46519 KALI DIBACA

CERMIN ANAK NEGRI,MIRIS SISWA HARUS BELAJAR DIGUBUK REOT

CERMIN ANAK NEGRI,MIRIS SISWA HARUS BELAJAR DIGUBUK REOT

KOTABUMI I Media Realitas- Begitu miris anak didik swkolah saat ini dikabupaten tua ini, demi mendapatkan ilmu Siswa-Siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Rejomulyo Kecamatan Abung Timur Kabupaten Lampung Utara (Lampura) harus rela belajar diruangan yang sangat memprihatinkan.

Betapa tidak, kondisi bangunan yang tidak layak baik dan jauh dari rasa nyaman dan aman. Sebab bangunan yang digunakan sudah lama kondisinya sangat memprihatinkan seperti bangunan yang sudah kropos, plapon jebol hinga terlihat kerangka atapnya.‎

Berdasarkan data dan pantauan dilapangan, sejak dibangun pada tahun 1982 silam, SDN 2 Rejomulyo tak kunjung ada perbaikan dan penambahan lokal, sementara jumlah siswa tidap tahun bertambah dan harus rela menggunakan ruangan perpustakaan dan rumah Kepsek yang sudah lama tak terpakai karena termakan usia.

Mereka (para siswa) calon penerus anak bangsa ini harus rela belajar untuk mendapatkan ilmu tiap hari dihantui rasa ketakutan jika ruangan yang digunakan pada saat proses KBM tiba-tiba ambruk dan menimpa guru dan siswa yang ada.

‎Sementara kondisi yang memprihatinkan tersebut sudah lama berjalan, bahkan dari pihak KUPT dan Dinas setempat pernah berkunjung, namun sayangnya kunjungan tersebut hanya isapan jempol saja karena SD tersebut tak kunjung diperbaiki.‎

“Sudah capai sepuluh tahun terpaksa anak didik belajar digedung perumahan Kepsek yang dusah hampir roboh,” ujar Kepala SDN 2 Rejomulyo Sunarso.

Dia mengatakan, ‎dirinya sudah sering mengajukan profosal agar sekolah yang dipimpinya mendapatkan perhatian dan perbaikan, namun hingga saat ini tidak ada perbaikan, padahal kondisi ini sangat memprihatinkan.

“Sudah sering saya mengajukan profosal, bakhan dari pihak KUPT dan Dinas Pendidikan sudah pernah mengunjungi tapi masih saja tidak ada penambahan lokal,” ungkapnya seraya mencetuskan terpaksa menggunakan lokal yang nyaris roboh.

Dia menambahkan, aktivitas terus berlajan seiring jumlah siswa yang ada, bahkan kami merasa khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung.

“Jumlah siswa sampai 100, dimana untuk kelas W sebanyak 14 siswa, Kelas 2 sebanyak 15 siswa, Kelas 3 sebanyak 14 siswa, Kelas 4 sebanyak 29 siswa, kelas 5 sebanyak 14 siswa dan kelas 6 sebanyak 26 orang,” imbuhnya.

Sementara itu menurut salah seorang murid ketika ditanya media menuturkan, dalam proses belajar seluruh siswa merasa tidak nyaman dan aman karena khawatir terjadi hal yang tidak inginkan.

‎”Kami khawatir pak, belajar juga tidak nyaman karena takut ambruk ketika sedang belajar berlangsung. Kami berharap dapa penambahan lokal,” tutupnya.‎(deferi)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS