IKLAN YARA

Rumah Sakit Adam Malik Bohongi Pasien BPJS

oleh -241.489 views
UPDATE CORONA
Medan | mediarealitas
Rumah Sakit H Adam Malik Medan bohongi pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Pihak RS Adam Malik Medan hanya memberi janji-janji belaka untuk pelaksanaan tes laboratorium bagi pasien yang terinfeksi virus Hepatitis C, tanpa pernah terealisasi.
Bahkan, sudah terhitung 3 bulan sejak Desember 2015, pelaksanaan tes laboratorium yang dijanjikan dan tak ditepati itu, alasannya terkesan dibuat-buat oleh pihak RS Adam Malik Medan.
“Awalnya tes laboratorium akan diupayakan dilakukan Desember 2015, di bulan yang sama, berkas-berkas diajukan bersamaan dengan rekomendasi dokter yang menangani saya. Tetapi dari Desember kemudian dijanjikan Januari, saya tagih Januari katanya pertengahan Februari. Dan Februari saya datang, katanya baru bisa dilakukan Maret. Sekarang, Maret saya tagih, katanya Insya Allah April. Ini kan namanya pembohongan. Apakah memang pasien BPJS selalu dipermainkan seperti itu. Sementara, kontrol terakhir saya, kalau April saya belum ada hasil laboratorium, menurut dokter saya tidak akan dapat obat lagi,” papar Bambang kepada wartawan, Rabu (9/3), pasien peserta BPJS yang positif terinfeksi virus Hepatitis C dan sejak April 2015 rawat jalan di RS Adam Malik Medan.
Bambang yang selama ini mengkonsumsi obat ribavirin dan suntik pegasys interferon, mengungkapkan, seharusnya di Desember 2015 lalu, persis 6 bulan ia rawat jalan di RS Adam Malik, harusnya tes darah HCV RNA, guna mengetahui jumlah virus yang ada di dalam darah.
“Dari hasil tes laboratorium HCV RNA, maka akan diketahui perkembangan virus selama telah menjalani rawat jalan, menurun, tetap atau meningkat. Jika memang angkanya tidak tinggi lagi, maka ada kemungkinan konsumsi obatnya akan dihentikan. Dan rencana tes HCV RNA yang kedua ini, merupakan indikasi medis, usulan dokter yang pada Desember 2015 lalu telah diproses pihak rumah sakit. Tapi ya itu, saya terus hanya diberi janji-janji, dari Desember ke Januari, Januari ke Februari terus ke Maret dan akhirnya rumah sakit bilang tes HCV RNA akan dilakukan April. Itu kan membohongi namanya,” ungkap Bambang.
Sementara, kata Bambang, menurut pihak BPJS, mereka tetap membayar biaya keseluruhannya untuk itu, secara paket. “Tetapi anehnya, meski untuk dilakukan tindakan medis tes lab yang merupakan indikasi medis itu ditanggung BPJS, namun pihak BPJS juga tidak bisa berbuat apa-apa. Alasannya, BPJS tidak bisa intervensi pihak rumah sakit, karena mereka harus kirim ke RSCM Jakarta untuk tes HCV RNA itu,” urainya.
Tetapi, menurut bagian Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RS Adam Malik, Nurmaya, mulai Januari 2016, tes HCV RNA sudah bisa dilakukan sendiri oleh RS Adam Malik. Hanya saja, kata Bambang, kenapa harus dilakukan Januari, Nurmaya waktu itu bilang menunggu reagen.
“Karena saya tanya terus, akhirnya bu Nurmaya angkat tangan dan menyarankan agar saya menemui Direktur Medis dan Rawat Jalan RS Adam Malik. Yang ada saya hanya ditertawai dan menurut salah satu Kabag disana, salah kalau bagian administrasi mengurusi pasien. Dan dari situ juga terungkap, bahwa laboratorium masih direhab. Sehingga diharapkan pertengahan Februari 2016 sudah rampung dan bisa dilakukan. Dan itu juga dikuatkan oleh ibu Upik yang ada di laboratorium,” bebernya.
Saat pertengahan Februari ditagih seperti yang dijanjikan pihak rumah sakit, ujar Bambang, lagi-lagi alasan Upik karena ruang lab belum ready. Padahal waktu itu, rehabnya sudah rampung. Upik yang menjanjikan tes HCV RNA dilakukan awal Maret, ingkar lagi dengan alasan belum ada obatnya, reagen tadi. Tetapi, lanjut Bambang, saat dikroscek ke Nurmaya, untuk kepastian kapan tes lab itu dilakukan, dari percakapan keduanya (Upik dan Nurmaya-red) via ponsel, terungkap kalau soal tes lab ini, masih akan dibicarakan ke kepala laboratorium. Tanpa ada sedikitpun menyebutkan kendalanya ruang lab yang belum ready ataupun masih menunggu obat reagen.
“Nah, terakhir, saat saya pastikan lagi kapan tes lab itu, dengan entengnya melalui SMS, Upik bilang Insya Allah April. Apakah memang pasien BPJS itu selalu dibohongi oleh pihak rumah sakit. Kenapa dalam pelayanan terhadap pasien dengan penyakit tertentu, terkesan ada diskriminasi. Kenapa juga tindakan medis dengan indikasi medis yang seharusnya ditanggung BPJS, tidak dituntaskan pihak rumah sakit. Padahal sebagai peserta BPJS kita juga bayar kok. Apalagi berkali-kali saya bilang, kalau sampai bulan depan tidak ada hasil tes HCV RNA, maka saya tidak akan dapat obat lagi. Itu yang dikatakan dokter saat kontrol saya terakhir awal Maret lalu. Yang paling saya rasakan, justeru pelayanan RS Adam Malik terhadap pasien BPJS kerap memandang sebelah mata,” tandasnya. (LR)
BACA JUGA :   Terkait Dugaan Suap, Bupati Muba dan Lima ASN Ditangkap KPK