Pemko Medan Bahas Jalan Rusak Akibat Proyek Pipanisasi

oleh -33.489 views

IDUL FITRI

Medan | mediarealitas

                Proyek pipanisasi limbah Kota Medan atau dikenal dengan sebutan Metropolitan Sanitation Management and Healt Project (MSMHP) menyebabkan sejumlah ruas jalan  di Kota Medan yang terkena penggalian menjadi rusak dan berlumpur. Selain itu kondisi jalan yang digali dan telah selesai  dilakukan penanaman pipa juga tidak mulus seperti sediakala.

                Di samping pengaspalannya terkesan asal jadi, kualitasnya tidak sesuai dengan spesifikasi Dinas Bina Marga. Akibatnya masyarakat pengguna jalan merasa tidak nyaman dan rentan terjadinya kecelakaan. Itu sebabnya masyarakat minta kepada Pj Wali kota Medan, Drs H Randiman Tarigan MAP segera menuntaskannya.

                Atas dasar itulah Randiman mengundang, Provincial Project Management Unit (PPMU) Syarifah dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sahat Tampubolon selaku penanggung jawab proyek pemasangan pipanisasi limbah  hadir Di Balai Kota Medan, guna membicarakan penanganan jalan rusak akibat penggalian jalan untuk pemasangan pipanisasi limbah Jumat (18/12).

                Usai rapat tertutup dengan sejumlah pimpinan SKPD terkait, Sahat dalam jumpa pers yang dipimpin Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang), Qamarul Fatah menjelaskan, pengerjaan proyek pemasangan pipanisasi limbah ini selesai dilakukan tahun 2019. Untuk Kota Medan, mereka akan membangun pipa primer sepanjang lebih kurang 20 kilometer.

                Pipa primer ini bilang Sahat, diperuntukkan menampung 13.300 pipa sanitasi limbah rumah. Artinya, seluruh buangan limbah dari rumah akan disalurkan ke pipa primer untuk selanjutnya dibuang ke hilir yakni intaslasi pengolahan limbah (IPAL) milik PDAM Tirtanadi di Jalan Cemara. Dikatakannya, sanitasi sambungan pipa ini sangat penting untuk menghindari agar air tanah tidak tercemar limbah rumah.

                “Pelayanan sanitasi terhadap masyarakat harus bisa diwujudkan 100 persen. Untuk Kota Medan, baru 3 persen yang terlayani. Untuk memenuhi  itu, proyek pemasangan pipanisasi limbah ini dilakukan,” kata Sahat.

                Untuk menanam pipa sanitasi ini, Sahat mengatakan mereka butuh kedalamam 3,5 meter sampai 7,5 meter. Sebab, pemasangan pisa harus miring dari hulu ke hilir sehingga air limbah yang dialirkan sampai ke IPAL akhir Jalan Cemara. Namun berhubung kondisi tekstur tanah berpasir dan berair, pengorekan sampai melebar melebihi kedalaman dan kelebaran yang telah merepa prediksi semua  sehingga merusak jalan.

                Dikatakan Sahat, kerusakan  jalan yang terjadi akibat  penggalian  menjadi  tanggung jawab pihaknya. Untuk itulah mereka perlu berkoordinasi dengan Pemko Medan agar perbaikan nanti tidak tumpang tindih.  Di samping itu kendala yang mereka temui, anggaran penutupan jalan yang digali  hanya untuk 2 meter sehingga perlu dilakukan pembahasan  lagi dengan pemerintah pusat. Karenanya,  dia pun beharap masyarakat bersabar karena jalan rusak akibat penggalian akan diperbaiki kembali. Apalagi mereka juga memiliki waktu masa pemeliharaan selama 360 hari.

                Sedangkan Provincial Project Management Unit (PPMU), Syarifah menjelaskan, proyek pipanisasi limbah ini sangat penting untuk mencegah agar air tanah tidak tercemar limbah rumah tangga. Dikatakannya, air tanah yang sudah tercemar limbah  rumah tangga akan lebih mahal biaya pengolahannya untuk dapat dijadikan air minum.

                Menurut Syarifah, selama pengerjaan yang telah dilakukan, mereka trel;ah membangun lebih kurang 6.000 pipa sanitasi limbah rumah tangga, sedangkan target yang harus dibangun sebanyak 13.300. “Untuk itu kita minta dukunagn semau masyarakat, sebab pembangunan pipa  ini snagat penting artinya bagi masyarakat,” ungklap Syarifah.

                Asisten Ekbang, Qamarul Fatah mengatakan, koordinasi selama ini antara pemko Medan  dan Satker MSMHP belum terpadu. Itu sebabnya melalui pertemuan ini, koordinasi ke depan akan lebih padu dan terbuka lagi, terutama dalam menyikapi jalan rusak akibat penggalian jalan untuk penanaman limbah pipanisasi tersebut.

                “Untuk mempermudah koordinasi ini, kita juga membentuk tim. Selain koordinasi, tim yang dibentuk ini akan melakukan pengawasan terkait dengan penggalian yang dilakukan sekaligus perbaikannya kembali. Kita pun berharap jalan-jalan yang rusak akibat penggalian bisa diperbaiki seperti sediaka. Apabila tidak bisa dilakukan pengaspalan, kita harapkan mereka bisa melakukan pembetonan,” harap Qamarul.(LR)