6419 KALI DIBACA

Betapapun Hebatnya Google, Produknya Banyak yang Gagal

Betapapun Hebatnya Google, Produknya Banyak yang Gagal

Semua hal yang berhubungan dengan Google terlihat fantastis. Tengoklah beberapa produk atau layanan yang mereka miliki. Secara statistik, sangat perkasa.

Google Search, layanan paling utama, digunakan untuk melakukan 3,5 miliar kali pencarian internet setiap hari oleh orang-orang di seluruh dunia. Lalu ada 1,5 miliar pengguna aktif Gmail, layanan e-mail gratis dari Google, di akhir 2018. Angka itu dilengkapi dengan masifnya pengguna YouTube, media sosial berbasis video, yang kini telah ditonton 1,8 miliar penduduk maya dunia.

Dan hampir seluruh aplikasi ride-sharing seperti Gojek, Grab, Uber, atau Ola seakan-akan wajib menggunakan Google Maps, aplikasi perpetaan milik Google, sebagai pendukung fitur utama mereka. Kemantapan itu belum ditambah fakta bahwa Google adalah pemilik sah Android, sistem operasi mobile paling laku di jagat raya.

Ditilik secara kasatmata, dengan statistik yang fantastis itu, Google tampaknya sukar terpeleset. Sayangnya, menurut catatan Killed by Google, suatu layanan web sumber terbuka yang mencatat produk/layanan milik Google, perusahaan yang bermarkas di California ini sering pula melahirkan produk/layanan yang gagal, tidak laku, bahkan tidak dilirik konsumen.

Dalam waktu dekat, misalnya, Google hendak mematikan lima produk/layanannya. Salah satunya adalah Google URL Shortener, layanan penyingkat URL. Google URL Shortener gagal membendung berkuasanya Bit.ly, salah satu pemain pertama di pasar ini.

Produk/layanan Google lainnya yang tinggal menunggu ajal ialah Google+. Menurut rencana, Google+ akan resmi dimatikan Google pada bulan depan, April 2019.

Selain Google URL Shortener dan Google+, yang hendak mati dalam waktu dekat lainnya ialah Google Fusion Tables, Fabric, dan Inbox by Gmail. Secara keseluruhan, lima produk/layanan yang akan dimatikan itu akan menyusul 145 produk/layanan buatan Google yang telah lebih dahulu berpulang.

Salah satu produk/layanan Google yang telah berpulang dan cukup dikenal ialah Allo. Allo merupakan aplikasi pesan instan, mirip WhatsApp, yang dibuat Google untuk pengguna Android maupun iOS. Sama dengan kisah Google+, produk ini gagal memperoleh basis pengguna yang kuat. Akhirnya, per 12 Maret 2019, Allo resmi divonis mati dan digantikan Messages.

Mengapa Banyak Produk yang Mati?
Secara sederhana, produk buatan Google yang diluncurkan ke publik kemudian mati terjadi karena produk-produk itu sukar memperoleh basis pengguna. Google URL Shortener, Google+, dan Allo termasuk di antaranya.

Google URL Shortener gagal membendung berkuasanya Bit.ly di segmen pemangkas URL. Di masa-masa awal kemunculannya, pada 2010, sebagaimana diwartakan Techcrunch, Bit.ly menguasai 56 persen pangsa pasar. Kian tahun, angkanya kian meningkat. Salah satu keunggulan Bit.ly dan sukar disaingi Google URL Shortener adalah tersedianya fasilitas analisis atas URL hasil singkatan Bit.ly secara lengkap kepada penggunanya.

Keunggulan pangsa pasar dan fasilitas yang diberikan membuat Bit.ly digdaya dan berhasil mengangkangi Google URL Shortener.

Google+ alias G+ merupakan ambisi besar Google memenangkan pertarungan di dunia media sosial. Sebelum melahirkan G+, Google cukup sering merilis produk media sosial seperti Orkut (2004), Google Friend Connect (2008), hingga Google Buzz (2010). Sialnya, ketiga media sosial itu gagal.

G+ sendiri resmi meluncur pada pertengahan 2011. Bukannya sukses, hingga empat tahun beroperasi, G+ hanya memperoleh sekitar 100 juta pengguna. Di saat bersamaan, misalnya, Facebook sebagai saingan terbesar G+ telah memperoleh 1,2 miliar pengguna. Hari ini, Facebook setidaknya memiliki 1,5 miliar pengguna aktif, mengalahkan media sosial manapun.

Salah satu alasan utama kalahnya Google+ ialah produk ini tak memberikan fitur pembeda yang berarti dibandingkan Facebook. Akibatnya, tidak ada cukup alasan bagi pengguna untuk berpindah dari FB ke G+.

Allo, yang digadang-gadang akan sanggup menghantam WhatsApp, pun bernasib serupa. Meski Google menjadi pemilik Android dan bisa memaksakan Allo terpasang secara default, toh ini tak cukup kuat membendung WhatsApp. Hingga hari ini, ada 1,5 miliar pengguna aktif WhatsApp. Sementara Allo, hingga ajal menjemputnya, tidak pernah sampai memiliki 50 juta pengguna aktif.

Salah satu penyebab utama rendahnya pengguna Google URL Shortener, Google+, dan Allo adalah ketiga layanan tersebut terlambat hadir. Di masing-masing segmen yang hendak dimasuki produk-produk itu, sudah ada pemain-pemain yang lebih dahulu hadir dan telah mengakar digunakan masyarakat.

Bit.ly, Facebook, dan WhatsApp seakan-akan telah menjadi standar bagi masyarakat. Sukar digeser produk apapun, termasuk bikinan Google.(tirto)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS