banner 900250

Ketua MPR Minta Pemerintah Pusat dan Daerah Koordinasi Atasi Banjir Jabodetabek

oleh -19.312 views

IDUL FITRI

JAKARTA I Realitas – Ketua MPR Bambang Soesatyo mengucapkan duka cita atas korban jiwa dalam musibah banjir yang terjadi di wilayah Jabodetabek. Komunikasi telah dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI, Polri dan jajaran pemerintah dari pusat hingga daerah mengenai musibah tersebut.

Dari komunikasi itu diketahui seluruh kekuatan terjun langsung dalam penyelematan dan penanggulangan terhadap para korban banjir. Selain itu dia juga mengapresiasi peran serta masyarakat dalam menyelamatkan sesama, termasuk membuat dapur umum.

“Sikap gotong-royong yang ditunjukan oleh warga sepatutnya ditiru oleh pejabat publik yang diberikan amanah oleh rakyat sebagai penyelenggara negara. Musibah banjir kali ini menjadi tamparan bagi para penyelenggara negara untuk serius menata pembangunan daerah dengan memperhatikan lingkungan dan aspek berkelanjutan,” ujar Bambang Soesatyo di Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Politikus Partai Golkar yang biasa disapa Bamsoet itu meyakini, baik pemerintah pusat maupun daerah (Jabodetabek) sudah memiliki rencana kerja dalam penangangan banjir. Dia mengingatkan, koordinasi yang baik antara pusat dan daerah juga dinilai penting agar rencana tersebut tidak saling berseberangan, apalagi berbenturan.

“Kita punya banyak sekali orang-orang cerdas. Di BMKG misalnya, pasti dari jauh-jauh hari sudah bisa memprediksi hujan. Jangan karena ego sektoral, lantas rakyat yang menjadi korban,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah harus segera duduk bersama sehingga tidak ada lagi perdebatan. Misalnya mengenai apakah harus normalisasi atau naturalisasi sungai dalam penanggulangan banjir. Selain itu juga agar masyarakat tidak lagi menjadi korban.

“Tanpa kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, mustahil musibah banjir bisa kita minimalisasi. Tanpa kerja sama pemerintah pusat dan daerah, rakyatlah yang lagi-lagi kembali menjadi korban,” katanya.

Kemudian dia juga mengingatkan pentingnya penanaman kesadaran agar bisa hidup selaras dengan alam. Saat ini, nukan hanya Indonesia, tapi seluruh negara juga sedang menghadapi ancaman efek perubahan iklim (climate change).

“Musibah datang tak mengenal suku, agama, ras, status sosial dan ekonomi, pejabat, atau rakyat. Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim bisa kita tanggulangi jika infrastruktur siap, limbah dikelola secara tepat serta lingkungan yang dijaga,” ucapnya.(IN/Red)