28419 KALI DIBACA

Bertarung Dengan Ombak, Nelayan Abdya Jaring Udang ‘Sabu’

Bertarung Dengan Ombak, Nelayan Abdya Jaring Udang ‘Sabu’
Nelayan menjemur udang rebon di kompleks PPI Ujung Serangga Kecamatan Susoh, Abdya, Rabu (31/7).
example banner

Blangpidie | Realitas –  Nelayan tradisional di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam sepekan terakhir memanen udang rebon atau sabu (sebutan keseharian daerah setempat) dengan cara menjaring di pecahan ombak laut dangkal pinggir pantai wilayah setempat.

Undang musiman dalam bentuk kecil ini menjadi berkah tersendiri dan dimanfaatkan oleh para nelayan termasuk kalangan masyarakat setempat dengan menggunakan alat tradisional sederhana.

Sudirman nelayan di Ujung Serangga Kecamatan Susoh Rabu (31/7) mengatakan, hampir setiap hari para nelayan dan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir sibuk mencari udang rebon. Mereka menyebar mulai dari perairan Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Padang Kawa dan Mon Mameh, Kecamatan Tangan-Tangan, Rubek Meupayong, Pantai Bali, Pantai Jilbab hingga ke kawasan Ujung Serangga Kecamatan Susoh. Pada musim barat, udang kecil yang biasa digunakan sebagai bahan baku utama terasi itu banyak diburu warga.

Alat tangkap yang digunakan juga sangat sederhana, mulai dari penebaran pukat darat yang kemudian ditarik ke tepian secara beramai-ramai dan menggunakan jaring yang sebelumnya telah dirakit untuk digunakan nelayan menangkap udang sambil menyelam di balik ombak besar.

Bahkan oleh masyarakat setempat, udang rebon yang masih basah dan segar sengaja dikeringkan untuk dijadikan udang sabu (udang kering). Dimana, udang sabu ini termasuk salah satu lauk yang disukai masyarakat setempat saat menyantap nasi.

“Dalam sepekan ini, udang sabu banyak ditangkap nelayan. Bahkan warga dalam setiap paginya memadati pesisir pantai untuk memperoleh udang ini,” ungkapnya.

Kalau dijual kepada pengepul atau industri terasi perumahan, harga udang rebon kering mencapai Rp 30-60 ribu perkilogram, tergantung kualitasnya. Khusus udang rebon basah atau masih segar, satu keranjang dengan bobot kurang lebih 20 kg dihargai sekitar Rp150-200 ribu.

Muklis nelayan lainnya menambahkan, sejauh ini proses pengeringan udang umumnya mengandalkan panas matahari. Udang rebon hasil tangkapan nelayan, oleh para pedagang dijemur di tempat terbuka yang langsung terkena panas matahari. Bahkan nelayan mengeringkan udang dimaksud di halaman rumah. Ada juga yang menjemur di pinggir jalan desa dan dipinggir pantai.

Udang rebon ini, memang banyak diburu produsen termasuk warga dari sejumlah daerah. “Udang rebon ini bermusim tepatnya disaat musim barat, jadi persediaannya pun tidak selalu ada. Kalau musimnya usai, udang tersebut juga susah didapat,” terangnya.

Novi, salah seorang pembeli yang langsung mendatangi lokasi pantai Ujung Serangga mengaku mendapatkan udang rebon dengan harga yang relatif murah. Karena langsung mendatangi lokasi penjaringan khusus untuk menangkap udang rebon.  “Kalau mau dapat lebih murah lagi, bisa kita bantu nelayan untuk menarik pukat,” singjatnya. (Syahrizal/Red)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS