35019 KALI DIBACA

Terancam Anjlok, Harga Gabah diharap Menguntungkan Petani Di Abdya

Terancam Anjlok, Harga Gabah diharap Menguntungkan Petani Di Abdya
example banner

Blangpidie | Realitas – Harga gabah kering di awal musim panen padi dalam Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) berkisar antara Rp 4.700 sampai Rp 4.800 perkilogram.

Harga gabah tersebut ditampung oleh agen atau tengkulak apabila dipanen menggunakan mesin pemotong padi (Combine Harvester), jika menggunakan jasa tukang potong manual maka harga gabah bisa diatas itu.

M Yakop salah satu petani di Kecamatan Tangan-Tangan, Rabu (24/10/2018) mengaku menjual gabah yang baru dipanen menggunakan combine sekitar Rp 4.800 perkilo.

Menurutnya, harga tersebut masih tergolong menguntungkan petani. Biasanya, harga gabah kering yang dipotong dengan combine seiring waktu akan turun bisa mencapai Rp 4.000 perkilo.

“Kami berharap agen bisa menghargai jerih payah keringat petani. Kalau bisa harga gabah sekarang ini bisa bertahan hingga akhir musim panen nanti,” pintanya.

Dikatakan M Yakop, kalau pada awal musim panen, harga gabah selalu tinggi dan menguntungkan petani yang sudah duluan memanen padinya.

Sedangkan petani yang terlambat justru akan mendapatkan harga dibawah itu bahkan lebih anjlok.

Untuk itu, M Yakop juga berharap kepada Pemerintah Kabupaten melalui instansi terkait untuk ikut andil mengontrol harga gabah di Abdya agar tidak anjlok.

“Kalau bisa bertahan dengan harga normal antara Rp 4.500-4.600. Kalau sudah dibawah itu, petani akan rugi jika dibandingkan dengan pengeluaran saat mengelola padi hingga panen,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan Sandiman, salah satu petani di Kecamatan Manggeng, pihaknya meminta agar harga gabah masih bisa normal sampai akhir musim panen nanti.

Apalagi saat ini, Kecamatan Manggeng dan Lembah Sabil masih belum memasuki musim panen.

Bahkan umur batang padi ada yang masih satu bulan lebih.

“Bisa saja pas waktu kami panen nanti, harga gabah sudah turun.

Karena khsusus wilayah kami agak sedikit terlambat dari jadwal tanam serentak dulu,” sebutnya.

Namun yang lebih terpenting adalah bagaimana harga gabah yang dipanen itu atau sudah dipanen bisa laku dipasaran dengan harga lebih tinggi.

“Kami menginginkan harga jual gabah tidak anjlok dan ada pihak yang berani menampung dengan harga tinggi juga,” tambahnya.

Sandiman mengaku tidak ingin kejadian tahun lalu terulang saat panen sekarang yakni adanya permainan tengkulak dalam menjual dan memainkan harga gabah di Abdya dengan harga murah karena itu sangat merugikan petani.

Oleh karena itu, petani berharap supaya dinas terkait bisa memantau gerak gerik para tengkulak yang mencoba memainkan harga di lapangan untuk mendapatkan untung yang lebih besar. (Syahrizal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS