IKLAN YARA

Rawat Pasien Miskin, Perawat RSU Prof.Dr.Boloni Turun Pangkat dan Dipotong Gaji

oleh -1.588.489 views
UPDATE CORONA

Medan  | mediarealitas

Dua puluh empat tahun (24) bertugas, ternyata tidak menjadi perhatian pihak managemen untuk menjadi bahan pertimbangan.  Kisah sedih ini dialami oleh seorang perawat bernama  Juniar Panjaitan(47) . Hanya karena menerima pasien umum miskin untuk dirawat di Rumah Sakit Umum Prof.Dr.Boloni (dahulu RSU.Mongonsidi Medan) yang beralamat diJalan W.Mongonsidi No.11 Medan, mendapat pemotongan gaji sebesar Rp.250 ribu/bulan selama 3 bulan oleh pihak manajemen rumah sakit, dengan alasan untuk mengganti biaya perobatan seorang anak balita dari keluarga miskin.

Informasi yang didapat dari perawat yang tinggal di Jl.Tanjung Anom Perum Graha Blok A No.109 tersebut, berawal saat itu Selasa(16/2/2016), seorang ibu membawa anak balitanya bernama Melisa(5) datang berobat kerumah sakit Prof.Dr.Boloni dengan kondisi demam tinggi dan sesak napas,  bayi ibu tersebut sangat membutuhkan pertolongan, sehingga kami langsung merawat si bayi mengopname si bayi.
“Saat diopname, pihak administrasi RSU Prof.Dr.Boloni saat itu meminta panjar kepada ibu bayi, namun ibu bayi mengatakan suaminya akan datang setelah pulang dari kerja ke rumah sakit untuk membayarkan panjarnya.

BACA JUGA :   Asrama Brimob dan Rumah Warga di Lhokseumawe Ludes Terbakar

Namun diketahui Ayah sibayi ternyata juga tidak mampu membayar biaya perobatan anaknya. Setelah kondisi si bayi membaik, esoknya mereka telah dipulangkan dari rumah sakit oleh Zr.Nelly dan Juwita (staf administrasi rumah sakit). Pemulangan pasien tanpa sepengetahuan dirinya. Dan atas persetujuan pihak rumah sakit. Karena saat itu jabatan saya adalah Menko atau pengawas perawat di rumah sakit Prof .Dr.Boloni.” Terangnya.

Lanjutnya lagi, setelah bayi dipulangkan, direktur rumah sakit, dr.Irvan, dr.Vera, Juwita (adm) dan Zr.Nelly(Kepala Perawat) melimpahkan biaya pengobatan bayi miskin tersebut sebesar Rp.750 ribu kepada saya sendiri, dengan cara perbulannya gaji saya dipotong sebesar Rp.250 ribu/bulan, dipotongnya sampai 3 bulan.
“Saya tidak mengerti kenapa semua biaya pengobatan bayi dilimpahkan kepada saya. Untuk diketahui sebagai Menko saya menerima  gaji sebesar Rp.2.416 ribu/bulan dan memiliki telah bekerja selama 24 tahun dirumah sakit tersebut dari seorang perawat biasa. Karena pasien masuk golongan pasien umum,  dan tidak sanggup membayar biaya perobatan, pihak rumah sakit membebani biaya perobatan sibayi kepada saya.” Ucap Juniar.

BACA JUGA :   Cek Jalur Batu Bara Bajubang-Tempino, Kapolda Nilai Belum Layak Namun Tidak Ada Pilihan

Diakuinya, selain dibebankan untuk membayar sendiri semua biaya opname dan perobatan sibayi miskin, pihak rumah sakit juga mengeluarkan surat peringatan (SP) kepadanya, selanjutnya jabatan Menko  diturunkan menjadi perawat biasa.

Menurut pengakuan istri dari Marga Simangunsong ini, semenjak kejadian itu, dirinya selalu mendapatkan intimidasi saat bekerja dan ucapan kata-kata yang tidak pantas dikeluarkan oleh seorang direktur rumah sakit kepada bawahannya.

“Didepan direktur saya jelaskan alasan saya hanya menerima pasien balita tersebut untuk opname, karena kondisi pasien saat itu sedang sakit parah dan butuh pertolongan. Sebagai kordinator perawat(Menko) saya selanjutnya menerima pasien untuk dirawat, walaupun pasien tersebut masuk golongan pasien umum. Saat orang tua pasien tidak mampu membayar biaya perobatan bukan menjadi tanggung jawab saya lagi, seharusnya pihak administrasi atau dokter yang memberikan izin pulanglah yang ditanya oleh direktur rumah sakit.
Mendengar keterangan saya, dr.Irvan selaku direktur RSU Prof.Dr.Boloni malah emosi dan membanting gagang telepon kantor keatas meja sambil mengucapkan kata-kata kotor, dan seperti tidak berpendidikan.

BACA JUGA :   Polsek Cengkareng Gelar Latihan Antisipasi Penanganan Banjir

Anjuran dr.Irvan selaku direktur RSU Prof.Dr.Boloni, dr.Vera Marpaung, Zr.Nelly dan Juwita (admin), mengatakan kepada saya ” jikalau ada pasien pribadi yang tidak punya uang ataupun tidak memberikan panjar perobatan terlebih dahulu, pasien tersebut  dipulangkan atau dirujuk saja ke rumah sakit lain. Makanya kita harus tahu mereka punya uang atau tidak, jikalau tidak ada uang jangan pasien diopnamekan.” Ujarnya menirukan ucapan dr.Irvan.

Terpisah, saat wartawan  menyambangi rumah sakit Prof, Dr.Boloni yang beralamat dijalan Mongonsidi Medan, Rabu(16/3) sore Direktur RSU swasta tersebut tidak dapat ditemui karena sedang berada diluar kota. Namun pihak resepsionis mempersilahkan  wartawan untuk bertemu dengan staff administrasi bernama Juwita Simanjuntak.

“Bapak Direktur sedang diluar kota pak, masalah rumah sakit semuannya diserahkan kepada beliau, termasuk juga bila ada wartawan yang hendak konfirmasi. Jadi tinggalkan saja data diri, setelah Direktur di Medan, kami akan hubungi.” Pungkas Juwita. (LR)