53719 KALI DIBACA

Dewan Kota Beri Masukan Pemko Medan Tata Ruang Terbuka Hijau Publik

Dewan Kota Beri Masukan  Pemko Medan Tata Ruang Terbuka Hijau Publik
Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi diwakili Asisten Umum (Asmum) Setdakot Medan, Ikhwan Habibi Daulay membuka Focused Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Dewan Kota Medan di Hotel Dharma Deli Jalan Balai Kota Medan, Kamis (16/6).
example banner

mediarealitas | Medan

            Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi diwakili Asisten Umum (Asmum) Setdakot Medan, Ikhwan Habibi Daulay membuka Focused Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Dewan Kota Medan di Hotel Dharma Deli Jalan Balai Kota Medan, Kamis (16/6). FGD ini digela rdalam rangka memenuhi ketetapan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, terutama yang terkait dengan ketentuan Ruang Terbuka Hijau Publik.

            Diskusi ini mengusung tema, “Upaya Penambahan Ruang Terbuka Hijau di Kota Medan”  dengan menghadirkan dua nara sumber yakni Dewi Budiati Teruna Jasa Said selaku praktisi lingkungan dan Kadis Pertamanan Kota Medan dengan moderator Drs H Afifuddin Lubis MSi . Sedangkan pesertanya berasal dari seluruh pimpinan SKPD dan camat se-Kota Medan.

            Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asmum, Wali Kota menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dewan Kota Medan, atas digelarnya FGD tersebut. Sebab, hasil FGD ini akan menjadi bahan masukan bagi Pemko Medan dalam peningkatan pembangunan secara lebih efektif, khususnya penataan ruang terbuka hijau public.

            “Melalui FGD ini, saya berharap akan lahir ide-ide kreatif dalam upaya penambahan ruang terbuka hijau, sehingga tercapainya peningkatan kuantitas dan kualitas ruang terbuka hijau Kota Medan,” kata Ikhwan.

            Dikatakan Ikhwan, tantangan pembangunan kota saat ini semakin kompleks disertai dengan munculnya parameter perubahan iklim, memberikan berbagai implikasi dalam kebijakan pembangunan kota, untuk mempertimbangkan secara lebih seksama berbagai gagasan yang lebih komprehensif melalui aksi konkret, guna mengantisipasi perubahan iklim.

            “Tidak ada pilihan bagi kita, jika ingin menjamin keberlanjutan pembangunan, maka program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus menjadi prioritas pokok, yang dilaksanakan secara sinergis dan konsisten,” ungkapnya.

            Pemko Medan bilang Ikhwan, sudah melakukan berbagai langkah awal menuju Medan Kota Hijau, diantaranya menempatkan isu RTH sebagai salah satu mainstream dalam pembahasan anggaran bersama DPRD. Kemudian, mengoptimalkan pembiayaan melalui APBD guna menambah kuantitas RTH baru, merefungsi RTH eksisting serta mendorong trend pembangunan RTH pada atap-atap bangunan menjadi roof garden.

            Sebagai nara sumber, Dewi Budiati Teruna J Said dalam FGD itu menyampaikan, dampak dari buruknya kualitas udara dan buruknya kualitas lingkungan berperan besar membentuk karakter masyarakat yang berpengaruh pula terhadap aspek sosial, ekonomi, budaya, daya fikir dan kesehatan masyarakat.

            Itu sebabnya tegas Dewi, RTH tidak dapat diartikan semata-mata kumpulan atau penanaman berbagai jenis tanaman penghijaian belaka. RTH pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan dan aktifitas tertentu dari warga setempat ataupun secara berkelompok. Di samping itu RTH juga memperbaiki kualitas lingkungan yang semakin hari semakin mengalami degradasi memprihatinkan mengancam ketersediaan air bersih.

            “Intinya RTH merupakan alternative terbaik upaya recovery fungsai ekologi kota yang semakin hari semakin terkikis. Untuk itu RTH wajib menjadi perhatian pelaku pembangunan sebelum memberikan izin-izin pembangunan. Artinya, harus diketahui mana jalur hijau dan wilayah serapan air maupun mana yang layak untuk ruang terbangun,” papar Dewi.

            Atas dasar itulah Dewi mengusulkan, RTH idealnya lebih bersifat terbuka dan didominasioleh tanaman yang tumbuh secara alami dan mempunyai fungsi hidro-orologis. Kemudian, memiliki nilai estetika, lokasi wahana kegiatan bersantai, olahraga ringan dan pendidikan lingkungan sekaligus mempertautkan silaturahmi bagi masyarakat.

            “RTH sedapatnya mampu menciptakan karakter masyarakat kota, sekaligus mampu sebagai peredam sikap brutal masyarakat yang maverick dan nononkonformis akibat buruknya kualitas lingkungan, tekanan ekonomi dan berbagai hal yang mendorong sikap depresi,” jelasnya.

            Sedangkan Dr Ir Budi D Sinulingga MSi selaku Koordinator Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Infrastuktur Dewan Kota Medan mengatakan, kota hijau bukan semata-mata terbatas pada RTH, namun juga penataan ulang kota yang menyangkut perencanaan dan desain, transportasi, limbah, air besih, energ, dan bangunan yang ramah lingkungan.

            “Beberapa langkah dalam mewujudkan kota hijau ialah dengan mengurangi laju urbanisasi, mengurangi emisi CO2 melalui kegiatan hemat energi serta menambah kapasitas penyerapan CO2 melalui pembangunan RTH” ujarnya.

            Sebelumnya Prof Dr H Syahrin Harahap MA selaku Ketua Penyelenggara berharap, agar seluruh peserta dalam FGD ini dapat  mendiskusikan mengenai ruang terbuka hijau di Kota Medan, sehingga hasil diskusi tersebut dapat dijadikan sebagai masukan terhadap Pemko Medan dalam penataan ruang terbuka hijau publik.

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS