87019 KALI DIBACA

Ada Apa Dibalik Pilkada Aceh Selatan Kurangnya Pengawasan alias Mandul

Ada Apa Dibalik Pilkada Aceh Selatan Kurangnya Pengawasan alias Mandul
example banner

Oleh: Zulmas

KENAPA DIKATAKAN DEMIKIAN:Sebenarnya kelangsungan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati tahun 2018 di Kabupaten Aceh Selatan hingga kini cukup kondusuf belum ada pelanggaran apapun dari pihak paslon masing-masing.

Dan kita semua sebagai masyarakat Aceh Selatan, mendoakan dalam pilkada tahun 2018 ini dalammkeadaan aman, tertip dan terkendali.

Tapi disisi lain menjadi suatu pertanyaan masyarakat, seolah-olah pihak pengawas pemilihan kepala daerah, menghalalkan pihak oknum-oknum pejabat tinggi di kabupaten tersebut dibiarkan berpolitik dan memberikan dukungan terhadap masing-masing paslon secara terang-terangan, sementara UU ASN sudah jelas-jelas melarang.

Dan masalah dukungan boleh-boleh saja, tapi jangan disengaja mempertontonkan prilalu yang ditidak bisa ditauladani oleh masyarakat lain, kata sejumlah masyarakat kepada penulis.

Bahkan ada beberapa orang oknum pejabat dihubungi terkait tentang dukungannya, ia mengatakan bila gara-gara ini saya dipindahkan atau dinonjabkan dari jabatannya “Saya sudah siap” itu merupakan resiko bagi saya, ujarnya.

Kondisisi ini tidak tertutup kemungkinan, sejauh pantauan penulis, reaksi itu sudah mewabah sampai ke kecamatan bahkan sampai di perangkat perdesaan.

Sebab keterlibatannya itu bukan sekedar mengikuti pertemuan saja, tapi malah ikut terlibat langsung berorasi yang disaksikan oleh ratusan masyarakat.

Saat ditanya kepada yamg bersangkutan yang berada dikecamatan, baik itu oknum camat, PNS biasa, kepala sekolah, guru maupun mukim dan termasuk oknum kepala gampong beserta perangkatnya, ia menjawab dengan santai.

“Untuk apa kami takuti, sementara atasan kami mulai kabupaten hingga kecamatan, merekapun ikut handil dalam pendukumgan masing-masing kandidat,” ujarnya.

Dalam hal tersebut, sebelum kami diproses terlebihdahulu diproses atasan kami, kemudian baru kami ditanyakan sikap benar atau tidaknya, imbuk mereka.

Bahkan kejadian ini, bukan tingkat untuk di non jabkan dari jabatanya dan pindahkan dari tempat ia semula bertugas, tapi mereka berani mengatakan.”Dipecatpun saya siap,” tehasnya.

Namun hingga kini, baik pembina pegawai di Sekdakab Aceh Selatan, maupun kepala SKPK dalam kabupaten tersebut, belum ada informasi untuk memperingati hal tersebut.

Amatan penulis, ini tidak salah pejabat itu tak berani memperingati anak buahnya, karena berat dugaan merekapun ikut terlibat dalam pendukungan terhadap masing-masing paslon, melalukan dukungan yang sudah bukan rahasia umum lagi.

Dan ada beberapa kepala SKPK sebelumnya dihubungi terkait masalah dukungan, ia terus terang menjawab. “Saya tidak mungkin mengkianati, karena saya sudah diperhatikan,” ucapnya.

Dan ada juga bebetapa kepala SKPK dalam kabupaten setempat, dihubungi secara terpisah, hanya dia menjawab, apapun ceritanya, saya memgalihkan dukungan. Karena jabatan saya, bukan karena belas jasa, tapi atas pemantauan pimpinan tentang kinerja saya dalam bekerja, ucapnya.

“Bila ada yang mengatakan dia terpaksa mendukung salah satu paslon, karena ia sudah memperhatikan saya, bukan karena penilaian kinerja mereka kerja, itu merupakan salah besar dalam aturan ASN,” ujarnya.

Masih menurut pantauan penulis, kelakukan para oknum-oknum pejabat di Aceh Selatan, maupun di kecamatan dan perkampungan, pihak panwaslih terkesan ragu-ragu dan kalau bolrh dikatakan “takut” mengambil tindakan yang melanggar itu.

Benar atau tidaknya, diharapkan kepada pengawas pemilihan (Panwaslih) turun langsung dimana ada informasi. “Bila ini tidak ditindaklanjuti informasi ini oleh pengawas, bisa-bisa dikatakan oleh masyarakat bahwa pengawas Aceh Selatan terkesan mandul”.***

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS