19619 KALI DIBACA

Garuda Sebut Penurunan Tarif Batas Atas Pesawat Rumit

Garuda Sebut Penurunan Tarif Batas Atas Pesawat Rumit
example banner

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menilai aturan tarif batas atas (TBA) harga tiket pesawat bisa turun jika komponen biaya susut 10 persen. Hal ini perlu dilakukan demi menjaga keberlanjutan industri penerbangan.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku tengah mengkaji penurunan tarif batas atas guna menurunkan harga tiket pesawat yang dikeluhkan mahal oleh masyarakat.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan pemerintah sedari awal sudah menetapkan skema perubahan tarif tiket dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor PM 20 Tahun 2019. Beleid itu berisi tata cara dan formulasi perhitungan tarif batas atas penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

“Jadi begini, penurunan tarif batas itu rumit sekali. Harus ada penurunan beban biayanya, jadi kalau struktur biaya turun akibatnya perhitungan tarif batas atas turun tidak bermasalah bagi maskapai,” papar Pikri, Rabu (8/5).

Dalam aturan itu, khususnya pasal 23 ayat 2 dituliskan bahwa perubahan signifikan merupakan perubahan yang menyebabkan terjadinya kenaikan total biaya operasi pesawat udara hingga paling sedikit 10 persen yang disebabkan adanya perubahan harga avtur, harga nilai tukar rupiah, dan harga komponen biaya lainnya.

“Pertama lihat harga avtur naik atau turun, harus turun 10 persen baru berubah. Kedua, rupiah dan biaya yang lain misalnya navigasi ada yang bisa diturunkan,” tutur Pikri.

Maka itu, Pikri meyakini bahwa pemerintah tak akan semena-mena menurunkan tarif batas atas. Ia menyebut pemerintah sekarang sedang mengevaluasi struktur biaya untuk bisa menurunkan tarif batas atas.

“Dilihat biaya mana yang bisa berubah,” imbuh dia.

Ia menambahkan jika pemerintah menurunkan tarif batas atas, manajemen tak khawatir bakal berdampak negatif pada kinerja keuangan perusahaan ke depannya. Sebab, maskapai penerbangan pelat merah ini tak hanya bergantung pada penjualan tiket.

“Dari bisnis kargo misalnya, satu stiker kecil di pesawat itu sudah puluhan miliar harganya. Iklan itu besar sekali,” jelasnya.

Pada kuartal I 2019, Garuda Indonesia meraup laba bersih sebesar US$20,48 juta. Realisasi itu berbanding terbalik dengan posisi kuartal I 2018 yang merugi sebesar US$65,34 juta.

Dari sisi pendapatan, totalnya menyentuh US$1,09 juta atau naik 11,85 persen dari sebelumnya US$983 juta. Bila dirinci, pendapatan itu berasal dari pos penerbangan berjadwal sebesar US$92,93 juta, penerbangan tidak berjadwal US$2,86 juta dan pos lainnya US$171,75 juta.(cnn)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS