74419 KALI DIBACA

Sidik Dugaan Korupsi Sarana Sekolah, Kejari Abdya Periksa 33 Saksi

Sidik Dugaan Korupsi Sarana Sekolah, Kejari Abdya Periksa 33 Saksi
Foto: Kasi Intel Kejari Abdya, Dasril A Yusdar SH

Blangpidie | Realitas – Kejaksaan Negeri Aceh Barat Daya (Kejari Abdya) telah memeriksa 33 saksi terhadap kasus dugaan tindak pidana korupsi pada pengadaan E-Learning (Tik) Kegiatan Peningkatan Sarana Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dalam Kabupaten Abdya pada tahun 2015 lalu di Dinas Pendidikan (Disdik) setempat.

Dari sejumlah alat bukti yang dikumpulkan, Jaksa menduga adanya kerugian negara dan tindakan melawan hukum dari total anggaran satu miliar lebih untuk pengadaan sarana sekolah tersebut.

Bahkan, Jaksa telah meningkatkan kasus tersebut ketahap penyidikan (sidik).

Kepala Kejari Abdya, Abdur Kadir SH MH melalui Kasi Intel, Dasril A Yusdar SH, Selasa (26/6/2018) membenarkan, kalau kasus tersebut sudah masuk ke tahap penyidikan.

Dalam 19 hari, pihaknya telah memanggil dan memintai keterangan dari 33 saksi yang berkaitan dengan pengadaan sarana sekolah itu.

Mengenai penetapan tersangka, Dasril masih menunggu hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Aceh.

“Kita sudah melakukan ekspos kasus ini ke BPKP sebelum lebaran kemarin.

Jika hasil audit sudah keluar, tinggal kita umumkan tersangkanya saja,” ungkap Dasril diruang kerjanya.

Dasril menyebutkan, untuk kasus tersebut sudah melebihi dari dua alat bukti.

Dimana, sejumlah saksi yang diperiksa merupakan pihak Dinas terkait, Rekanan, termasuk pihak sekolah selaku penerima sarana dimaksud.

Dengan besar anggaran satu miliar lebih, paket tersebut dipecah menjadi 11 item.

Sarana sekolah yang dibelanjakan berupa Leptop, Infocus (Proyektor), Komputer dan sejenisnya.

“Tidak bisa dipungkiri lagi, tim penyidik telah menemukan adanya dugaan perbuatan melawan hukum dan kerugian negara.

Setiap yang terlibat harus siap mempertanggung jawabkan itu semua,” ujar Dasril.

Dasril menyebutkan kalau aroma kasus tersebut, telah tercium sejak awal tahun 2018 lalu.

Berbekal surat perintah operasi intelijen dari Kajari Abdya, pihaknya lansung melakukan proses penyelidikan.

“Meski paket ini pada tahun 2015 lalu dilaksanakan, tidak tertutup kemungkinan kalau indikasi korupsinya akan terkuak pada tahun 2018 ini.

Untuk itu, kami terus mengkaji kasus ini hingga tuntas,” demikian tuturnya. (Syahrizal)

Subscribe

MEDIA REALITAS