang sedang kita hitung,” ujar Nova.

Selain itu, lockdown juga akan menutup akses penerbangan. Sementara ada beberapa barang dan alat kebutuhan medis terkait Covid-19 yang pengangkutannya menggunakan pesawat.

“Sekarang APD (alat pelindung diri) ini akan terus-terusan masuk, juga alat-alat lain dan obat-obatan,” ujar Nova.

“Kalau kita lockdown, maka pasokan akan terhenti. Kita sedang menghitung biaya yang dibutuhkan jika menggunakan pesawat carteran,” imbuhnya lagi.

Ia meminta masyarakat Aceh bersabar, karena tidak mungkin lockdown bisa seketika dilakukan tanpa melakukan persiapan.

“Sudah kita akomodir, tinggal nunggu waktunya, karena nggak mungkin seketika bisa langsung kita lockdown,” demikian Nova.

Sebelumnya, Anggota DPRA, dr Purnama Setia Budi juga mengingatkan bahwa Pemerintah Aceh harus bersiap-siap mengambil langkah lockdown jika nani wabah semakin meluas.

“Jika Covid-19 semakin meluas, kita harus siap (melakukan lock down), terutama Pemerintah Aceh. Tetapi pemerintah harus bisa menyediakan logistik,” ujar dr Purnama.

Anggota DPRA lainnya, Muslim Syamsuddin MAP bahkan secara khusus menyurati Plt Gubernur Aceh, meminta agar segera dibelakukan lockdown.

Surat itu ia kirimkan pada tanggal 27 Maret 2020, ditembuskan ke Presiden RI, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, Menteri Keuangan, pimpinan DPRA hingga pimpinan Komisi V.

Tokoh masyarakat Aceh, Tarmizi A Hamid, juga menilai bahwa sudah saatnya Aceh menerapkan lockdown. Menutup semua akses pintu keluar masuk, kecuali untuk barang-barang kebutuhan.

Kebijakan Pemerintah Aceh saat ini yang menutup tempat-tempat keramaian, meliburkan sekolah, dan mengimbau masyarakat agar melakukan isolasi diri di rumah ia nilai sudah sangat tepat.

Hanya saja menjadi percuma jika pintu keluar masuk Aceh tidak ditutup, baik itu di perbatasan Sumut-Aceh, pelabuhan, dan bandar udara.

“Jika pintu keluar masuk itu tidak ditutup, ya sama saja seperti kita menampung air dalam keranjang,” imbuh kolektor naskah kuno ini.

Pria yang akrab disapa Cek Midi ini menambahkan, Pemerintah Aceh tidak perlu takut mengikuti jejak Papua yang telah melakukan lockdown di daerahnya.

“Ini semua menjadi tanggung jawab kita bersama, Pemerintah Aceh dan rakyat Aceh. Jika dilakukan lockdown, rakyat bersama Pemerintah Aceh,” tegasnya.

Terakhir, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, juga mengusulkan kepada Plt Gubernur Aceh agar memberlakukan lockdown.

Banda Aceh akan mengajukan lockdown kepada Pak Plt Gubernur Aceh, besok (hari minggu ),” kata Aminullah

Langkah ini kita ambil untuk mengantisipasi penyebaran virus corona lebih luas setelah ada dua warga Banda Aceh yang positif terjangkit virus corona,.ujarnya.(*)

Sumber : tribunnews