44419 KALI DIBACA

RUU KUHP Tidak Tampung Aspirasi Hukuman Mati Bagi Pemerkosa

RUU KUHP Tidak Tampung Aspirasi Hukuman Mati Bagi Pemerkosa

Jakarta | mediarealitas

Korban perkosaan bisa mengalami trauma psikologis seumur hidup. Tetapi dalam rancangan KUHP tidak memberikan pilihan vonis mati atau penjara seumur hidup bagi pelaku perkosaan.

RUU KUHP ini diserahkan Presiden Jokowi ke DPR pada awal Juni 2015. Rumusan perkosaan ini diatur dalam Pasal 491 dengan memberikan ancaman penjara minimal 3 tahun dan maksimal 12 tahun penjara. Hukuman pemerkosaan maksimal menjadi 15 tahun asalkan korban luka berat atau meninggal dunia.

“Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud Pasal 491 mengakibatkan luka berat atau mengakibatkan matinya orang maka pembuat tindak pidana dipidana dengan penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun,” demikian bunyi pasal 491 ayat 3 Rancangan KUHP seperti dikutip detikcom, Minggu (9/8/2015).

Sebagaimana diketahui, aspirasi hukuman maksimal bagi pemerkosa terus bergema. Didi Irawadi saat menjadi anggota DPR mengusulkan hukuman penjara seumur hidup bagi pelaku perkosaan.

“Seharusnya, pelakunya perlu diganjar pidana penjara seumur hidup sehingga dapat memberikan efek jera bagi pelaku. DPR harus segera merevisi pasal pemerkosaan di KUHP,” kata Didi.

Sementara itu, Wakil Ketua Komnas Perempuan, Masruchah, mengatakan para pelaku perkosaan harus dihukum penjara seumur hidup.

“Para korban menderita trauma hingga seumur hidup. Korban pun meminta dan berharap pelaku juga dihukum hingga seumur hidup karena 12 tahun penjara masih dirasakan kurang,” ujar Masruchah.

Tidak hanya itu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, menggagas gebrakan yaitu mengusulkan hukuman memutus urat syaraf libido bagi pemerkosa. Hal ini mengingat tingginya kasus perkosaan masuk taraf mengkhawatirkan. Dalam siaran pers Komnas Perempuan yang dirilis November 2014 lalu, disebut telah terjadi 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2013. Kasus didominasi kekerasan seksual. Baik dilakukan orang dekat korban, keluarga maupun lingkup pergaulan dan guru di sekolah.(dtk)

Subscribe

MEDIA REALITAS