106919 KALI DIBACA

Petani Polisikan Pemilik Kios pupuk Dilampura

Petani Polisikan Pemilik Kios pupuk Dilampura
example banner

KOTABUMI –(Lampung) | Media Realitas-Petani berada di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) mengeluhkan pupuk non subsidi jenis TSP yang diduga tidak sesuai dengan isi kemasan, kemarin (22/10/2017).

Pasalnya, dalam kemasan pupuk TSP merek Mahkota dengan berat 50 Kilogram tersebut, terdapat banyak batu Seplit dan kotoran sampah.

Terlebih, didalamnya ditemukan juga rerumputan yang telah mengering yang telah tercampur dengan pupuk penyubur tanaman tersebut. Sehingga petani yang membeli pupuk itu, merasa tertipu dan merugi dikarnakan lahannya ditaburi dengan pupuk jenis itu.

Menyadari diri tertipu, Patoni (40), petani asal dusun Komi Kelurahan Kotabumi Ilir Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampura ini, melaporkan pemilik kios ke Mapolres setempat.

“Saya melapor ke Polres Lampura, atas pembelian pupuk non subsidi jenis TSP mrek Mahkota yang diduga telah di oplos. Ini merugikan kami sebagai petani,” ujar Patoni, usai melapor ke Polres Lampura, kemarin.

Ia menerangkan, peristiwa bermula dirinya membeli pupuk jenis TSP di kios Toko Tani Bahagia beralamat di Jalan Stasiun Kotabumi, Lampura pada Kamis (19/10) lalu.

Saat itu, dirinya membeli pupuk sebanyak empat karung dengan berat dua kwintal, seharga Rp 310 ribu per saknya. “Saya beli empat karung dengan masing-masing berat 50 kg. Ketika hendak memupuk lahan singkong, ternyata isi dalam kemasan tersebut berisi rerumputan kering dan banyak batu kerikil. Anehnya lagi, salah satu karung juga berisi karung beras bulog,” ungkap Patoni, di Mapolres Lampura.

Selanjutnya, ia dan kerabat dekatnya mendatangi kios tempat dirinya membeli pupuk yang di Impor oleh PT. Wilmar Chemical Indonesia, Jakarta tersebut.

“Di kios itu, pemiliknya mengakui jika pupuk tersebut kurang bagus. Sempat akan di ganti oleh pemiliknya. Namun, kami menolak dikarnakan hal tersebut sudah di laporkan ke Polres Lampura. Jadi pupuk yang telah dibeli itu, diserahkan ke Polres untuk barang bukti,” bebernya.

Patoni menilai, pupuk jenis TSP non subsudi tersebut sudah di oplos oleh oknum tidak bertanggungjawab dengan dalil untuk mencari keuntungan berlipat.

“Kalau seperti inikan  petani yang menjadi korban. Bagai mana tanaman bisa hasil, kalau pupuknya sendiri saja sudah begini. Ditambah harga pupuk dipasaran sangat tinggi, ini membuat petani menjerit. Kami menduga ada unsur kesengajaan pupuk dicampur untuk kepentingan peribadi,”sebut Patoni.

Pihaknya (petani, Red) berharap, agar kasus tersebut dapat diselidiki lebih lanjut oleh Polres Lampura. Dengan begitu, oknum-oknum yang bermain di pupuk dapat dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Kami hanya minta keadilan. Kalau terbukti pupuk tersebut di oplos maka kami harap pelakunya dapat dihukum,” kata Patoni, diaminin Firman petani lainnya.

Terpisah, pemilik kios Tani Bahagia, Rudi (47) mengaku, pupuk jenis TSP mrek Mahkota dengan kemasan 50 Kg bertuliskan, di Impor oleh PT. Wilmar Chemical Indonesia, Jakarta tersebut, berdalih bukan pupuk miliknya.

Pupuk itu, kata Rudi, diperolehnya dari Kios Tani Sejahtera berada di Jl. Raden Intan Kotabumi Tanah Miring, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampura.

“Pupuk itu milik Ayuk Irin. Dia sepupu saya yang juga membuka kios tidak jauh dari kios saya,” ujar Rudi, kemarin.

Ia mengaku tidak mengetahui, keberadaan isi pupuk TSP yang berisikan rerumputan kering dan batu kerikil tersebut.

“Saya mengetahuinya, ketika pembeli mendatangi kios dan menceritakan isi kemasan pupuk tersebut. Yang jelas, saya juga dapat beli dan menjualnya kembali dengan petani itu,” jelasnya.

Ketika disinggung, korban melaporkan ke Polres Lampura, terkait pembelian pupuk tersebut? Dirinya mempersilakan korba untuk melapor ke polisi.

“Kalau dia mau melapor silakan saja. Tapi besok (hari ini, Red) saya juga akan balik lapor dengan tuduhan mencemarkan nama baik saya,”ujar Rudi, yang didampingi kerabatnya Erwan.

Kasat Reskrim Polres Lampura, AKP Syahrial, mengatakan kasus tersebut masih dalam penyelidikan pihak anggotanya.

“Laporan sudah diterima. Keterangan saksi dan barang bukti pupuk sudah kita amankan, guna penyelidikan proses selanjutnya,” kata dia.

Laporan tersebut, tertuang di Nomor: LP/856/b-1/×/2017/Polda Lampung/Polres Lamut, tertanggal 22 Oktober 2017, tentang Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999, tentang perlindungan konsumen dan Undang-Undang Rebuplik Indonesia nomor 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman.

“Selain itu, barang bukti pupuk tersebut akan kita uji laboratorium guna mancari kandungan di dalamnya, sudah sesuaikah dengan label yang ada di kemasan pupuk tersebut,”jelasnya.

Untuk mencari itu, lanjutnya, polisi harus mencari tim ahli ahar semunya dapat terungkal.

“untuk itu, kami minta agar kasus ini diserahkan sepenuhnyabke Polisi, yakinlah siapa yang salah akan dikenakan hukuman sesuai dengam hukum berlaku “tutupnya (deferi)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS