29219 KALI DIBACA

Polisi Tangkap Pimpinan Pesantren Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap 15 Orang Santrinya

Polisi Tangkap Pimpinan Pesantren Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap 15 Orang Santrinya
example banner

MEDAN I Realitas – Tim Polres Lhokseumawe menangkap seorang pimpinan pesantren berinisial AI (45) dan seorang guru berinisial MY (26) di Lhokseumawe, Aceh.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta, menyebutkan keduanya (AI dan MY) ditangkap karena melakukan pelecehan seksual terhadap lima santri di pesantren yang berada di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Orangtua santri melaporkan kasus itu ke Mapolres Lhokseumawe pada 29 Juni 2019 dan 6 Juli 2019.

“Jadi ada dua laporan terhadap kasus pelecehan seksual itu,” kata AKBP Ari saat konferensi pers di Lhokseumawe, Kamis (11/7/2019).

Dia menyebutkan, pelecehan itu berupa oral seks yang diminta pada santri oleh pimpinan dan guru pesantren tersebut.

Mayoritas santri yang jadi korban adalah anak di bawah umur, berusia 13-14 tahun.

“Sejauh ini 15 santri yang teridentifikasi menjadi korban.

Namun yang sudah diperiksa itu lima orang.

Kita belum tau apa motifnya.

Tersangka sampai sekarang pun belum mengaku,” sebutnya.Dia menjelaskan, pelecehan seksual itu terjadi sejak September 2018 hingga tersangka ditangkap tiga hari lalu.

 

Awal mula terungkapnya kasus

Kasus itu terungkap setelah seorang santri melapor peristiwa memalukan itu pada orangtuanya.

Tidak terima atas tindakan pimpinan dan guru pesantren itu, orang tua langsung melapor ke Mapolres.

“Peristiwa itu terjadi di kamar pimpinan pesantren.

Caranya, pimpinan meminta santri membersihkan kamar atau tidur di kamar pimpinan.

Di sanalah peristiwa itu terjadi,” katanya.

Dia mengimbau seluruh orangtua santri lainnya melaporkan kasus itu jika anaknya menjadi korban.

“Kami imbau bagi keluarga santri, jika anaknya menjadi korban silakan lapor ke kita. Kasus ini terus kami dalami,” pungkasnya.

AI dan MY, masing-masing pimpinan dan guru pesantren di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, terancam hukuman cambuk sebanyak 90 kali.

Penyidik Polres Lhokseumawe menjerat kedua pelaku dengan Pasal 47 Qanun (peraturan daerah) Provinsi Aceh nomor 6/2014 tentang hukum jinayat.

“Dalam pasal itu disebutkan pelaku terancam 90 kali cambuk di depan umum atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara 90 bulan,” sebut Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Indra T Herlambang, Kamis (11/7/2019).

Dia menyebutkan, penyidik terus melengkapi berkas kasus pelecehan seksual tersebut.

“Korban lainnya juga akan kita periksa. Karena, sebagian rumahnya jauh. Jadi butuh waktu untuk pemeriksaan. Kita sudah periksa lima korban dulu,” kata AKP Indra.

Dia menyebutkan, tidak tertutup kemungkinan korban akan bertambah.

Karena itu, polisi terus mengimbau korban untuk melapor.

“Kita duga bisa jadi jumlah korban bertambah,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan AI dan MY ditangkap polisi atas dugaan pelecehan seksual terhadap santri di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Korban keduanya adalah para santri, yang mayoritas berusia di bawah umur yakni 13 tahun-14 tahun.

Kedua tersangka kini ditahan di Mapolres Lhokseumawe.

 

Diduga Cabuli Santri di Bawah Umur, Polisi Tangkap Pemilik Pesantren di Aceh Tengah

Sebelumnya kasus pencabulan serupa juga terjadi di Aceh Tengah.

Kasus tersebut pun mengejutkan warga.

Pencabulan terjadi terhadap seorang santriwati di bawah umur.

Korban masih berumur 15 tahun.

Terduga pelaku, seorang pemilik pesantren di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, berinisial AD.

Ia pun ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerkosaan terhadap santrinya sendiri, AS (15), pada Senin (25/2/2019) lalu.

Kasatreskrim Polres Bener Meriah, Iptu Wijaya Yudi Stira Putra mengatakan, AD ditetapkan sebagai tersangka kasus asusila tersebut setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi selama lebih kurang delapan jam di ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bener Meriah.

“Benar, kami telah menahan terlapor atasa nama AD, setelah yang bersangkutan memenuhi panggilan sebagai saksi” sebut Yudi.

“Delapan jam kita periksa, terlapor sempat memberi keterangan yang berbelit-belit, sehingga meyakinkan kita untuk mengubah status dari saksi menjadi tersangka,” kata Yudi kepada Kompas.com, Rabu (27/2/2019) lalu.

Yudi mengatakan, berdasarkan pengakuan korban, peristiwa itu terjadi pada Desember 2018, sekitar Pukul 14.30 WIB.

Sekitar pukul 10.00 WIB, korban yang berada di asrama pesantren dipanggil ke rumah AD yang merupakan pimpinan pesantren.

Tersangka menyampaikan informasi terkait undangan pelantikan santri nasional di Banda Aceh.

Korban diperintahkan untuk mengganti pakaian guna persiapan berangkat ke lokasi acara.

“Tanpa menujukkan undangan resmi, tersangka mengajak dan membawa korban tanpa di dampingi ustazah dalam satu mobil, yakni jenis Avanza warna putih milik tersangka,” jelas Yudi.

Dalam perjalanan, tersangka membuka video tak senonoh dan memerintahkan korban untuk menyaksikan.

“Korban dipaksa untuk menonton video tersebut, meskipun sudah ditolak oleh korban,” sebut Yudi.

Dengan rasa ketakutan korban menuruti kemauan pelaku hingga sampai di Kampung Arul Cincin, Dusun Enang-Enang, korban dibawa paksa ke dalam sebuah rumah kosong sekitar pukul 14.30,WIB.

Di dalam rumah kosong tersebut, tersangka memberikan air mineral dalam kemasan kepada korban untuk diminum dan setelah korban meneguknya, korban langsung tak sadarkan diri.

Saat itu lah tersangka melakukan tindakan pemerkosaan terhadap korban Yudi mengatakan, penetapan tersangka terhadap AD diperkuat dengan bukti visum yang dilakukan kepada korban.

“Selanjutnya terhadap tersangka, telah diamankan dan dititipkan sementara di Rumah Tahanan Negara Polres Bener Meriah guna dilakukan penyidikan lebih lanjut,” ujar Yudi.

Melansir rri.co.id, Kapolres Bener Meriah AKBP Fahmi Irwan Ramli Selasa malam (26/2/2019) melalui selulernya mengatakan, perkara itu ditangani setelah mendapat laporan dari keluarga korban pada awal Februari.

“Ditahannya malam kemarin, buktinya kuat. Hasil visum, selaput darah korban robek,” katanya.

Pelaku telah dijerat dengan Pasal 81 Ayat 1, 2, dan 3 juncto Pasal 76 huruf d UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman kurungan penjara maksimal 20 Tahun.(TRIBUN/Nrl)

 

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS