128619 KALI DIBACA

 Program Pajali Bireuen Diprediksi Gagal Lagi Tahun 2018

 Program Pajali Bireuen Diprediksi Gagal Lagi Tahun 2018
example banner

Bireuen | Realitas  – Realisasi program upaya khusus (Upsus) pengembangan komoditi padi, jagung dan kedelai (Pajali) di Kabupaten Bireuen TA 2018, diperkirakan kembali akan menuai kegagalan.

Akibat berbagai persoalan dan polemik yang berkembang dalam pelaksanaan program pembangunan ketahanan pangan nasional tersebut di wilayah itu.

Seperti yang telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir, yang kabarnya berujung sia-sia tanpa memberi manfaat bagi masyarakat.

Padahal, kegiatan yang melibatkan prajurit TNI ini dibiayakan pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan sumber dana Otsus.
 
Untuk peningkatan produksi tanaman pangan dan holtikultura itu.
 
Tapi sejak empat tahun terakhir, program Pajali di Bireuen belum berjalan mulus.
 
Bahkan, puluhan miliar anggaran yang digelontorkan dari berbagai sumber anggaran publik ini, ditengarai sarat penyelewengan.
 
Meskipun begitu, tahun 2018 Dinas Pertanian segera melanjutkan program Pajali tersebut.
 
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bireuen, Ir Alie Basyah yang ditanyai terkait masalah ini, meminta wartawan untuk menanyakan ke Kabid karena alasan mengetahui secara mendetail implementasi program Pajali.

Saat ditemui Media Realitas, Ir Meutia selaku Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura mengaku.

Pihaknya lagi mempersiapkan kegiatan pembangunan tersebut.

Diantaranya, penanaman Padi Gogo seluas 200 ha, Jagung 815 Ha dan Kedelai 355 Ha.
 
Menurut Meutia, padi Gogo kini sudah memasuki tahapan verifikasi kelompok tani (Poktan), dengan bentuk bantuan sosial (Bansos).

Berupa penyaluran benih dan pupuk, sedangkan Jagung diberikan benih serta pupuk urea dari Dinas Pertanian Propinsi, yang saat ini sedang dalam proses lelang.
 
Guna membantu produktifitas komoditas pertanian itu, setiap Poktan diberikan pupuk urea 50 kg/ha atau uang dengan harga Rp 1.800/kg.
 
Disebutkannya, kedua macam program tersebut tahun ini belum dilaksanakan karena menunggu selesai tender, serta proses pengamprahan anggaran yang sedang dilakukan.

Sementara itu, penanaman Kedelai yang dipusatkan pada satu titik di Gampong Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa sudah mulai dijalankan oleh lima Poktan.
 
Meski dananya juga belum cair, tapi para petani mencari solusi sendiri menghutang benih dari pihak lain, sehingga program kegiatan ini langsung berjalan,”Nanti saat anggaran sudah cair, langsung kami kirimkan ke rekening kelompok,” sebut Meutia.
 
Dia menyebutkan lima Poktan di Salah Sirong yang menggarap program ini, yaitu Batee Itam, Tunas Baru, Bungong Jeumpa, Batee Meuseuson dan Poktan Blang Padang.
 
Semua kelompok berhak menerima bantuan untuk kebutuhan benih, Rizhobium (obat perangsang akar), Herbisida dan pupuk urea dengan estimasi biaya sekitar Rp 952.000 per Ha.

Sejumlah kalangan di Bireuen meminta, pejabat Dinas Pertanian benar-benar serius melaksanakan program ini, demi meningkatkan perekonomian masyarakat serta tercapainya hasil produksi Pajali secara maksimal.
 
Sehingga selaras dengan upaya untuk menyukseskan target ketahanan pangan nasional,”Kami berharap, mulai tahun ini para pejabat instansi terkait, tidak lagi mengulangi kesalahan yang terjadi sejak empat tahun terakhir.

Setiap rupiah anggaran publik, sudah seharusnya dikelola dengan baik bukan untuk digerogoti secara terstruktur,” tukas M Yunus (46) warga Kecamatan Jeumpa saat ditemui media ini Kamis kemarin tanggal 31 mei 2018. (M reza)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS