62019 KALI DIBACA

7 Pelajar ‘Fly’ Isap Zat Adiktif

7 Pelajar ‘Fly’ Isap Zat Adiktif
Foto: Sopian/Sumut Pos PAPARKAN: Kepala BNNK Tebingtinggi Bambang Rubianto memaparkan proses penggunaan dan peralatan serta ketujuh pelajar yang sudah mengkonsumsi zat adiktif tersebut.
example banner

SUMUT| MEDIA REALITAS – Gawat! Sebanyak tujuh pelajar, 4 orang di antaranya duduk dibangku SD dan 3 SMP mengkonsumsi zat adiktif agar bisa ’fly’. Parahnya lagi, alat isap yang digunakan dari fitting lampu listrik.
Itu terungkap saat pihak BNNK Tebingtinggi mengamankan ketujuh pelajar tersebut untuk dilakukan pembinaan, agar perilaku mereka tidak dicontoh pelajar lainnya.

Kepala BNNK Tebingtinggi, Bambang Rubianto SH menjelaskan, diamankannya ketujuh pelajar tersebut setelah menerima laporan para orangtua yang melihat anaknya mengisap zat adiktif tersebut. Selanjutnya, pihaknya pun memanggil para orangtua ketujuh pelajar untuk dimintai keterangan.

Menurut Bambang, ketujuh pelajar tersebut belajar dari orang dewasa yang bisa merusak generasi bangsa. Penggunaan zat adiktif model baru ini digunakan untuk merangsang otak hingga bisa mengakibatkan ’fly’ seperti orang mabuk. Dicontohkannya, seperti kondisi fly mengirup lem, bensin dan cat.

Dijelaskan Bambang, ketujuh pelajar tersebut menggunakan zat adiktif tersebut terlebih dahulu membeli fitting lampu listrik. Kemudian, memasukkan kapas yang dilumuri zat perasa seperti madu rasa, obat ketiak seperti Rexona, Sirup Kurnia dan Liqua. Selanjutnya, ditutup dan fitting lampu listrik ditutup menggunakan pulpen dan bawahnya dibakar hingga menimbulkan panas. Adanya penguapan pembakaran, maka akan menimbulkan senyawa kimia berupa asap.

“Asap itulah yang dihisap para pelajar. Awalnya tak enak, namun lama kelamaan akan menimbulkan fly,”jelas Bambang, Jumat (20/10).

Agar tidak dicontoh pelajar lainnya, lanjut Bambang, pihaknya pun memanggil pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Tebingtinggi, dengan tujuan untuk memberikan imbauan kepada pelajar agar tidak meniru hal yang sama.

Begitu juga kepada orangtua, tambah Bambang, agar lebih meningkatkan pengawasan kepada anak-anaknya. ”Apalabila menemukan dan mencurigai perubahan tingkah laku anak yang berubah, segera melapor ke BNNK Tebingtinggi,”pinta Bambang.

“Kita harus menyikapi temuan ini agar tidak terulang kembali. Kepada pihak sekolah untuk terus melakukan imbauan atas bahaya menggunakan zat aditif lainnya, karena bisa mengganggu kesehatan anak dan merusak masa depannya,”sambungnya.

Salah seorang pelajar perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar, mengaku mengisap zat adiktif tersebut setelah dipaksa kakak kelasnya. “Awak dipaksa untuk isap alat itu oleh kakak kelas, tapi aku tak mau dan bilang sama orangtuaku,”bilang pelajar perempuan yang masih SD itu.

Sedangkan tiga pelajar SMP yang diamankankan itu mengaku mengisap zat adiktif itu dari temannya yang sudah pindah ke Siantar.

Diakuinya, awalnya mendapatkan ilmu untuk membuat alat isap dari fitting lampu listrik dan menggunakannya terasa tidak enak. Namun ketika perasa diganti menjadi enak. “Enak pak, tapi saya ketahuan orangtua ketika mengisapnya di kamar,”terangnya. (spc/red)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS