36119 KALI DIBACA

Disprindag Rohul Ancam Tutup Swalayan Yang Gunakan Permen Sebagai Alat Tukar Pengganti Rupiah

Disprindag Rohul Ancam Tutup Swalayan Yang Gunakan Permen Sebagai Alat Tukar Pengganti Rupiah

Rokan Hulu I Media Realitas – Terkait banyaknya keluhan masyarakat saat ini tentang pedagang atau swalayan serta Market dan Mini Market yang gunakan modus beri kembalian uang belanja’an  Rp 100 hingga 1000 (recehan) dengan permen kepada konsumen.

Dinas Perindustrian  dan Perdagangan (Disprindag) rokan hulu  bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Provinsi Riau  melaksanakan penertiban dengan menjumpai sejumlah pemilik pedagang dan Swalayan dengan menyampaikan surat edaran langsung, Jumat (22/9)

Dalam surat edaran tersebut tertera  bahwa mengganti uang kembalian dengan permen melanggar peraturan dan undang-undang serta bisa dipidanakan sehingga sejak edaran ini di edarkan tidak diperbolehkan pengembalian uang konsumen dengan menggunakan permen. Sesuai dengan undang-undang Bank Indonesia (BI) dan Undang-undang Konsumen.

Turut Hadir pada penertiban itu, Kepala Bidang Perdagangan Rohul Ir. Saharuddin S.Sos, Bidang Funding Offceer Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Rokan Hulu  Yasman didampingi staf Novalia  dengan sasaran awal Swalayan dan Mini Market wilayah Kota  di Pasirpengaraian.

Mini market dan swalayan di kecamatan Rambah bersedia melayani konsumen dengan tidak memberikan permen pengganti uang saat belanja.

Kepala Bidang Perdagangan Rohul Ir. Saharuddin pihaknya menyampaikan surat edaran kedua berupa penertiban kepada pemilik Swalayan, Mini Market dan pedagang.yang masih nakal.

Hari ini  langsung memberikan kepada perwakilan pemilik Swalayan dan Mini Market, selanjutnya Dinasnya mengedarkan surat edaran secara keseluruh pedagang yang ada di Rokan Hulu,”kata Kepala Bidang Perdagangan Rohul Ir. Saharuddin kepada  awak media disela-sela menyampaikan surat edaran itu kepada pemilik Swalayan dan Mini Market.

“Pedagang atau siapapun harus memahami aturan ini dengan baik, jangan sampai melakukan pelanggaran.

Tanbahnya  Masyarakat berhak melapor kepada polisi bila mengalami kejadian seperti ini. Uang rupiah adalah alat tukar yang resmi, tak bisa diganti-ganti,” tegasnya lagi.

Dia menjelaskan, dalam Pasal Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, disebutkan bahwa setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau untuk menyelesaikan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau untuk transaksi keuangan lainnya di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah.

Selanjutnya dalam Pasal 33 ayat (1) UU Mata Uang juga menyebutkan Setiap orang yang tidak menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan/atau transaksi keuangan lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

“Bila ada laporan kasus seperti ini maka kepolisian dan Bank Indonesia akan saling berkoordinasi dalam proses hukum tersebut,” katanya.

Selain itu, mengganti uang dengan peremen juga melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan ancaman maksimal dua tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar.

Sementara itu, sejumlah Pemilik Swalayan menyatakan sulitnya memperoleh uang recehan, sehingga membuat permen sebagai solusi terbaik.

“Tentang penertiban dari Disprindag Rohul ini, kami akan menghubungi pihak Bank untuk menyediakan uang recehan Rp 100 sampai dengan 1000, sehingga pengembalian uang konsumen yang belanja tidak lagi kami gunakan permen,”Akui mereka para pemilik Swalayan dan Mini Market setelah menerima surat edaran nomor 510/Perindag-Dag/247 tentang penyediaan uang receh/koin tanggal 20 september 2017 tindaklanjut surat sebelumnya nomor  518/DKKP-Dag/672 tanggal 16 November 2015.(red)

Subscribe

MEDIA REALITAS