145319 KALI DIBACA

Ketua LASKAR Aceh T. Indra Yoesdiansyah : Gawat Gula Tanpa SNI Diduga Beredar Di Wilayah Sabang

Ketua LASKAR Aceh T. Indra Yoesdiansyah : Gawat Gula Tanpa SNI Diduga Beredar Di Wilayah Sabang
Ketua LASKAR Aceh T. Indra Yoesdiansyah
example banner

Sabang I Realitas – Gawat Gula Tanpa SNI Diduga Beredar Di Wilayah Sabang Menjelang masuknya bulan suci Ramadhan kebutuhan terhadap barang-barang konsumsi di Kawasan Sabang semakin marak, hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat sabang, terutama kebutuhan terhadap gula yang merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat sabang, warung-warung kopi, kebutuhan UKM, dan untuk kebutuhan lainnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Kota Sabang melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 adalah sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, sehingga banyak kemudahan yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, namun bukan berarti bisa melakukan segalanya, karena ada “rambu-rambu” yang harus dipatuhi dalam menjalan berbagai aktifitas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Ketua LASKAR Aceh T. Indra Yoesdiansyah sebagai seorang Putra Daerah menyoroti terus berbagai perkembangan dan permasalahan yang muncul di sabang, karena ini merupakan bentuk nyata kepeduliannya terhadap pengembangan kawasan sabang tersebut.

Adanya informasi dari masyarakat tentang beredarnya gula tanpa SNI yang telah menjadi Barang Bukti (BB), akibat dari pemasukan “Gula Impor” asal Thailand melalui proses perizinan yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (PTSP BPKS), ini sudah meresahkan masyarakat, karena sebagaimana bunyi ketentuan Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 68/Permentan/OT.140/6/2013 bahwasanya GKP produksi dalam negeri dan / atau impor wajib memenuhi persyaratan SNI, disampaikan juga di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2014 Tentang Standarisasi dan Penilaian Kesesuaian pada Pasal 1 ayat (7) yang berbunyi “Standar Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat SNI adalah Standar yang ditetapkan oleh BSN dan berlaku di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”,Sebut Teuku Indra kepada wartawan, Kamis (25/04/2019).

Bunyi dua Pasal diatas sangat jelas disampaikan bahwasanya SNI tidak mengenal Kawasan Bebas, dan Sabang masuk dalam wilayah NKRI. Selanjutnya dalam ketentuan pasal 67 UU No. 20 Tahun 2014 ini memberi ancaman serius bahwasanya “Setiap orang yang mengimpor barang yang dengan sengaja memperdagangkan atau mengedarkan Barang yang tidak sesuai dengan SNI atau penomoran SNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp.35.000.000.000,00 (tiga puluh lima miliar rupiah).”

Ketua LASKAR Aceh T. Indra Yoesdiansyah merasa aneh dengan izin impor gula yang diberikan oleh Kepala Kantor PTSP BPKS, apakah tidak mengerti ketentuan hukum yang berlaku, sehingga hal ini bisa terjadi dan merugikan nama baik lembaga, sekaligus merugika pelaku usaha dan masyarakat sabang. Terkait SNI ini sudah sering sekali diingatkan oleh berbagai pihak yang berwenang, namun kenapa masih terus dilanggar, ada apa sebenarnya. Dan informasi yang saya peroleh dari masyarakat sabang, gula tanpa SNI yang beredar tersebut merupakan barang bukti yang kasusnya saat ini sedang ditangani Polda Aceh, ini miris sekali,”Tegas Teuku Indra.

Sebagai aktifis yang sangat peduli terhadap permasalahan hukum, T. Indra Yoesdiansyah, Meminta Kepada Kapolri, Kementerian Perdagangan, Kementrian Pertanian, Kapolda Aceh, dan Satgas Pangan Aceh untuk menindak tegas siapapun yang terlibat, negara tidak boleh kalah dengan “Mafia” yang ingin merusak sistem yang sudah dibangun, tidak boleh ada pertentangan sasama institusi negara, semua harus sinergi dalam membangun bangsa dan negara ini.

T. Indra meghimbau “Jangan Jadikan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang sebagai alasan untuk kepentingan sekelompok orang, sementara disisi lain negara dirugikan, mari bersama-sama kita bangun sabang tercinta ini sesuai dengan ketentuan hukum hyang berlaku.”Tutup Teuku Indra.(RED)

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS