280819 KALI DIBACA

Inspektorat Aceh Timur Seperti Macan Ompong Alasan Tidak Ada Dana, Turun Kedesa.

Inspektorat Aceh Timur Seperti Macan Ompong Alasan Tidak Ada Dana, Turun Kedesa.
example banner

Aceh Timur I Realitas – Warga Gampong Peutow Kecamatan Bireun Bayeun Kabupaten Aceh Timur Provinsi Aceh, telah melaporkan Kechik Kepada Inspektorat, Polres Aceh Timur, beberapa waktu yang lalu tetapi sampai hari ini belum ada reaksi apapun yang dilakukan oleh Inspektorat.

Adapun peristiwa hukum yang dilaporkan antara lain sebagai berikut :

Bahwa Gampong Peutow memperoleh bantuan dana pembangunan desa dari Pemerintah sejak tahun 2016 namun Dana tersebut tidak efektif digunakan sehingga warga sudah melaporkan kepada pihak pemerintah dalam hal ini inspektorat.

Saat media ini melakukan konfirmasi kepada Inspektorat Aceh Timur terkait dengan perkembangan permasalahan Gampong Peutow, kepala Inspektorat Muhammad Baman SH MH, kepada Media Realitas Rabu (23/5/2018), diruang kerjanya mengatakan bahwa pihaknya belum turun ke Gampong tersebut, saat ini Tim sedang menyusun rencana untuk segera terjun ke lapangan, tetapi kita tidak dapat bergerak dengan cepat mengingat bahwa kita saat ini kekurangan personil dan juga kekurangan Dana.

Lebih lanjut Muhammad Baman menambahkan bahwa jumlah personil anggota saat ini berjumlah 35 orang, sementara itu Aceh Timur Daerah yang sangat luas dan saat ini cukup banyak laporan yang masuk jadi mohon bersabar semua akan kita tindak lanjuti, ujar Muhammad.

Saat media ini menyinggung perkembangan Gampong Alue Ie Itam Kecamatan Peudawa sejauh mana proses selanjutnya, kepala Inspektorat Muhammad menyebutkan bahwa persoalan tersebut sudah dikembalikan kepada pihak Kecamatan Peudawa katanya, ini satu keanehan yang dimana warga masyarakat Gampong tersebut sudah melaporkan kepada Instansi pemerintah dalam hal ini inspektorat, kok malah dikembalikan kepada Kecamatan, apa alasannya ? atau pihak Inspektorat takut dengan kepala desa Gampong tersebut, sungguh diluar dugaan peran penting Inspektorat seperti macan ompong yang tidak bernyali.

Sebelumnya diberitakan media ini diduga melakukan Korupsi Warga Gampong Peutow laporkan Kechik Kepada Inspektorat dan Polres Aceh Timur.

Adapun peristiwa hukum yang dilaporkan antara lain sebagai berikut :

Bahwa Gampong Peutow memperoleh bantuan dana pembangunan desa dari Pemerintah sejak tahun 2016 sebesar Rp 700.000.000,- (tujuh ratus juta rupiah) tahun 2017 sebesar 900.000.000,- (sembilan ratus juta rupiah). Dana tersebut tidak digunakan sesuai dengan asas dan mekanisme aturan pengelolahan keuangan desa yang berlaku yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 113 tahun 2014 tentang Pengelolahan Keuangan Desa.

Bahwa pada tahun 2016 :

Ada dana gotong royong sebesar Rp 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah) tidak dipergunakan, tapi uangnya lenyap begitu saja pertanggungjawaban di duga fiktif.

Terlapor disamping bertindak sebagai KPA (Kuasa Pengguna Anggaran) juga bertindak sebagai pelaksana kegiatan (main tunggal) dan setiap ada pembelanjaan barang selalu menggunakan faktur kosong yang telah distempel oleh pemilik Toko, selanjutnya disetel (direkayasa) harga dan jumlah barang yang di beli sehingga seolah-olah barang dan harga yang di beli sudah sesuai dengan yang sebenarnya;

Fakta dilapangan terlapor disamping sebagai KPA (sesuai aturan) juga bertindak sebagai pelaksana kegiatan. Hal ini jelas bertentangan dengan aturan, namun dalam laporan tertulis ditanda tangani oleh orang lain sehingga seolah-olah sudah benar sesuai ketentuan, hal di lakukan oleh terlapor dengan cara memberi sejumlah uang kepada yang bersangkutan agar mau menadatanganinya;

Upah tukang dibayar oleh terlapor dibawah Rencana Anggaran Pembangunan (RAP) namun kelebihan uang dari pos upah tukang tidak pernah dilaporkan secara transparan;

Terlapor juga telah membuat stempel khusus untuk laporan pembelanjaan Galian C.

Desa/Gampong Peutow pernah juara I Lomba Kebersihan Desa dan mendapat hadiah sebesar Rp.100.000.000,- (Seratus juta rupiah), namun oleh terlapor uang tersebut tidak di masukkan sebagai penerimaan dalam Anggaran Pendapat Belanja Gampong (APBG), namun uang tersebut digunakan dan diambil untuk memperkaya terlapor dan orang lain dan juga uang tersebut tidak jelas laporan pertanggungjawabannya;

3. Bahwa pada tahun 2017 :

Terlapor mendirikan Badan Usaha Milik Gampong berupa “Warung Gampong” , menurut informasi yang berkembang di masyarakat besaran dana yang di ambil dari Anggaran Desa sebesar +- Rp.170.000.000,- (Seratus tujuh puluh juta rupiah), dengan perincian Rp.18.000.000,- (Delapan belas juta rupiah) untuk biaya membangun warung/kios dan sisanya untuk belanja barang dagangan. Kegiatan ini juga dilaksanakan oleh terlapor sendiri, dan yang lebih parah lagi warung/kios dijaga atau penjualnya adalah ditunjuk isteri (Namanya Endang) dan anaknya sendri, sedangkan pengurus BUMGnya tidak dilibatkan apa-apa ;

Bahwa untuk mendirikan BUMG harus ada Peraturan desa/Gampong, setelah ditanyakan kepada terlapor katanya Peraturan Desa/Gampongnya ada, namun masyarakat heran kapan dan dimana tidak pernah ada membahas Peraturan Desa/Gampong Pendirian BUMG berupa Warung Gampong tersebut, kalau ada diduga peraturan tersebut dibuat oleh Kecamatan dengan membayar sejumlah uang, akan tetapi ketika kami meminta untuk diperlihatakan Peraturan Desa tersebut terlapor keberatan untuk memperlihatkannya;

Terlapor mengambil uang dari Bendahara uang sejumlah Rp.20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) katanya untuk membeli sepeda motor dijadikan becak sebagai angkutan, adapun sepeda motor yang di beli adalah merk Honda jenis Supra yang harganya tidak sampa Rp.20.000.000,- (dua puluh juta rupiah), dan sepeda motor tersebut ternyata digunakan oleh terlapor sendiri tidak sesuai dengan yang dilaporkan, demikian berapa harga pembelian yang sebenarnya tidak pernah diberitahukan kepada bendahara;

Pembelian dan penanaman bibit sawit pada kebun desa tidak transparan, kabarnya antara harga bibit sawit dalam RAP dengan yang dibeli berbeda isinya, harga dalam RAP 1(satu) batang bibit sawit Rp.60.000,- (Enam puluh ribu rupiah) sedangkan harga pembelian Rp.20.000,- (Dua puluh ribu rupiah), hal ini juga tidak dilaporkan secara transparan kepada masyarakat sehingga masyarakat mencurigainya ada permainan;

Dalam RAP ada dana untuk pembelian kursi untuk barang PKK Gampong kabarnya uang nya sebesar Rp.16.000.000,- (enam belas juta rupiah), terlapor diduga berbohong dilaporkan sudah di beli tapi kursinya sampai sekarang belum ada (fiktif);

Uang kegiatan pemuda sebesar Rp.16.000.000,- (enam belas juta rupiah) dalam pelaksanaanya hanya ada Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah) digunakan untuk membeli sepatu bola kaki ;

Dana Gotong Royong dalam RAP setiap tahunnya tidak jelas penggunaanya, masyarakat tidak tahu untuk apa dan kemana digunakan ?.

Terlapor mengangkat KAUR KEUANGAN anaknya sendiri yang bernama Sri Widari, dan dibayar gaji setiap bulan Rp.900.000,- (Sembilan ratus Ribu rupiah) dan jarang masuk kantor, kemudian operator Komputer diangkat Anak Sekretaris Desa yang bernama Tri Darmawan.

Bahwa saya pernah mengirim surat tanggal 4 mei 2018 (terlampir) kepada terlapor, namun terlapor keberatan sehingga saya tidak diberikan akses sedikitpun, jadi betul-betul sangat tertutup.

Surat yang ditandangani secara resmi oleh salah seorang warga Dr Fuadi SH MH, dan tebusannya kepada semua pihak terkait meminta kepada pihak inspektorat dan penyidik Polres Aceh Timur untuk segera mengusut tuntas kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh Oknum Keucik Kepala Gampong Peutow.

Kepala Inspektot Kabupaten Aceh Timur Muhammad Baman SH MH, pada saat dikonfirmasi wartawan Rabu (9/5/2018) mengakui sudah menerima surat yang dilaporkan oleh warga Gampong Peutow Kecamatan Bireum Bayen Kabupaten Aceh Timur, segera ditindak lanjut, ujar nya.

Kasus ini segera kita tindak lanjut segera kita kirimkan tim untuk turun ke Desa Peutow dan Keucik Desa itu juga segera kita panggil, ujar Muhammad Baman.

Sementara itu Keuchik Gampong Peutow UM yang berulang kali dihubungi Media ini dengan menggunakan telpon Selular namun tidak berhasil dihubungi.

Sejak Selasa (8/5/2018) sampai dengan Rabu (9/5/2018) No kontak kepala Desa itu tidak Aktif.

Media ini terus mencari kepala Desa itu namun sampai berita ini di turunkan belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak Kepala Gampong Peutow.
( Hasbi Abubakar )

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS