79619 KALI DIBACA

Ketua Ikadin Aceh Safaruddin SH Buka Pendidikan Profesi Advokat

Ketua Ikadin Aceh Safaruddin SH Buka Pendidikan Profesi Advokat
Peserta pendidikan advokat IKADIN Aceh
example banner

Banda Aceh I Media Realitas– Ketua Ikatan advokat Indonesia (IKADIN) Aceh safaruddin SH, membuka pendidikan profesi advokat ikatan advokat Indonesia (IKADIN) Aceh.

Advokat adalah profesi yang sangat mulai dan kesemuanya tergantung kepada kita semua, dan para calon advokat dapat mengikuti pendidikan Ini dengan baik, ujar safaruddin SH, Senin (11/9) di komplek kampus Muhammadiyah Aceh.

Pendidikan advokat ini diselenggarakan sesuai dengan rekomendasi dari pengurus Ikadin pusat yang kesekian kalinya kita lakukan di aceh, ujar safaruddin ketua Yara aceh.

Sementara itu Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Banda Aceh yang diwakili oleh Muhammad Thaib dalam sambutan nya menyebutkan pendidikan profesi advokat Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Aceh yang diselenggarakan di ruang Peradilan Semu, Fakultas Hukum Muhammadiyah, ada nya kerja sama yang kita lakukan agar dapat melahirkan advokat yang berkualitas di aceh.

Pendidikan yang diikuti oleh 25 peserta itu akan berlangsung mulai hari ini, Senin 11 – 18 September 2017 sekaligus akan dilaksanakan ujian.

Sementara itu ketua panitia pelaksana H Sulaiman SH menyebutkan  rencana pendidikan ini sudah diselenggarakan pada Juli 2017 lalu, bahkan dirinya juga mengaku sudah melaporkan penyelenggaraan tersebut ke Ketua Umum IKADIN pusat

“Sudah dapat SK, rencananya akan dilaksanakan pada Juli 2017 tapi karena berbagai kendala teknis baru bisa dilakukan hari ini,” ujar H Sulaiman SH.

Menurut, Sulaiman , terselenggaranya pendidikan Advokat ini juga tidak lepas dari kesediaan Fakultas Hukum Muhammadiyah untuk bekerjasama dengan IKADIN Aceh.

Menurutnya, ini adalah kali kedua mereka melaksanakan pendidikan profesi advokat yang bekerjasama dengan Fakultas Hukum. Jika sebelumnya IKADIN Aceh menggandeng Universitas Jabal Ghafur Pidie.

“Karena aturannya memang mengharuskan bekerja sama dengan Fakultas Hukum jika ingin melakukan pendidikan Advokat,” katanya.

Sulaiman, juga mengaku prihatin, minat sarjana hukum di Aceh untuk menjadi pengacara sangat kurang, sementara jika di Sumatera Utara ada ratusan sarjana hukum yang ikut pendidikan profesi advokat.

“Tapi kalau di sini pengalaman saya, paling banyak 40 orang. Namun, kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyebarkan informasi,” jelasnya.

Padahal kata Suliaman , menjadi seorang pengacara adalah pekerjaan mulia karena menjadi pengacara bukan hanya berfikir tentang kantor, kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan, karena itu adalah litigasi sementara menjadi pengacara bisa juga non litigasi seperti advokasi dan mengawal pembangunan agar menjadikan diri kita berguna bagi orang lain.

Dalam pendidikan, sulaiman menyebutkan bahwa akan disampaikan juga tentang kode etik advokat, tujuannya agar tidak menyalahi kode etik saat menjadi advokat.(red)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS