51219 KALI DIBACA

UKM Unsam Komunitas Seni Rajut Menggelar Teater Di Aula Cakra Donya

UKM Unsam Komunitas Seni Rajut Menggelar Teater Di Aula Cakra Donya
example banner

Langsa | Realitas – Universitas Negeri Samudra (UNSAM) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Komunitas Seni Rajut mengelar teater berjudul Negeri Kabut Sutradara Muhammad Isa dipentaskan di Aula Cakra Donya pukul 19.00 WIB pada Sabtu (7/10/2018) Malam.

Pantauan Media Realitas, Ratusan mahasiswa dan masyarakat menyaksikan teater berjudul Negeri Kabut, selain itu juga ikut di meriahkan musik vokal serta tarian kreasi dalam rangka memeriahkan hari jadi Komunitas seni rajut di Unsam ke IX.

Sutradara Muhammad Isa Kepada wartawaan, Minggu (7/10/2018) menyampaikan pementasan teater dimainkan dalam adegan dikemas dalam bentuk multimedia dan dialog.

“Teater dikemas teater dalam bentuk multimedia untuk melahirkan tampil efek menarik memberikan dramatisasi penonton lebih menarik, menikmati dan memahami alur cerita,” katanya.

Muhammad Isa menjelaskan teater berjudul Negeri Kabut yang sarat dialog itu diperankan Tujuh pemain, yakni Siti, Dinda,Joel, Ali, Rema, Tra MS, dan Yendi, penulis naskah Suci Ariani di produksi Unsam oleh UKM Komunitas Seni Rajut.

Negeri Kabut mengisahkan kondisi suatu daerah yang tidak adanya keadilan dan sistem kehidupan yang sulit serta terhentinya kesenian, hingga menimbulkan gejala sosial dalam tatanan bermasyarakat.

“Kondisi daerah kesenian itu terhambat dianggap bermasalah tertanam dalam mainsafe, Namun seni dimanfaatkan mengerakan kepentingan para politik sesaat, kondisi ini menjadi rawan melenyapkan kreatifitas hingga mencul kriminal,” kata Isa.

Berawal kisah, dipicu Dinda sebagai penari yang dirampas kehormatanya, Ia yang disiksa diseret hingga menewaskan Joel sebagai aktor pemerkosa.

Lalu, Siti berperan sebagai nenek tua menceritakan tentang kehidupan ketidakadilan dan kebohongan terhadap penindasan menimbulkan gejala sosial.

Hal tersebut diakibatkan gagal paham terhadap kesenian terkekang kreativitas disuatu daerah.

Akhirnya, Di mulai dari kisah perjalanan empat orang mendekam dalan jeruji besi mengkisahkan tentang kehidupan ketidakadilan dan pendidasan tertabur kebohongan diakhiri perlawan,” Ujar Ali.

Empat orang yang mengalami kasus hukum yang berbeda-beda diakibatkan persolan kehidupan terhadap kreativitas dan terkekangnya seni hingga seni mengalami penindasan diasumsi salah dalam penilaian

Namun, kesenian digunakan untuk kepentingan sesaat dalam menjalani misi politik diakibatkan sistem kehidupan yang tidak adil, saat sang sutradara mengulas kepada Media Realitas menceritakan adegan keempat aktor didalam penjara.

“Empat lelaki duduk termenung merenungi nasibnya, dimana Citra sebagai perampok dan pembunuh yang di hukum, Ia melakukan karena himpitan ekonomi, ” ujar Isa yang juga sutradara.

Dilanjutnya, Rema menceritakan seorang pembantu kebun melakukan pembunuhan terhadap majikan, lantaran gaji yang tidak kunjung di bayar, Ia membutuh biaya pengobatan anaknya.

Ali dihukum sebagai penjual narkoba sulitnya mencari lapangan perkerjaan sehingga, Ia menjalankan hukuman dalam tahanan.

Namun, Yendi di hukum karena aksi sebagai pendemo melalui puisi, Ia melakukan aksi demo lanturkan orasi kritisnya melalui puisi kritik memperjuangkan nasib seni dan ketidakadilan.

Namun, pada akhirnya keempat mereka itu harus mendekam dalam tahanan akibat prilaku dan tindakan yang dangkal menjalani hukum di hotel Prodeo (Penjara).

“Mereka semua keempat permasalah lelaki ini harus menjalankan hukuman didalam sel tahanan akibat manusia berpikir pendek,” terang Isa

Alur cerita akhirnya memainkan emosi penonton terhadap persoalan diakibatkan ketidak pedulian pemimpin terhadap kreatifitas dan kesenian menjadi konflik berkepanjangan yang sulit dipecahkan.

Segala permasalahan tersebut dapat diatasi dengan kebijakan arif dan tulus sehingga isi teater tersebut berakhir dengan harapan peran kepedulian pemerintah dalam menyikapi persoalan kesenian menjadi sangat penting.

“Pesan moral dari adegan teater ini para pemimpin daerah diingatkan pentingnya kretifitas, kebudayaan dan kesenian agar tidak dihambat dan dikembangkan dalam masyarakat dapat berpikir positif. (iqbal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS