42319 KALI DIBACA

Studi: Pemakai Ganja Berisiko Kematian Akibat Hipertensi

Studi: Pemakai Ganja Berisiko Kematian Akibat Hipertensi

Jakarta | Media Realitas- Baru-baru ini, penyanyi Marcello Tahitoe menambah daftar panjang pesohor yang ditangkap karena kepemilikan ganja. Di luar manfaat yang dibawanya, ganja juga punya efek tak baik untuk kesehatan.

Sebuah penelitian terbaru yang dirilis Universitas Georgia State, AS mengungkap penggunaan ganja dapat meningkatkan risiko kematian akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Temuan studi ini sekaligus menegaskan temuan sebelumnya yang menyebutkan ganja takaran rendah berpotensi melemahkan efek kardiovaskular.

Dilansir dari IB Times, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia meskipun sebagian besar dapat dicegah. Sementara itu lebih dari 17 juta orang meninggal karena penyakit tersebut tahun 2015.

Beberapa tahun belakangan, penelitian menghubungkan penggunaan ganja dengan penyakit kardiovaskular. Hal itu juga terkait dengan banyaknya negara yang bergerak untuk menolak ganja dan memahami apakah penggunaannya meningkatkan angka kematian kardiovaskular yang menjadi konsentrasi masyarakat.

“Langkah-langkah diambil terhadap legalisasi dan dekriminalisasi ganja di Ameria Serikat (AS) dan tingkat penggunaan ganja rekreasional dapat meningkat secara substansial sebagai hasilnya,” ujar Barbara Yankey, penulis penelitian dari Universitas Georgia State.

“Namun, masih sedikit penelitian tentang dampak penggunaan ganja terhadap kardiovaskular dan serebrovaskular,” ucapnya kemudian.

Studi tersebut dipublikasikan di European Journal of Preventive Cardiology. Mereka melihat adanya korelasi tingkat konsumsi mariyuana orang dewasa di AS dan hubungan antara penggunaan obat, serta mortalitas kardiovaskular mereka.

Para peneliti mengatakan perolehan data tentang konsumsi ganja di masyarakat sangat menantang karena tidak terdapat data longitudinal yang tersedia untuk penggunaan ganja. Mereka pun merancang sebuah studi lanjutan yang restrospektif dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional 2005-2006.

Dalam kajian tersebut para peserta berusia 20 tahun ke atas, peneliti pun mengajukan pertanyaan apakah mereka pernah menggunakan ganja atau tidak. Mereka yang menjawab pernah dinilai sebagai pengguna ganja oleh peneliti.

Terkait dengan jangka waktu penggunaan ganja, peneliti melihat pada usia yang dimiliki oleh peserta dengan pertama kali mencoba ganja lalu dikurangi dengan usia mereka saat ini.

Selain itu, tim peneliti juga melihat pada data kematian tahun 2011 dari Pusat Nasional Statistik Kesehatan. Mereka lalu menggabungkan kedua data tersebut.

Dari hasil tersebut peneliti menduga ada hubungan antara penggunaan ganja dan lamanya penggunaan dengan kematian akibat hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit serebrovaskular. Mereka juga mengamati faktor risiko akibat dari penggunaan rokok dan variabel demografis seperti jenis kelamin, usia dan etnis.

Hasilnya dari 1.213 peserta yang dipertimbangkan adalah 34 persen tidak menggunakan ganja atau rokok, 21 persen menggunakan ganja, 20 persen menggunakan ganja dan rokok, 16 persen menggunakan ganja dan sudah berhenti dengan rokok, 5 persen perokok di masa lalu dan empat persen hanya merokok.

Dari perhitungan tersebut, lamanya rata-rata penggunaan ganja adalah 11,5 tahun.

Mereka membandingkan pengguna dan non pengguna dari data tersebut. Pengguna ganja memiliki risiko kematian akibat hipertensi 3,42 kali lebih tinggi, dan risiko 1,04 kali lebih besar untuk setiap tahun penggunaan.

Namun, tidak ditemukan hubungan antara penggunaan ganja dengan kematian akibat penyakit jantung atau penyakit serebrovaskular.

“Dengan kecendrungan yang semakin meningkat untuk mendekriminalisasi penggunaan ganja, penting untuk memahami risiko kesehatan penggunaannya. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui risiko berbagai penyakit jantung akibat merokok ganja tapi temuannya jauh dari kepastian,” ujar Tim Chico, seorang pembaca obat kardiovaskular di Universitas Sheffield.
Di luar penelitian itu, penggunaan ganja bagaimanapun masih termasuk dalam hal yang ilegal di banyak negara. Oleh karenanya, masih sulit untuk memastikan risiko kesehatan yang ditimbulkannya.

Langkah pertama ini dinilai membantu pengguna ganja untuk mengurangi risiko penyakit jangka panjang yang ditimbulkan oleh ganja. Meski demikian, peneliti belum dapat memastikan seberapa lama para pengguna ini menghisap ganja.

“Namun, walaupun makalah ini memiliki keterbatasan cukup banyak bukti dari penelitian lain yang menduga penggunaan ganja meningkatkan risiko beberapa jenis penyakit jantung dan hal tersebut tidak membahayakan,” tuturnya.(cnn/red)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS