26619 KALI DIBACA

Saidina, Bocah Penderita Tumor Ganas Di Subulussalam

Saidina, Bocah Penderita Tumor Ganas Di Subulussalam
example banner

SUBULUSSALAM I Realitas – Keceriaan Saidina Zikirillah, bocah laki-laki berusia 1,6 tahun, asal Desa Sigrun, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam sudah sirna setelah lehernya digerogoti tumor ganas hingga berimbas mengenai bagian dagu dan tengkuk.

Hampir genap 15 bulan penyakit tumor ganas menggerogoti leher bocah malang yang kini hanya dirawat seadanya di rumah sang nenek Desa Pulo Kedep, Kecamatan Sultan Daulat.

Kisah miris bocah Saidina ini diungkap Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Kota Subulussalam Edisaputra Bako saat berkunjung ke Sultan Daulat, Kamis (11/7/2019).

Putra pertama pasangan Junaidi dengan Mulyati ini harus meringis kesakitan setiap penyakit yang menggelayut di lehernya kambuh.

Sang bocah yang sejatinya sedang ceria dan smart merangkak kini hanya banyak berdiam karena sakitnya saban waktu menimbulkan sakit.

Menurut Edi, seperti penuturan sang ibu, Saidina terlihat segar bugar disaat penyakitnya tidak kambuh.

Namun, kala penyakit itu  mulai kambuh, Saidini pun hanya tergeletak dan tidak mau makan dan minum.

Bahkan, lanjut Edi dalam kondisi kambuh ini mulut Saidina mengeluarkan darah dan ada bintik bulat di lidahnya.

Edi menambahkan, dari keterangan orang tua Saidina, bocah malang ini diketahui mengidap penyakit bagian leher saat berusia tiga minggu.

Saat itu, keluarga melihat ada benjolan di leher Saidina.

Namun keluarga belum begitu mengerti penyakit yang mendera sang anak.

Seiring bertambahnya usia Saidina, lehernya juga ikut membesar.

“Kalau kita tekan tidak keras. Seperti balon diisi air di lehernya,” kata Mulyati sebagaimana dituturkan Edi didampingi Kaya Alim, sekretaris YARA

Mulyati juga  mengaku dia bersama suaminya sudah membawa ke RSUD Subulussalam untuk diperiksa.

Dokter menyampaikan bahwa Saidina menderita tumor ganas dan tidak bisa ditangani di RSUD setempat, tapi harus ke Rumah sakit Medan atau Banda Aceh.

Namun, apa daya, niat Mulyati dan suami untuk membawa ankanya ke Banda Aceh kandas lantaran terbentur biaya.

Betapa tidak, Junaidi ayah Saidina hanyalah seorang buruh kebun.

Sementara sang bunda tak memiliki penghasilan lantaran hanya sebagai ibu rumah tangga.

Sebagai buruh kebun, Junaidi tak mampu menyiapkan bekal biaya mereka saat perawatan anak selama di rumah sakit.

Sebab, meski pengobatan ditanggung pemerintah namun ada hal-hal yang harus disiapkan keluarga termasuk berbagai kebutuhan pendampingan.

Uang hasil jerih payah sebagai buruh tak dapat diandalkan karena hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kini, kondisi Saidina makin memprihatinkan.

Meski bentuk tubuh normal layaknya anak seusianya, namun ketika melihat lehernya  yang menjadi benjolan besar dan menjalar membuat iba siapapun yang melihatnya.

Apalagi sewaktu kambuh mengalir darah disertai rintihan tangis sang bocah malang itu.

Akibatnya, kedua orangtua Saidina  tidak bisa tidur lantaran sang anak selalu merintih kesakitan.

“Sejak kondisinya seperti itu darah sering keluar dari matanya. Setiap saat dia merintih kesakitan sehingga kami harus jaga siang malam nonstop,” ujar Mulyati.

Kondsi Saidina saat ini, memang sangat berat untuk dijalani.

Apalagi, orang tuanya yang miskin tidak bisa berbuat banyak.

Sebab hari-hari Junaidi dan istri cuma diisi ratapan dan rintihan anaknya Saidina.

Kini Junaidi dan Mulyati hanya mampu berdoa dan berharap untuk kesembuhan anaknya Saidina sehingga bisa seperti anak seusianya yang normal.

Kedua orangtua Saidina berharap belas kasihan para dermawan dan  pembaca Serambinews.com di manapun.

Sehingga bocah malang itu dapat meniti masa depannya seperti anak-anak lainnya. (*/Tribun/Nrl)

 

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS