28819 KALI DIBACA

Video Napi Diseret Viral Dimedia Sosial, Kalapas Nusakambangan Di Copot

Video Napi Diseret Viral  Dimedia Sosial, Kalapas Nusakambangan Di Copot
example banner

Semarang | Realitas – Video tindak kekerasan terhadap narapidana narkotika pindahan dari Lapas Krobokan dan Lapas Bangli, Bali ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah akhirnya viral dan menghebohkan jagat media sosial.

Bahkan atas insiden itu Kepala Lapas Narkotika Cilacap langsung di copot dari jabatan.

Video berdurasi 01:22 menit itu pertama kali diposting oleh admin facebook Forum Pengamat Pemasyarakatan.

Bahkan baru sehari lalu di posting sudah di sukai 8.204 orang, di komentari secara beragam ada yang mendukung, mengkritik dan komentar datar, guyonan mencapai 12.338 orang dan dibagikan 32.615 orang.

Dalam keterangan videonya, dikatakan napi diperlakukan layaknya binatang, disebut pemasyarakatan atau penjara.

Sedangkan videonya disebut terjadi di dermaga Wijayapura, Pintu Gerbang Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Admin Forum Pengamat Pemasyarakatan melalui saluran telepon dan whatsappnya, T. Sayed Azhar, membenarkan video tersebut merupakan unggahannya, yang didapat dari sumber di lokasi kejadian.

Namun demikian, ia mengaku tidak mengetahui pasti keberadaan video itu.

Dikatakannya, dari informasi yang di terimanya para napi tersebut pindahan dari Lapas di Bali, sedangkan kejadiannya pada 28 Maret 2019.

Menyikapi insiden itu, pihaknya juga mengusulkan, Kepala Lapas, Kadivpas, Kakanwil hingga Dirkamtib seharusnya dicopot, termasuk seluruh pegawai yang terlibat.

Dikatakannya, Dirjenpas pernah mengatakan jika program revitalisasi telah dijalankan di Lapas Nusakambangan.

Namun ia mempermasalahkan, apakah demikian wujud programnya.

Selain itu, lanjutnya, jika napi tersebut high risk mengapa ditempatkan ke Lapas Narkotika Nusakambangan, bukan ke Lapas Batu yang berstatus lapas high risk, dengan demikian menurutnya hal itu membuktikan kebohongan.

“Di Lapas Klas I Medan ada 3 napi yang merupakan bos narkoba dan sudah berkali-kali terlibat mengendalikan narkoba, atas nama Karun, Hasan dan Andy Voon, namun nyatanya mereka tidak dipindahkan ke Nusakambangan,” kata Sayed Azhar, kepada wartawan, Jumat (3/5/2019).

Ia kembali menanyakan, untuk cancel pemindahan ke lapas itu, apakah setiap kali pemindahannya selalu mengeluarkan uang mulai ratusan hingga miliaran rupiah.

Dengan demikian, lanjutnya, banyak napi yang menjadi korban ditumbalkan dipindahkan ke lapas tersebut untuk menutupi seakan-akan para napi high risk.

“Tapi karena para petugas disana tahu jika yang dipindah napi tidak berduit, maka diperlakukan demikian,”tandasnya.

Terpisah, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Produksi Kemenkum HAM, Junaedi, dalam jumpa pers di Lapas Narkotika Cipinang, mengakui kejadian itu.

Dikatakannya, peristiwa itu terjadi Kamis, 28 Maret 2019 saat proses pemindahan 26 narapidana dari Bali ke Lapas Nusakambangan.

Masing-masing 10 orang napi dari Lapas Krobokan dan 16 orang dari Lapas Bangli.

Dalam insiden itu, Kalapas Narkotika Nusakambangan didampingi Kabid Kamtib Lapas Batu selaku penanggung jawab Satgas Pengamanan Penyebrangan telah mengumpulkan seluruh anggota satgas dan tim dari Lapas Narkotika Nusakambangan di lokasi.

Semua diberi arahan agar para napi diperiksa teliti agar tidak terulang kasus masuknya narkoba yang dibawa napi pindahan.

Rombongan napi tiba sekitar pukul 13.30 WIB dan diturunkan di halaman depan Pos Satgas Wijayapura di Dermaga Wijayapura, pintu masuk menuju Lapas Nusakambangan.

Pada saat proses pemeriksaan napi sebelum diseberangkan ke Lapas Nusakambangan ini lah terjadi pelanggaran.

“Dari peristiwa itulah terjadi pelanggaran prosedur, sekali lagi, pelanggaran prosedur, yang dilakukan oleh para petugas sebagaimana video yang sementara ini beredar di masyarakat,” kata Junaedi.

Ia juga menyebutkan, Kalapas Narkotika Nusakambangan berinisial HM dinilai lalai karena tidak mampu mengendalikan anak buahnya sebanyak 13 orang sehingga terjadi pelanggaran prosedur.

Seluruh petugas tersebut sudah diperiksa dan membenarkan adanya tindakan kekerasan tersebut.

“Kalapas Narkotika telah dinonaktifkan, ditarik ke kantor wilayah dan Kemudian kepala kantor wilayah menunjuk pelaksana harian, yaitu pejabat Kabid Pembinaan Lapas Batu, saudara Irfan Wijaya, untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala di Lapas Narkotika Nusakambangan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu napi narkotika yang ditahan di Lapas di Jateng, Abdul, mengomentari video itu melalui pesan facebooknya, dengan menyampaikan, jika ternyata masih ada beberapa orang terpidana yang di pindah ke Lapas Nusakambangan, kemudian masih ada yang nekat membawa sabu dan narkotika ilegal lainnya, dengan demikian membuktikan betapa sulitnya orang untuk lepas dari jerat ketergantungan obat.

Dikatakannya, sangat jelas terlihat permasalahan yang sebenarnya adalah kecanduan yang membuat seseorang sulit lepas dari jerat peredaran gelap narkotika.

Menurutnya, tempatnya bisa terjadi dimana saja, apalagi ruang lingkup penjara yang notabene di penuhi oleh terpidana dengan permasalahan yang sama.

Untuk itu, pihaknya menyarankan sebaiknya negara mengeluarkan kebijakan yang lebih fokus pada pengobatan pemulihan terhadap pecandu.

“Jadi bukan justru tindakan pemenjaraan, karena semakin membuat jaringan luas terkait peredaran narkotika, kemudian semakin rumit dan tidak pernah ada ujung solusinya,” tulisnya. (Jatengtoday/Red)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS