111119 KALI DIBACA

PT Akmal Abadi/SPBU 14-241-437 Reuleut Melayani Konsumen Menggunakan Jeringen

PT Akmal Abadi/SPBU 14-241-437 Reuleut Melayani Konsumen Menggunakan Jeringen
example banner

Bireuen | Realitas – selama ini, sebenarnya disebabkan langkanya bensin (premiun) yang melanda akibat permainan Oknum SPBU, bersama Oknum, yang ternyata sudah siaga di SPBU, yang sudah tahu jika adanya pasokan bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium dari Mobil Tangki Pertamina.

Seperti yang terjadi di SPBU 14-241-437 Reuleut/PT Akmal Abadi, Senin (15/10/2018) siang, yang tampak antrian mobilnya mencapai ratusan meter, setiap adanya pasokan BBM jenis premiun dari Pertamina, namun sayangnya saat mencapai tempat pengisian BBM, tidak dilayani lagi oleh petugas, mengingat premium keburu habis.

Tidak mengherankan jika sumpah sarapah keluar dari mulut pemilik mobil, mengingat sudah berjam-jam ngantri, ternyata bensinnya sudah kandas.

Apalagi ketika ngantri harus menunggu mobil-mobil tertentu yang begitu lama dalam pengisian premium dalam tangki mobilnya, ibaratya seperti pengisian BBM dalam tangki truk interkuler, walau yang diisi premium itu merupakan mobil jenis minibus suzuki carry atau mobil kijang serta mobil yang dimodif tangkinya.

Bisa dibayangan cukup lama harus menunggu, jika tiba giliran mobil seperti itu.

“Mobil Suzuki Carri mengisi BBM, tangkinya truk interkuler,” ujar Amirudin dengan nada berang.

Hasil pantauan Media ini di lokasi ternyata Mobil Carry dan Kijang serta jenis mobil sejenis lainnya, ternyata memiliki tangki Modifikasi untuk dapat mehisap bensin yang sedang menyedot premium ke dalam tanki olahan atau tangki yng sudah dirombak.

Hal itulah, penyebab kelambanan pergerakan antrian mobil di depan SPBU dan Jalan Raya Medan-Banda Aceh.

Adanya dugaan keterlibatan petugas dan Oknum konsumen yang menebus lehih harga premiun, sehingga mengisi secara berlebihan yang melebihi kapasitas isi tangki mobilnya, maka terjadilah pembayaran seperti itu.

Seperti disaksikan Media ini, ada mobil jenis kijang model lama atau mobil Suzuki Carry atau sedan lama yang telah merobak tangki mobilnya sehingga bisa mengisi lebih banyak.

Untuk jenis mobil seperti itu, tangkinya diolah seperti tangki mobil interkuler, yang mampu menyedot premium 90 leter-200 liter lebih, sehingga banyak mobil lainnya tidak kebagian BBM karena disedot oleh mobil yang telah ditombak tangkinya.

Seperti terlihat pada pada salah mobil tersebut, jika di jok bagian belakang menempatkan tangki ukuran besar melebihi tangki buatan pabrik mobilnya.

Dalam mobil tersebut, berisi tanki asli dan tangki olahan yang mampu menyedot bensin bensin 120 lebih, itu belum termasuk mobil lainnya milik oknum tertentu, yang besar tankinya seperti tangki Truk, yang mampu menyedot bensin 160 lebih.

“Mobil jenis Carry dan Kijang seperti itu masak isinya tangkinya bisa mencapai 100 liter lebih.

Anehkan, ini malah petugas SPBU membiarkan saja, masak sih enggak tahu kapasitas isi BBM setiap mobilnya,” tanggap salah sopir yang sedang antri itu.

Bukan hanya itu saja, pembiaran juga terjadi seusai pemilik mobil mengisi premium, yang ternyata turut mengisi, setidaknya tiga jerigen besar yang diletakkan dalam mobilnya.

Meski petugas SPBU melarang mengisi dalam jerigen, tapi Oknum tersebut memaksanya, alasannya kenapa orang lain dibolehkan, sedangkan dirinya, yang juga antri tidak dibolehkan.

Sosok yng diduga Oknum tersebut turut pula membawa-bawa nama anggota dewan setempat.

Akhrnya petugas tidak berkutik serta tidak mau mengadu argumen, dan membiarkan Oknum tersebut untuk mengisi premium dalam jerigennya.

”Kalau begini kejadiannya, yang kena kan petugas SPBU juga,” tanggap seorang petugas saat Oknum itu pergi seusai mengisi premium dalam jerigen.

Sementara lainnya, ada warga yang berulang kali mengisi premium dalam jerigennya, tetap dilayani petugas, padahal petugas mengenal dengan baik, warga tersebut.

“Seharusnya tidak dilayani membeli premium, melebihi satu kali setiap ada pasokan BBM, ujar salah seorang warga.

Keadaan seperti ini, menyebabkan banyak pemilik mobil yang resah jika kasus seperti itu berlangsung terus, karena jatah minyak subsidi itu, lebih banyak dinikmati siluman penghisap bensin, yang ternyata minyak tersebut di bisniskan lagi, ke pihak lainnya.

Seharusnya petugas SPBU tidak melakukan pembiaran, sehingga orang-orang yang antri tidak merasa kecewa.

Hendaknya pula, aparat keamanan turut mengamanankan agar hal itu tidak terjadi lagi.

“Jika kehabisan premium itu secara wajar dapat kami terima, tapi jika pakai tangki olahan dan pengunaan jerigen yang berlebihan dalam mendapatkan premium, sangat kami sesalkan,” pungkas pemilk mobil yang tidak kebagian premium, karena keburu habis.

Pengawas SPBU dengan Nomor 14-241-437 mengatakan kepada Media ini dirinya hanya mengfasilitasi semua konsumen, kalau yang menggunakan jeringen itu kemungkinan untuk nelayan, tapi kalau yang menggunakan modifikasi itu, di luar pantauan kami, kata M. Nasir Selaku pengawas kepada Media ini. (M. Reza)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS