67319 KALI DIBACA

Refleksi Peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1945

Refleksi Peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1945
example banner

Salam perjuangan dan persatuan, Pada hari ini, Jum’at 10 November 2017 kita semua seluruh rakyat Bangsa Indonesia memperingati suatu peristiwa yang sangat heroik dari Arek-Arek Surabaya pada 72 tahun yang lalu, tepatnya pada Tanggal 10 November 1945.

Mengenang, memperingati suatu peristiwa di Negara yang merupakan bagian perjalanan dan riwayat Bangsa dan Negara Republik Indonesia  ini adalah wajib bagi generasi penerus Bangsa, agar generasi penerus tidak kehilangan arah dan tujuan Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia disatu sisi dan asal usul proses berdirinya Negara yang kita cintai ini.

Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa peringatan-peringatan tersebut janganlah berhenti pada seremonial semata dan hanya mengesankan seakan-akan kita semua sebagai Bangsa, dari Pejabat Negara hingga rakyat biasa tidak melupakan Riwayat dan Sejarah Bangsanya.

Namun seyogyanya dalam peringatan-peringatan tersebut kita semua harus bisa merefleksikan kembali tentang *roh* atau *substansi* peristiwanya pada saat itu, dengan satu pertanyaan, mengapa peristiwa yang sekarang kita peringati itu terjadi.

72 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, Rakyat Indonesia dengan sangat heroik dan bersemangat berani memproklamirkan Kemerdekaan Negaranya yang bernama “Republik Indonesia”

Keberanian dari para pemuda-pemuda pada waktu itu yang berkolaborasi dengan para tokoh-tokoh tua Bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya disambut sorak sorai seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Namun demikian sangat berbeda tanggapannya bagi Negara-negara Asing yang selama bertahun tahun merasakan nikmatnya mengeksploitasi hasil bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Kemerdekaan yang telah dirancang dan dipersiapkan dengan penuh dinamika perjuangan sejak bulan Mei 1908 oleh para pemuda yang tergabung dalam Pergerakan Boedi Oetomo, merupakan “ancaman yang sangat serius” bagi Bangsa dan Negara Asing tersebut, khususnya Belanda dengan VOC yang sangat lama berada di Indonesia.

Untuk itu maka kurang lebih 2 (dua) Minggu dari Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau belum sampai satu bulan Indonesia Merdeka, Belanda dengan sekutu-sekutunya kembali untuk menguasai Indonesia lewat Surabaya.

Melihat kembalinya Belanda yang didukung oleh sekutu-sekutunya tersebut membombardir Surabaya, maka Arek-arek Suroboyo (Surabaya) kembali keluar dari sarangnya, secara bersatu padu melawan Belanda dan Sekutunya dengan semangat mempertahan Kemerdekaan Republik Indonesia disatu sisi dan tidak ingin lagi “Kolonialisme” menguasai Indonesia.

Selama kurang lebih satu bulan lamanya Arek-arek Surabaya bertempur melawan Belanda dan Sekutunya dengan sangat gigih dan gagah berani, walaupun Arek-arek Surabaya hanya berbekal senjata yang sangat sederhana, yakni “Bambu Runcing” menghadapi gempuran-gempuran sekutu dengan bom dan mesiu, Arek-arek Surabaya tidak pernah surut kebelakang, semboyannya sekali layar terkembang pantang surut kebelakang.

Perjuangan mereka yang sangat heroik tersebut akhirnya membuahkan hasil yang sangat spektakuler, Belanda dan sekutunya dapat dipukul mundur, bahkan seorang Jenderal dari Kerajaan Inggris dapat dibunuh oleh Arek-arek Surabaya.

Peristiwa itu terjadi pada “tanggal 10 November 1945” di Hotel Orange Surabaya, Jenderal dari Kerajaan Inggris tersebut bernama “Malabay” serta yang sangat spektakuler adalah sejak Kerajaan Inggris berdiri dan mempunyai angkatan perang hingga saat ini, baru “satu jenderalnya” gugur di medan peperangan melawan Negara yang belum genap satu bulan Merdeka.
Peristiwa diatas yakni semangat Arek-arek Surabaya dalam mengusir kembalinya  “Kolonialisme” tersebutlah akhirnya oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dijadikan monumental peringatan “Hari Pahlawan” yang kita peringati setiap tahunnya, termasuk hari ini.
Dengan mencermati latar belakang Peringatan Hari Pahlawan tersebut diatas, inti, roh atau hakikat peristiwa heroik  “Arek-arek Surabaya” adalah semangat mengusir “Penjajah atau Kolonialisme dan Imperialisme” dari Bumi Pertiwi, dari Republik Indonesia dalam bentuk apapun, baik penjajahan Negara kepada Negara maupun Manusia pada Manusia.

Seperti bunyi alinea 1 dari Pembukaan Undang Undang Negara Republik Indonesia yang berbunyi:
*Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan adalah hak segala Bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.”

Pertanyaannya kemudian adalah apakah Negara Indonesia, dimana kita semua berada dan bernaung di dalamnya saat ini sedang “terjajah” kembali oleh “Bangsa-bangsa Asing ?
Bung Karno pernah berpesan bahwa musuh utama dan paling berbahaya di Negara ini adalah *NEKOLIM*.
Benarkah saat ini kaum *Nekolim* telah menguasai Negara ini.
Dan jika kaum *NEKOLIM* telah menguasai Negara ini, melalui perkembangan teknologi, penguasaan atas lahan, penguasaan atas perekonomian, penguasaan atas sumber-sumber alam yang menguasai hajat hidup orang banyak, mengkooptasi dunia pendidikan bahkan telah menginvasi dan mengintervasi Perundang-undangan bahkan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan konklusi atau kesepakatan para pendiri Bangsa.
Maka momentum peringatan *Hari Pahlawan* saat ini harus bisa memotentum *Kesadaran Nasional* kita sebagai Bangsa untuk mengusir kaum *Nekolim* dari Bumi Pertiwi ini.

Seperti semangat Arek-arek Surabaya pada waktu itu dalam mengusir kembalinya kelompok *Kolonialisme* yang kembali ingin menguasai Negara ini.

Ijinkan diakhir tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa musuh kita bersama sebagai Bangsa bukanlah Suku, Agama, Ras maupun Antar golongan (SARA), tapi musuh kita adalah semua bentuk tirani yang mengoyak-ngoyak *rasa keadilan* sebagai wajah atau bentuk baru dari pada penjajahan atau yang disebut *NEOKOLONIALISME*, siapapun manusianya dan dari manapun Negaranya.
*SELAMAT HARI PAHLAWAN*
—-

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS