25819 KALI DIBACA

22 Pasien DBD Di Aceh Timur

22 Pasien DBD Di Aceh Timur
Salah Satu Warga Yang Terjangkit DBD
example banner

IDI I Realitas – Hingga 14 Juni 2019, sebanyak 56 kasus DBD terjadi di Aceh Timur. Kecamatan terbanyak penderita adalah Julok, dengan 20 kasus. Warga di berbagai gampong diminta menjaga kebersihan lingkungan, sehingga nyamuk Aedes Aegypti tidak berkembang.

“Selama bulan Juni 2019, sebanyak 22 pasien DBD dirawat di RSUD Zubir Mahmud,” ungkap Direktur RSUD dr Zubir Mahmud, Dr Edi Gunawan, kepada Serambi, Minggu. Dari 22 pasien yang ditangani tersebut, jelas Edi, seorang di antaranya berusia di bawah 10 tahun, selebihnya pasien remaja dan dewasa. “Semua pasien yang positif DBD ini ditangani sesuai prosedur yang berlaku. Namun yang paling penting adalah asupan cairan tubuh harus terjamin, baik melalui infus maupun melalui makanan dan minuman,” jelas Edi.

Selain itu, jelas Edi, pasien yang positif DBD harus dijaga jangan sampai tergigit nyamuk Aedes Aegypti agar tidak menularkan ke pasien lain atau keluarga pasien, bahkan petugas medis dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Selain itu, jika si pasien berkurang trombosit akan disertai tanda-tanda pendarahan di dalam tubuh. Biasanya pasien ditangani dengan pemberian transfusi darah. “Bisa darah lengkap atau whole blood, atau sel darah merah, packed red cells. Bisa pula ditransfusi dengan sel-sel trombosit atau platelet,” jelas mantan direktur RSUD Sulthan Abdul Aziz Syah tersebut.

Sementara itu, orang tua pasien DBD yang dirawat di RSUD Zubir Mahmud saat ditemui Serambi meminta Pemkab Aceh Timur melalui dinas terkait agar melakukan pencegahan agar virus dengue yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut tidak terus mewabah.

“Kami mohon perhatian dan ada tindak lanjut dari Pemkab Aceh Timur seperti melakukan fogging. Jika penanganan terlambat, maka banyak korban yang akan muncul,” pinta orang tua sekaligus PNS Aceh Timur yang enggan namanya disebutkan.

Salah satu keluarga dari Gampong Seuneubok Teungoh, Kecamatan Idi Rayeuk, mengaku ketiga anaknya terjangkit gejala DBD. Seorang pasien yang sedang dirawat, Baihaki, mengatakan, sebelum dirinya terjangkit DBD, lebih dulu tetangganya yang terjangkit di Gampong Lhok Asahan, Kecamatan Idi Timur. Lhok Asahan bertetangga dengan Seunebok Teungoh, sehingga sebagian warga Seunebok Teungoh dan gampong lainnya juga terjangkit DBD. “Gejala awalnya saya merasakan demam tinggi, pusing, mual, dan muntah-muntah,” ungkap Baihaki.

Kepala Dinas Kabupaten Aceh Timur, Sahminan, memohon bantuan dan partisipasi petugas Babinsa dan segenap lapisan masyarakat dari berbagai unsur untuk mengawasi gampong-gampong yang tingkat kebersihannya masih rendah. “Karena mengatasi dengan cara fogging (pengasapan) bukanlah tindakan untuk membasmi dan memberantas sumber penyakit. Tindakan yang paling tepat adalah dengan cara pemberantasan sarang nyamuk di berbagai tempat dan sumber,” jelas Kadinkes Aceh Timur, Sahminan, didampingi Sekdis Dr Zulfikry, kepada Serambi, Minggu.

Sahminan mengatakan, sejak 20 November 2018, pihaknya telah menyurati kepala Puskesmas, untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit demam berdarah dengeu (DBD).

Selain itu, para kepala Puskesmas juga telah menyurati seluruh keuchik, imum mukim, Muspika, di seluruh Aceh Timur, bahwa sampai saat ini masih banyak gampong yang tingkat kebersihan lingkungannya rendah.

Hal ini, jelas Sahminan, dibuktikan dengan meningkatnya kasus DBD di Aceh Timur, yaitu hingga 14 Juni 2019 mencapai 56 kasus. Kasus tertinggi di bulan Juni, yaitu 21 kasus. Sedangkan kecamatan tertinggi warganya terjangkit DBD yaitu Julok dengan jumlah pasien mencapai 20 orang. Terkait tingginya kasus DBD di Aceh Timur ini, jelas Sahminan, petugas dari Dinkes Aceh Timur bekerja sama dengan petugas di setiap kecamatan telah melakukan penyuluhan kepada masyarakat dan melakukan fogging ke daerah yang terjangkit DBD. (Tribun/Nrl)

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS