24219 KALI DIBACA

UMM Tawarkan Dua Opsi Mahasiswa yang Terancam DO Gara-gara Adminsitrasi

UMM Tawarkan Dua Opsi Mahasiswa yang Terancam DO Gara-gara Adminsitrasi
example banner

Malang I Realitas – Kasus yang menimpa Rahil Hamdani terancam drop out (DO) dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), belum dapat dipastikan ujung penyelesaianya.

Kampus hanya bisa menakar dua opsi dalam persoalan itu. Pertama bisa lulus dan menyandang sarjana atau gagal karena teledor memasukkan data diri dalam sistem akademik.

 

“Untuk persoalan ini, mungkin hanya dua opsi yang bisa dikatakan sebagai jalan penyelesaian. Pertama bisa atau lulus dan menjadi sarjana, dan yang kedua tidak bisa. Karena tidak tercatat dalam sistem akademik,” ungkap Kepala Humas dan Protokoler UMM Joko Susilo kepada wartawan, Kamis (1/8/2019).

 

Dikatakan, melihat apa yang terjadi memang bisa dikatakan karena persoalan remeh. Rahil semestinya menunjukkan kesungguhannya dalam menyelesaikan studi. Apalagi sudah berada di semester 14, yang sebelumnya sudah berkomitmen selesai kuliah tahun ini.

“Sebenarnya persoalannya remeh, namun dampaknya memang sangat luar biasa. Karena bisa dipastikan gagal menjadi sarjana, dan itu baru selesai di semester 14. Kalau di awal memang sungguh-sungguh, tentunya melakukan registrasi tidak lah berat,” kata Joko.

 

Kampus, kata dia, telah bertemu dengan Rahil yang datang bersama keluarganya. Saat itu telah dijelaskan letak persoalan yang dialami mahasiswa jurusan teknik informatika itu.

 

Menurut Joko, sidang skripsi yang telah dilalui oleh Rahil, tak bisa menjadi alasan untuk menggugurkan kesalahan yang dilakukan di awal semester 14. Skripsi hanya sebuah langkah akhir menyelesaikan bidang studi yang dijalani selama di bangku kuliah.

 

“Jangan sampai salah persepsi, sudah sidang skripsi akan lulus dan menjadi sarjana. Ada beberapa proses lain yang harus diselesaikan oleh mahasiswa. Karena skripsi adalah puncak penyelesaikan akhir dari mata kuliah yang telah diberikan,” tutur Joko.

UMM sendiri tengah berupaya menemukan solusi untuk menyelesaikan persoalan itu. Koordinasi dengan Kemenristekdikti sebagai induk perguruan tinggi tidak berhenti dilakukan, setelah masalah ini mencuat.

 

“Kami terus berkoordinasi dengan Kemenristekdikti dan Kopertis, bagaimana bisa menyelesaikannya. Jika berkata aturan, ini jelas salah fatal. Namun, kita berupaya untuk bisa mendapatkan solusi yang terbaik,” sebut Joko.

 

Rahil Hamdani melalui cuitan @malarea yang mengaku sebagai kakaknya mengaku terancam DO, karena hanya persoalan administrasi. Dalam cuitannya, @malarea menulis juga kronologi di mana adiknya (Rahil Hamdani) dinyatakan non aktif sebagai mahasiswa, padahal telah menyelesaikan sidang skripsi.

 

“Kronologinya begini, Adikku adalah mahasiswa Teknik Informatika di @UMMcampus angkatan 2012. Semester ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa lulus, sudah 14 semester. Naasnya, adikku lupa menginput “skripsi” ke dalam KRS semester ini sehingga statusnya “non aktif”,” tuturnya.

Dia menambahkan, kealphaan dalam persoalan administrasi tersebut, baru terungkap setelah sidang skripsi sukses dilalui. Bahkan, ketika itu dosen baru akan memasukkan nilai ke dalam sistem.

 

“Lho ternyata statusnya tidak aktif. Nilai skripsinya tidak bisa diinput,” tulisnya menjelaskan.

 

Insiden ini sangat membuatnya terkejut. Dan dirinya balik bertanya mengapa semua pihak termasuk adiknya baru mengetahuinya saat ini. “Karena dari awal semester 14 kemaren, adikku bisa menjalani proses pengerjaan skripsi tanpa hambatan dari pihak kampus,”.

 

“Adikku sudah bayar uang semester, uang skripsi, SK pembimbing, juga ada berita acara sudah ikut sidang skripsi. Kalau pun lupa input di awal semester, kenapa tidak ada notifikasi waktu bayar SPP dan uang skripsi, hingga bisa dapat SK pembimbing?,” tanya Handayani.

(Dtc/Red/Irfan)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS