15419 KALI DIBACA

Kisah Pilu Seorang Ibu Wakili Wisuda Anaknya yang Tewas Kecelakaan: Harusnya Dia Di Sini

Kisah Pilu Seorang Ibu Wakili Wisuda Anaknya yang Tewas Kecelakaan: Harusnya Dia Di Sini
example banner

Boyolali I Realitas – Wisuda adalah momen yang paling dinanti setiap mahasiswa dan orangtuanya, Momen ini selalu meninggalkan kesan haru bagi peserta karena sudah berhasil meraih gelar sarjana setelah kuliah.

Namun apa jadinya apabila mahasiswa yang akan menerima tanda ijazah dari rektor perguruan tinggi tersebut telah tiada?

Begitulah yang dirasakan orangtua ini, ia tak kuasa menahan tangis saat menghadiri wisuda putrinya yang sudah meninggal dunia akibat kecelakaan maut Boyolali.

Saat nama putrinya, Irza Laila Nur Trisna (21) dipanggil untuk menerima ijazah, air mata Nur Rahman dan Dwi Yani Merbawaningrum pun tak bisa dibendung lagi.

Almarhumah Irza Laila Nur Trisna seharusnya diwisuda pada hari Sabtu (24/8/2019) di Universitas Sebelas Maret ( UNS) Solo.

Namun karena sudah meninggal dunia akibat kecelakaan maut, wisuda mendiang Irza Laila Nur Trisna pun diwakili kedua orang tuanya.

Dilansir Realitas dari Tribun, ayah dan ibu korban datang menggunakan jas dan kebaya.

Mereka datang ke Auditorium UNS sejak pagi dan langsung menuju ruangan wisuda.

Tangis haru juga terlihat dari Ibunda Irza saat momen wisuda tersebut.

Beberapa kali Dwi Yani Merbawaningrum mengelap air matanya saat berada dalam ruangan yang berisi para wisudawan dan wisudawati itu.

Pada momen wisuda tersebut, Rektor Universitas Sebelas Maret ( UNS) Solo, Prof Jamal Wiwoho memberikan ijazah almarhumah Irza Laila Nur Trisna kepada orangtuanya.

Ijazah almarhum Irza Laila Nur Trisna pun dibingkai pakai figura dan diberikan kepada orangtuanya.

Almarhumah Irza Laila Nur Trisna Winandi diwisuda pada tanggal 24 Agustus.

“Yang menerima adalah orang tuanya nanti ijazah Sarjana Pendidikan (SPd) atas nama Almarhum,” papar Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Jamal Wiwoho.

“UNS juga sudah membebaskan biaya perkuliahan jika Almarhumah masih memiliki tanggungan pembayaran,” papar Jamal.

Jamal Wiwoho menyatakan turut berduka cita atas musibah yang menimpa salah satu mahasiswinya yang bernama Irza Laila Nur Trisna Winandi.

Irza yang merupakan mahasiswi dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK) FKIP UNS angkatan 2015.

“Kami segenap sivitas akademika UNS turut berduka cita atas meninggalnya salah satu mahasiswi UNS yang berprestasi atas nama Irza Laila Nur Trisna Winandi,” papar Jamal.

Teringat Putrinya

Ibunda korban Laka maut Boyolali Irza Laila Nur Trisna menangis pada hari wisuda almarhum di Auditorium UNS, Sabtu (24/8/2019).

Dwi Yani Merbawaningrum mengaku mengingat sosok anaknya tersebut saat wisuda di Auditorium UNS.

“Hari ini walaupun banyak sedihnya juga banyak bangganya,” papar Dwi Yani ditemui usai wisuda, Sabtu (24/8/2019)

Suaranya masih serak menahan tangis saat menyatakan keinginannya melihat langsung putrinya di wisuda dan menggunakan toga diatas podium.

Namun, semua keinginannya tersebut saat ini tinggal keinginan semata.

Sebab, anak sulungnya tersebut meninggal dalam Insiden laka maut di Puskesmas Mojosongo Boyolali beberapa waktu lalu.

Air matanya tak terbendung mengingat Putri Sulungnya yang dulu dekat dengannya dalam berbagai momen semasa hidup.

Pihaknya harus ikhlas dengan kepergian putrinya tersebut dan kuat mewakili putrinya untuk maju bersama suaminya, Nur Rahman di atas podium wisuda.

“Ya tadi menangis keinget anak saya, harusnya dia di sini maju wisuda, tapi ya sudah,” kata Dwi Yani Merbawaningrum dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.

Dwi Yani tak menampik bahwa banyak kenangan mendalam bersama sang putri semasa dia hidup.

Banyak keinginan putrinya yang belum terwujud dan semua diceritakan pada Dwi Yani.

Kumpulan kenangan manis tersebut yang membuat air mata Dwi Yani tak terbendung mengingat sang putri sulung.

Keluarga Almarhum Irza Laila Nur Trisna berterima kasih dengan UNS yang memberikan penghargaan pada putrinya untuk tetap di wisuda.

“Kita sampaikan terimakasih atas penghargaan yang diberikan UNS Solo pada almarhum putri kami,” kata Dwi Yani.

Kronologi Kematian Korban

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Boyolali – Solo KM 4 Mojosongo, Boyolali Kamis (25/7/2019) pagi.

Korban bernama Irza Laila Nur Trisna Winandi (21) warga Karanggeneng, Boyolali.

Sementara Sopir Truk Kontainer H 1975 BH bernama Solkan warga Kendal, Jawa Tengah.

Kronologis kejadian Truk Kontainer H 1975 BH diduga rem blong datang dari arah barat ke timur menuju Solo.

Saat sampai di lokasi kejadian, traffic light menunjukan warna merah dan banyak kendaraan yang berhenti di lokasi tersebut.

“Sopir yang tidak bisa mengendalikan kendaraannya kemudian memutuskan untuk banting setir ke kanan,” papar Kapolres Boyolali AKBP Kusumo Wahyu Bintoro, Kamis (25/7/2019).

Alhasil kontainer jadi melompat melewati median jalan dan menghantam bangunan Puskesmas Mojosongo tepatnya di Mushola Puskesmas.

Saat yang bersamaan di Mushola tersebut juga ada korban Irsya yang sedang menunggu menjemput ibunya yang ingin ikut ujian bersamanya.

“Korban menunggu ibunya, dan disitu malah tertabrak truk juga,” papar AKBP Kusumo.

“Ibunya juga seorang bidan di Puskesmas sini,” jelas AKBP Kusumo.

Selain menabrak gedung, Truk Kontainer juga menabrak empat motor yang parkir di lingkungan puskesmas Mojosongo, Boyolali.

Kisah Serupa

Inilah kisah Rina Muharrami, mahasiswi yang seharusnya hadir menerima tanda ijazah dari rektor pada akhirnya harus digantikan ayahnya, karena mahasiswi yang bersangkutan telah tiada.

Kisah mengharukan ini terekam dalam sebuah video yang diunggah akun instagram UIN Ar Raniry, Rabu (27/2/2019) dalam sebuah kegiatan hari kedua wisuda mahasiswa UIN Ar Raniry di kampus tersebut.

Seperti alur yang terekam dalam video ini tampak seorang bapak ikut dalam antrean barisan mahasiswa yang akan diwisuda.

Saat nama Rina Muharrami dipanggil MC sang bapak tersebut menghampiri podium dan seperti layaknya mahasiswa lain, Rektor UIN Ar Raniry Prof Warul Walidin menyerahkan sebuah map tanda kelulusan sebagai sarjana.

Saat momen itu berlangsung, sontak seisi ruangan auditorium tempat wisuda berlangsung tiba-tiba hening, disusul kemudian suara applus untuk sang bapak dari para hadirin.

Tidak sedikit para peserta, dosen dan undangan berurai air mata melihat momen tersebut.

Haru dan begitu menyentuh.

Informasi yang dihimpun Serambinews.com dari berbagai sumber sosok lelaki itu adalah Bukhari yang merupakan orang tua dari Alm Rina Muharrami, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry yang meninggal dunia beberapa hari setelah menyelesaikan sidang skripsinya.

Sidang munaqasyah berlangsung pada tanggal 24 Januari 2019. Beberapa tahun kemudian, Rina yang lahir di Bayu, 16 Mei 1996, berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 5 Februari 2019 karena sakit.

Akun UIN Ar Raniry dalam keterangan videonya menuliskan kata-kata yang begitu menyentuh.

“Anakku, hari ini Ayah datang ke acara wisudamu bersama ayah-ayah temanmu yang lain.

Ayah yang lain datang untuk melihat anaknya jadi sarjana, sementara ayah datang untuk menggantikanmu mengambil tanda sarjana dari kampusmu, Nak.

Sebenarnya kaki ayah tak lagi kuat, tapi ayah tegapkan langkah menaiki anak tangga untuk maju mengambil ijazahmu.

Hari ini Ayah berdiri di depan teman-temanmu.

Ayah sedih Nak, karena seharusnya kita ada di sini bersama.

Tetapi ayah bangga padamu, kamu itu hebat dan mampu meraih impian yang besar.

Dan kelak ayah akan menceritakan kepada warga di desa kita bahwa anak ayah seorang sarjana.

Seketika terbayang di pelupuk mata engkau datang tersenyum sangat manis dengan baju wisuda yang sangat kau idam-idamkan itu.

Kamu seakan membisikkan ditelinga ayah:

Ayah, anakmu wisuda…”

Beberapa jam sejak diunggah video ini telah ditonton lebih 45 ribu kali dan menuai ribuan tanggapan.

Umumnya para netizen yang berokomentar menyatakan keharuannya.

Akun instagram @budi_azhari menulis,

“Sama seperti anak-anak lainnya, Rina juga berjuang keras menggapai impiannya menjadi seorang sarjana.

Gelar sarjana itu bukan saja sebagai suatu gelar akademik bagi dirinya.

Namun lebih dari itu, ijazah sarjana ingin dipersembahkan kepada kedua orang tuanya.

Untuk mengeringkan keringat Ayah yang lelah bekerja dalam membiayai pendidikannya.

Rina ingin menghadirkan senyum bahagia dari kedua orangtuanya. Sebagai bentuk pengabdiannya.”

Dosen Pendidikan Matematika FTK UIN Ar Raniry itu juga menulis bait doa,

“Selamat jalan Rina… Allah lebih sayang padamu ketimbang orang tua, saudara, guru dan teman-temanmu.

Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik disisi-Nya dan dihapuskan segala salah dan dosa.”

Bait-bait doa juga dihantarkan ribuan netizen lainnya yang menyaksikan video itu.

(Smb/Red/Irfan)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS