39219 KALI DIBACA

4 Orang Pembobol Rutan Jadi Tersangka

4 Orang Pembobol Rutan Jadi Tersangka
example banner

Lhoksukon I Realitas – Penyidik Reskrim Polres Aceh Utara, Selasa (25/6), menetapkan empat dari 73 narapidana (napi) dan tahanan yang kabur dari Cabang Rumah Tahanan Negara (Rutan) Lhoksukon, Aceh Utara, sebagai tersangka. Mereka adalah Safrijal (42), terpidana kasus pembunuhan, Nanda Saryulis (22) dan Rahmat Irmawan alias Slamet (35) yang keduanya merupakan napi kasus penggelapan, serta Bima Saputra (26) yang masih berstatus tahanan karena terlibat pengaiayaan terhadap ayah tirinya.

Untuk diketahui, Safrijal (42) yang tercatat sebagai warga Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, divonis seumur hidup dalam kasus pembunuhan M Amin (73), Peutuha Peut Dusun Alue Mudek, Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Adapun Nanda Saryulis (22) adalah warga Desa Tanjong Dalam Selatan, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

Sementara Rahmat Irmawan asal Desa Buket Antara Satu, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, sebelumnya dihukum dua tahun penjara dan saat kabur sisa pidananya satu tahun lima bulan 17 hari. Kini, Rahmat sedang menjalani hukuman di Rutan Bener Meriah karena pada 19 Juni 2019, ia dipindahkan bersama 13 napi lain oleh pihak Rutan Lhoksukon ke Bener Meriah. Sedangkan Bima Saputra (26), warga Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara saat ini sedang menjalani proses persidangan.

Seperti diberitakan sebelumnya Cabang Rutan Lhoksukon, Minggu (16/6) sekitar pukul 15.45 WIB, dibobol oleh puluhan napi dan tahanan dengan cara merusak tiga pintu. Sehingga, 73 orang dari 447 napi dan tahanan, berhasil kabur. Dalam kejadian tersebut, seorang sipir dan napi pendamping (tamping) yang coba berusaha menahan mereka, dipukul oleh napi dan tahanan yang melarikan diri tersebut.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin, melalui Kasat Reskrim, Iptu Rezki Kholiddiansyah, kepada Serambi, kemarin, menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan, pembobolan rutan tersebut dilakukan oleh Safrijal. “Safrijal mendobrak pintu tiga kali sambil memprovokasi napi dan tahanan lain, sehingga mereka ikut-ikutan mendobrak pintu,” ungkap Kasat Reskrim.

Saat itu, lanjut Iptu Rezki Kholiddiansyah, sipir sedang membagikan nasi untuk napi dan tahanan, sehingga pintu tiga dikunci. Setelah berhasil mendobrak pintu tiga, kemudian tersangka merusak jendela dan pintu utama menggunakan kursi besi. Kursi tersebut kini sudah dijadikan sebagai barang bukti. “Setelah napi dan tahanan kabur, petugas langsung keluar untuk mencari bantuan dan menggunci pintu utama Rutan,” kata Kasat reskrim. Tapi, napi dan tahanan juga merusak pintu utama itu dan kemudian langsung kabur.

Dari 73 napi dan tahanan yang kabur, sebut Kasat Reskrim, 29 orang di antaranya sudah berhasil ditangkap kembali, empat orang menyerahkan diri, dan satu orang ditemukan meninggal di sungai kawasan Meunasah Pante, Kecamatan Lhoksukon. Sedangkan sisanya 39 orang (13 napi dan 26 tahanan) lagi belum ditemukan. “Kita imbau mereka segera menyerahkan diri,” pungkas Kasat Reskrim.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin, melalui Kasat Reskrim, Iptu Rezki Kholiddiansyah, kepada Serambi, kemarin, juga menjelaskan, tindakan itu dilakukan Safrizal karena ia cemburu terhadap Marliah (31), pacarnya yang didekati pria lain yang juga ditahan dalam rutan tersebut.

Untuk diketahui, Marliah, perempuan asal Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, yang tak lain adalah selingkuhan Safrijal, juga harus mendekam di balik jeruji besi karena terlibat kasus yang sama yaitu pembunuhan terhadap suaminya M Amin (73), Peutuha Peut Dusun Alue Mudek, Desa Teupin Reusep. Berdasarkan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, pada 28 Mei 2019, Marliah divonis 15 tahun penjara dikurangi masa tahanan sebelumnya.

Safrijal kepada wartawan juga mengakui, dirinya mendobrak pintu tiga rutan karena kesal dan cemburu terhadap Marliah. “Sore itu, saya tak pikir panjang lagi. Jadi, saya sampaikan ke kawan-kawan, aiapa mau lari, lari terus, saya mau dobrak pintu rutan,” ujar Safrijal. Lalu napi lain menyebutkan, kalau pintu rutan berhasil didobrak, mereka akan ikut lari.

“Karena cemburu saya jadi nekat. Saya tabrak pintu itu tiga kali, kemudian diikuti napi lain,” katanya. Setelah mendobrak pintu, lanjut Safrijal, dirinya hendak masuk ke sel wanita untuk menganiaya Marliah menggunakan pasta gigi yang sudah diruncinginya. “Tapi, karena yang lain sudah kabur, saya juga ikut kabur,” timpal Safrijal.

Safrizal menyatakan dirinya sakit hati terhadap Marliah, karena ingkar janji. “Sampai di sini, dia (Marliah-red) sudah berubah, nggak sama lagi seperti yang dia janjikan dulu saat saya membunuh suaminya. Jadi, saya dibuat jadi korban oleh dia,” ungkap Safrijal kecewa.(jaf/Tribun/Nrl)

 

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS