22819 KALI DIBACA

Pernyataan ‘Garis Keras’ Tuai Kontroversi, Mahfud Minta Maaf

Pernyataan ‘Garis Keras’ Tuai Kontroversi, Mahfud Minta Maaf
example banner

Pakar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, melontarkan permintaan maaf terhadap mereka yang telah salah memahami pernyataannya soal sebaran kemenangan paslon nomor urut 02 dalam Pilpres 2019 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ada di daerah yang diidentifikasi sebagai provinsi garis keras dalam hal agama.

“Arti garis keras di dalam literatur ‘is an adjective describing a stance on an issue that is inflexible and not subject to compromise’. Arti ini tak bisa dicabut karena sudah jadi term dalam ilmu politik secara internasional. Tapi bagi yang salah memahami penggunaan istilah ini saya minta maaf,” demikian kicauan Mahfud lewat akun media sosial Twitter-nya, Rabu (1/5) pada pukul 6.35 WIB.

Itu adalah bagian akhir dari rangkaian twit yang Mahfud buat soal klarifikasi atas pernyataan daerah garis keras yang menjadi kontroversi tersebut. Ada empat twit dalam rangkaian tersebut.

Pertama, Mahfud menjelaskan bahwa istilah garis keras atau hard liner itu harus diartikan sikap yang kokoh, tidak mau berkompromi dengan pandangan yang dianggapnya tidak sejalan dengan prinsipnya.

“Itu tertulis di literatur-literatur. Tapi, bagi yang beda paham saya minta maaf. Maksud saya mengajak rekonsiliasi, bersatu, kok malah berpecah. Itu tidak bagus,” keluh Mahfud.

Mahfud pun enggan memperpanjang polemik itu karena tak mau dituding mau membelokkan isu dari kecurangan pemilu.

“Mari kita kawal saja bersama-sama proses pemilu ini karena jalannya masih panjang. Semua harus mendapat keadilan sesuai tuntutan demokrasi. Demokrasi harus selalu diimbangi hukum (nomokrasi),” saran pria yang kini dikenal sebagai Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan tersebut.

Pernyataan Mahfud itu diketahui dalam potongan rekaman video yang dibagikan di Twitter. Dalam pernyataannya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menilai kemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019 sulit dibantah.

Sementara perolehan suara Prabowo-Sandiaga di beberapa daerah, dianggap Mahfud berasal dari daerah Indonesia yang identik dengan agama garis keras. Mahfud membahas hal ini terkait dengan wacana rekonsiliasi usai Pilpres 2019.

Pernyataan Mahfud itu pun lalu ‘disambar’ Anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Said Didu.

Pada 27 April lalu, lewat akun Twitter-nya, Said mmeminta Mahfud menjelaskan indikator yang digunakan sehingga menuduh orang-orang garis keras tersebut.

Atas pernyataan Said Didu tersebut, pada 28 April lewat akun Twitter-nya, Mahfud menjawab, “Garis keras itu sama dengan fanatik dan sama dengan kesetiaan yang tinggi. Itu bkn hal yang dilarang, itu term politik. Sama halnya dengan garis moderat, itu bukan hal yang haram. Dua-duanya boleh dan kita bisa memilih yang mana pun. Sama dengan bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau.”(cnn)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS