35819 KALI DIBACA

Polres Bandung Ungkap Kejahatan Jaringan Penipu Bermodus Rayuan Lewat Medsos

Polres Bandung Ungkap Kejahatan Jaringan Penipu Bermodus Rayuan Lewat Medsos
example banner

Soreang | Realitas – Polres Bandung berhasil mengungkap kejahatan jaringan penipu bermodus rayuan lewat media sosial facebook.

Dari tujuh tersangka, dua di antaranya residivis yang ikut mengendalikan jaringan tersebut dari dalam rumah tahanan (Rutan).

Kapolres Bandung AKBP Indra Hermawan melalui Wakapolres Mikranuddin Syahputra mengatakan, lima tersangka berinisial MRH, RGB, Rd, AR dan AS, saat ini sudah dijebloskan di ruang tahanan Polres Bandung.

“Sedangkan dua tersangka lain DF dan AMR, merupakan residivis yang masih berada di rutan (Kebonwaru Bandung),” ujarnya di Mapolres Bandung, Senin (20/5/2019) malam.

Pengungkapan kasus rayuan para tersangka laki-laki terhadap korban perempuan melalui media sosial ini, berawal dari laporan yang diterima Polres Bandung pada 12 Mei 2019.

Kurang dari sepekan, para tersangka pun berhasil ditangkap di beberapa lokasi pada 18 Mei 2019.

“Modusnya adalah berkenalan kemudian merayu korban lewat media sosial facebook,” katanya.

Para tersangka sengaja membuat akun palsu di media sosial dengan foto profil dan nama orang lain yang sangat keren.

Selain itu demi menarik dan mengelabui korban perempuan, para tersangka juga membuat seolah-olah profilnya terlihat keren dengan menambahkan status pekerjaan di pelayaran sebuah perusahaan besar di Papua.

“Setelah berkenalan, tersangka yang berada di dalam lapas kemudian menjalin komunikasi dengan korban lewat aplikasi pesan singkat sampai mereka terjerat dan menjalin sebuah hubungan asmara,” ujarnya.

Kemudian beberapa waktu setelah berhubungan jarak jauh, kata Mikra, para tersangka ini kemudian mengajak korbannya untuk bertemu dengan janji memfasilitasi biaya kepulangan para korban nantinya.

Bujuk rayu tersangka diperkuat dengan menunjukan tanda pengenal karyawan perusahaan besar tersebut dan cek senilai Rp 2 miliar.

Namun sebelumnya, korban diminta untuk mentransfer sejumlah uang yang nantinya akan diganti setelah korban mendapat bagian dari pencairan cek tersebut.

Termakan bujuk rayu tersebut, sejumlah korban pun akhirnya rela memberikan uang kepada tersangka berkisar Rp 10-30 juta setiap orangnya.

Uang tersebut ditransfer ke rekening atas nama Maryono dan Muhamad Rizky Hardiansyah di bank yang berbeda dan dipegang oleh para tersangka di luar rutan.

“Para korban baru menyadari tertipu, setelah tersangka tak bisa dihubungi setelah ditransfer, yang melaporkan kejadian ini baru satu korban, namun kami yakin korbannya banyak karena pelaku sudah beraksi sejak 2016,” tuturnya.

Dari para tangan tersangka polisi berhasil menyita ratusan juta uang yang berasal dari korbannya.

Selain itu polisi juga menyita puluhan telepon genggam yang biasa dipakai para tersangka dalam menjalankan aksinya.

“Kami juga berhasil menyita barang bukti dari para tersangka di antaranya ada 33 telepon genggam, uang tunai Rp 142 juta, 1 unit mobil, 3 sepeda motor, 73 buku tabungan, 2 dompet dan 17 kartu ATM,” tuturnya.

Atas perbuatannya para tersangka ini dijerat pasal 378 dan atau 372 KUHPidana tentang penipuan dan penggelapan.

Selain itu, mereka juga akan dikenakan Undang-Undang ITE dan atau UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

“Kami juga sudah bekerja sama dengan pihak bank untuk menelusuri kemungkinan barang bukti tindak pidana pencucian uang lainnya, kami akan mencari aset-aset lain yang berhasil dibeli pelaku dengan uang hasil menipu para korban,” ujarnya. (tribunnews/iqbal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS