45819 KALI DIBACA

Polisi Temukan Paket Ekstasi Hello Kitty dari Jerman untuk Tahun Baru

Polisi Temukan Paket Ekstasi Hello Kitty dari Jerman untuk Tahun Baru
example banner

JAKARTA| Media Realitas – Polisi menggagalkan penyelundupan 20.000 ekstasi asal Jerman yang dikirim melalui jasa ekspedisi. Rencananya, barang haram itu akan diedarkan untuk pesta perayaan tahun baru 2018.

“Untuk ekstasi yang berjumlah 20 ribu butir ini, kita tahu bahwa akan ada pengiriman dari Jerman, diperuntukan untuk tahun baru,” ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Suwondo Nainggolan di Mapolda Metro Jaya, Rabu (27/12/2017).

Suwondo menambahkan, pengungkapan ini bermula ketika pihaknya menangkap tersangka DCS alias C dan ABL alias AB di halaman parkir kantor Pos, Jakarta Utara. Dari tangan keduanya polisi menemukan tujuh kotak susu berisi paket ekstasi berwarna merah muda dan bergambar Hello Kitty.

“Ini dikendalikan dari dalam LP oleh tersangka A yang merupakan warga negara Malaysia,” ucap dia.

DCS dan ABL mengaku diminta A untuk mengambil paketan ekstasi itu untuk diberikan kepada SDN. SDN merupakan kaki tangan A yang biasa diperintahkan untuk mengedarkan barang haram itu.

Berdasarkan informasi dari DCS dan ABL, polisi melakukan penangkapan terhadap SDN di Apartemen Green Bay Pluit, Jakarta Utara.

Dari tangan SDN polisi menemukan barang bukti berupa sabu seberat 1, 66 gram, 7 butir ekstasi, timbangan elektronik dan tiga buku berisi catatan transaksi narkoba.

“SDN ini pimpinan laundry, dia bekerja sebagai petugas laundry, sebagai manager, dia menyimpan barang itu di dispenser,” kata Suwondo.

Sementara itu, DCS mengaku telah lima kali diperintahkan A untuk mengambil paketan narkoba. Bahkan dia pernah disuruh mengambil paketan narkoba dari Malaysia.

“Naik pesawat (dari Malaysia). Kita dapat barang dari sana, sudah disuruh pakai seperti pembalut wanita, kita pakai terus harus pakai baju yang tidak terdeteksi metal detector yang enggak ada besinya,” kata DCS.

DCS menambahkan, setiap mengambil ekstasi dari Malaysia, dia diperintahkan A untuk menggunakan salah satu maskapai penerbangan.

“Setiap pulang wajib pakai Air Asia lewat bandara Klia dua jangan Klia satu. Kita enggak tahu kenapa lewat situ, cuma disuruh. Tapi memang pengamanannya di sana kurang sih, enggak ada cek bodi,” ucap dia.

DCS mengaku mendapat imbalan Rp 10 juta jika berhasil membawa paketan ekstasi itu. Dia berkomunikasi dengan A menggunakan aplikasi WeChat.(kompas)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS