25019 KALI DIBACA

Karena Isu Haram, Pemberian Vaksin MR Di Abdya Minim

Karena Isu Haram, Pemberian Vaksin MR Di Abdya Minim
Foto: Plt Kepala Dinas Kesehatan Abdya, Safliati SST MKes
example banner

Blangpidie | Realitas – Pemberian vaksin Measles Rubella (MR) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) masih minim lantaran belum ada keputusan resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan penggunaan vaksin tersebut.

Warga banyak yang tidak mau anaknya di vaksin karena beredarnya isu haram dalam kandungan vaksin tersebut.

Terhitung sampai dengan September 2018, pemberian vaksin MR masih belum tercapai dengan maksimal.

Hal itu terlihat, pasca dilakukan pencanangan pada awal Agustus lalu.

Dimana, baru sekitar 1,17 persen dari total sasaran mencapai 41.228 anak dengan umur 9 bulan sampai 15 tahun.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Abdya, Safliati, MKes, Senin (24/9/2018) membenarkan hingga saat ini pemberian vaksin MR masih tersendat pasca berkembangnya isu haram yang terdapat dalam kandungan vaksin tersebut.

“Kalau Kabupaten lain sudah mulai berjalan, meski dengan perlahan.

Sementara, Kabupaten Abdya masih minim bahkan tidak berjalan sama sekali,” ungkapnya.

Mengenai kondisi itu, dalam waktu dekat pihaknya akan berkoordinasi dengan Bupati/Wakil Bupati, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Kementerian Agama sehingga pemberian vaksin ini bisa kembali berjalan. Tentunya dengan berpedoman pada keputusan MUI dan surat dukungan dari Gubernur Aceh tentang pemberian vaksin yang dinyatakan boleh.

“Semua dokumen untuk mendukung hal tersebut sedang kami siapkan, termasuk surat dukungan dari Gubernur Aceh,” sebut Safliati.

Minimnya realiasi pemberian vaksin ini, lanjut Safliati, tidak terlepas akibat adanya pro dan kontra terhadap penggunaan vaksin MR yang belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

Sementara, Dinkes sendiri tidak bisa memaksa seorang anak apabila tanpa izin orang tuanya untuk di vaksin.

“Kita tidak akan memaksa seorang anak atau pihak keluarganya untuk di vaksin.

Karena belum ada sertifikasi halal dari MUI, maka kita akan vaksin anak yang sudah mendapat persetujuan dari orang tuanya saja,” tuturnya.

Safliati menjelaskan kalau, imunisasi MR merupakan sebuah upaya untuk memutuskan transmisi penularan virus campak dan rubella pada anak.

Dimana, virus tersebut merupakan salah satu virus penyakit yang sangat berbahaya untuk kesehatan anak.

Mulai dari bulan Agustus 2018, target imunisasi MR akan dilaksanakan di seluruh sekolah yang terdiri dari PAUD, SD/MI sederajat dan SMP/MTs sederajat.

Selanjutnya pada September mendatang akan dilaksanakan pada tingkat Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas pembantu, Puskesmas dan pos imunisasi lainnya.

Namun pasca adanya pro dan kontra terkait kehalalan vaksin MR, proses pemberian vaksin di Abdya tidak berjalan sama sekali. (Syahrizal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS